Senin, 25 Juni 2012

LIE TO ME (dimuat dalam buku "Kopi Hujan Pagi: Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf")


If you don’t love me lie to me
Cause baby you’re the one thing I believe
Let it all fall down around us
If that’s what meant to be
Right now if you can’t love me baby
Lie to me...

Lagu Bon Jovi itu menggema di kamar Robby. Entah mengapa dia suka sekali dengan lagu itu. Dia memang sangat mengidolakan Bon Jovi. Lagu-lagu Bon Jovi pulalah yang selalu menemani hari-harinya yang sepi.

I wanna lay you down in the bed of roses
For tonight I sleep on the bed of nails
I wanna be just as close as the Holy Ghost is
And lay you down on the bed of roses...

            Bed of Roses menjadi pengantar tidurnya. Tak pernah ada ucapan “selamat tidur” dari orang tuanya karena memang mereka tidak pernah ada di rumah. Papa sedang di Los Angeles, mama di Perth. Dia hanya anak tunggal yang kesepian. Para gadis pun hanya numpang lewat dalam hidupnya. Numpang tidur di kamarnya satu malam, untuk malam berikutnya diganti dengan gadis lain. Terkadang di hotel, vila, atau tempat manapun yang dia mau. Sesukanya… Karena wanita baginya hanya untuk sekali pakai. Itu yang dia pelajari dari mamanya, dari sikap mamanya. Ditemani satu, dua, tiga atau bergelas-gelas Long Island, dia melewati setiap malam dalam kehampaan.
            Hanya ada satu orang yang peduli padanya. Bi Hasnah, pembantunya. Dialah yang merawat Robby sejak baru lahir. Robby pulalah yang membuat Bi Hasnah bertahan di rumah yang tak pernah dihiasi dengan kasih sayang itu. Bahkan berkumpul pun nyaris tak pernah. Robby juga menganggap wanita paruh baya berpenampilan sederhana itu sebagai ibunya, sedangkan mamanya hanya dia anggap tante girang yang kebetulan satu rumah dengannya.
“Kamu ndak boleh gitu, Nak... Bu Vera itu mamamu. Bibi tahu betul gimana dia dulu melahirkan kamu. Dia kesakitan, Nak.. Makanya dia harus dioperasi. Dan karena itu juga dia ndak berani lagi punya anak. Kamu dosa lho kalau durhaka sama beliau..” Dengan logat Jawanya yang kental, berulang kali Bi Hasnah menasihati Robby agar mau menghormati orang tuanya, terutama mamanya.
“Bi Hasnah mamaku, bukan dia...” Kecut nada suaranya.
Bi Hasnah merasa tak patut berkata banyak lagi. Dia hanya mengelus kepala Robby yang berbaring di lantai, tepat di sampingnya.
            Sudah seminggu lebih Bi Hasnah sakit parah. Tapi Bi Hasnah tidak mau dibawa ke rumah sakit. Dipanggilkan dokter ke rumah pun dia menolak. Dia takut melihat dokter. Hanya dikompres-kompres oleh Ipah, anaknya yang juga turut membantu-bantu di rumah itu. Robby menjadi cemas bukan main. Dia semakin kesepian sejak Bi Hasnah sakit. Dia tidak begitu dekat dengan Ipah. Mama, yang kebetulan sedang tidak keluar kota, juga cemas. Bukan apa-apa. Jika tidak ada Bi Hasnah, siapa yang kan mengurus segala keperluan di rumah. Ipah tidak terlalu bisa diharapkan seperti emaknya. Dia kurang rajin dan tidak secekatan Bi Hasnah. Masakan juga kurang enak.
            Bi Hasnah tidak dapat ditolong lagi. Terakhir kali saat dia sudah sangat parah dan tak sadarkan diri, mama memanggil dokter keluarga ke rumah untuk memeriksa Bi Hasnah. Kata dokter itu, Bi Hasnah kena demam berdarah namun sudah stadium tinggi sehingga kemungkinan tertolongnya sangat kecil. Dan memang esoknya, Bi Hasnah berpulang untuk selamanya.
Semua penghuni rumah tentu saja bersedih, bahkan papa pun pulang dari LA, meninggalkan urusan bisnisnya yang selama ini menjadi nomor satu melebihi istri dan anaknya. Namun yang paling sedih bukannya Ipah, anak Bi Hasnah, melainkan Robby. Berhari-hari Robby berkurung di dalam kamarnya, yang tentu saja juga bolos dari kuliahnya.
Setelah tiga hari tiga malam “bersemedi”, Robby mulai lapar dan bosan. Di rumah hanya ada mama dan Ipah. Robby muak melihat mereka. Dia berniat minggat. Mama melihatnya bersiap-siap dan bertanya, “Mau kemana, Robby?”
Robby bungkam. Mama mendekatinya, “Tadi malam mama ditelepon Tante Widya, Sekretaris Jurusanmu yang teman mama itu. Katanya kamu sering tidak masuk kuliah tanpa alasan, dan pernah ditemukan mesum di sanggar musik di kampusmu. Kamu jangan bikin malu mama dong, Sayang...”
“Apa peduli Anda? Bukannya pekerjaan itu yang juga Anda lakoni...? Menjual tubuh demi kehidupan mewah yang Anda cari..? Suami dan anak hanya pelepas status..”
Sebuah tamparan mendarat di pipi Robby. “Anak durhaka..!!”
Robby melotot ke mamanya, menaiki Ninja-nya, menyemburkan, “Pelacur!!”, dan melarikan Ninja-nya dengan kesetanan.
            Dia mengarahkan motornya menuju “Markas Besar”, tempat dia biasa nongkrong dengan teman-temannya untuk mabuk, nyandu, atau pesta orgy. Dua minggu dia tidak pulang dan selama itu pula dia tidak masuk kuliah. Tapi, di markas pun dia sudah mulai bosan, sering bertingkah, sehingga menimbulkan pertengkaran dengan teman-teman satu genk-nya. Puncaknya, dia cabut dari markas itu. Kini Robby benar-benar tidak tahu tujuannya. Dia berziarah ke pusara Bi Hasnah. Disana dia berdoa dan mencurahkan seluruh isi hatinya seolah-olah berbicara pada Bi Hasnah. Setelah itu dia berkeliling kota tanpa tujuan. Bahkan dia sudah melewati batas kota dan kini berada di pinggiran kota yang lebih sepi.
            Malam tiba, Robby merasa lelah. Tapi dia tak tahu mau kemana. Akhirnya dia tidur di emperan sebuah toko. Dia tidur di lantai, di samping Ninja-nya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Robby tertidur sampai pagi.
            Robby terbangun karena mendengar suara pintu toko dibuka. Dilihatnya seorang gadis sedang membuka pintu toko itu. Gadis itu memandangnya dengan cemas.
“Maaf..., saya harus membuka pintu ini...” ujar gadis itu takut-takut.
“Silahkan! Apa saya mengganggu?” Robby bertanya ramah.
“Tidak. Ini motor kamu?” Gadis itu tak setakut tadi.
“Iya. Ini toko kamu ya?”
“Ya, punya ayahku.”
“Toko apa ini?” Robby mengintip sedikit ke dalam.
“Toko makanan dan minuman ringan.”
“Oya, kita belum kenalan. Aku Robby. Kamu siapa?” Robby mengulurkan tangannya.
“Lily,” Gadis itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Dia sudah merasa sedikit aman sekarang. “Kalau boleh tahu, mengapa kamu bisa sampai disini?”
“Aku kabur dari rumah.”
“Oh..., maaf...”
“Tidak apa.” Robby tersenyum.
            Lily kasihan melihat keadaan Robby yang tidak punya tempat tinggal. Dia meminta kedua orang tuanya untuk mengizinkan Robby tinggal di toko mereka untuk beberapa saat hari. Kebetulan toko mereka juga sedang membutuhkan seorang penjaga karena penjaga yang lama sudah keluar. Robby dipekerjakan disana dan mendapat sebuah kamar kecil.
            Hubungan Robby dan Lily semakin akrab. Bagi Robby, hanya Lily dan kedua orang tuanya yang baik hati itu yang menjadi tempatnya mengadu kini. Hanya merekalah orang-orang yang dicintai dan dipercayainya. Rasa percayanya pada orang lain sudah hilang sejak Bi Hasnah meninggal dan pertengkarannya dengan teman-teman satu genk. Tak ada seorang pun yang dipercayainya. Tapi setelah bertemu Lily dan orang tuanya, rasa percayanya berangsur-angsur pulih. Dia tidak lagi menganggap semua orang sebagai setan yang akan menghancurkan hidupnya.
            Lama-kelamaan Robby merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Lily. Dia mencintai gadis ayu itu. Rasa yang tak pernah tumbuh pada gadis lain sebelumnya yang sudah belasan orang ditidurinya. Saat mendapat waktu yang tepat, dia mengutarakan perasaannya pada Lily.
“Li, aku mencintaimu. Aku ingin hubungan kita ini lebih dari sekarang. Maukah kamu jadi pacarku? Atau kalau kamu tidak mau pacaran, kita langsung nikah saja. Aku berani. Aku akan bicara langsung dengan ayah dan ibumu. Kamu mau kan, sayang?”
Lily tertegun. Apa yang selama ini ditakutinya teryata terjadi juga. Dia tahu dan bisa merasakan cinta Robby padanya. Sebenarnya dia tidak terlalu suka pada Robby. Dia memang menyayangi Robby, tapi rasa sayangnya hanya sebatas adik dan kakak. Dia tidak dapat membayangkan Robby menjadi suaminya. Tapi di sisi lain dia juga kasihan pada Robby dan tidak tega menolak cinta Robby. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia tak berani menatap wajah Robby.
“Bagaimana, Lily?” desak Robby.
Lily melirik Robby, kemudian tertunduk lagi.
“Aku tahu kamu bingung menghadapi ini. Aku tahu kamu tak memiliki perasaan yang sama dengan perasaanku padamu. Namun kumohon, tolonglah terima aku. Kalau kamu tak mencintaiku, berbohonglah... Katakan saja kamu mencintaiku. Kamu satu-satunya gadis yang bisa kupercaya. Aku mempercayaimu karena semua yang telah kamu lakukan padaku selama ini. Kamu telah memperlakukanku dengan baik, sangat baik. Perlakuan yang tak pernah aku terima dari orang lain, bahkan dari orang tuaku sendiri.” Wajah Robby sungguh memelas. Lily tak sanggup menahan air matanya.
“Kumohon, Li, tolonglah aku..! Belajarlah untuk mencintaiku...”
            Kali ini Lily  memberanikan diri menatap Robby. Akhirnya, “Robby, aku berjanji akan belajar mencintaimu, tapi dengan satu syarat...”
“Apa itu?”
“Berjanjilah untuk menepatinya!”
Robby diam sejenak, lalu, “Baik, aku berjanji..”
Lily menatapnya dan berkata, “Temui kedua orang tuamu dan minta maaflah pada mereka..”
            Robby tertegun. Sungguh berat syarat yang diajukan Lily, tapi dia sudah terlanjur berjanji. Dia bahkan sudah nyaris lupa dengan rumahnya. Dia sama sekali tidak pernah mendengar kabar tentang kedua orang tuanya. Tapi Lily memang benar. Dia harus mendatangi kedua orang tuanya. Bagaimanapun mereka mengabaikannya, tapi mereka tetap orang tua kandungnya.
            Begitu ada waktu luang, Robby pergi ke arah kota, menuju rumah yang dulu pernah ditempatinya. Dia juga tidak tahu apakah kedua orang tuanya dan Ipah, pembantunya yang anak Bi Hasnah itu, masih tinggal disitu. Hari menjelang sore saat dia tiba di rumah itu. Masih ada, masih seperti dulu, hanya saja sudah lebih lusuh, seperti rumah yang tidak berpenghuni. Tapi di depan rumah ada sebuah BMW terparkir. Mobil yang biasa dipakai papanya bepergian. Mungkinkah papanya sedang ada di rumah?
            Robby berjalan ke teras. Pintu depannya sedikit terbuka. Robby mengintip ke dalam. Dia mengucap salam, tidak ada yang menjawab. Tiga kali mengucap salam, tetap tidak ada sahutan. Dia memberanikan diri untuk masuk. Tidak ada yang berubah dari interior rumah itu, tapi Robby merasa asing. Robby terus masuk ke ruang tengah. Terdengar suara televisi yang sedang dinyalakan, tapi tidak ada seorang pun yang sedang menonton. Terdengar suara tawa manja seorang wanita dari arah kamar utama yang berada di dekat ruang televisi. Robby berjalan dengan ragu-ragu ke arah kamar itu. Dia tidak ingin menganggu apalagi dikira maling, tapi dia juga penasaran dengan orangnya. Siapa yang sedang bercengkerama di kamar orang tuanya itu? Suara wanita itu terlalu muda untuk ukuran suara mamanya. Mengendap-endap Robby mendekati kamar itu. Pintunya sama seperti pintu ruang tamu, terbuka sedikit. Suara wanita itu semakin jelas, dan tawa makin keras dan makin manja. Sekilas Robby melihat punggung lelaki setengah baya. Seperti sosok papanya. Lelaki itu nyaris tak berbusana. Sekilas tampak juga olehnya sosok wanita yang sedang terbaring diatas tempat tidur dengan tubuh yang juga nyaris tak berbusana dan hendak ditindih tubuh lelaki itu. Entah mengapa firasat Robby mengatakan itu bukan mamanya. Setengah tak sadar dia membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Suara pintu yang terkuak membuyarkan konsentrasi dua insan yang hendak menuntaskan hasrat primitifnya. Lelaki itu membalikkan badan. Papanya ternganga menatapnya. Wanita itu pun mengangkat tubuhnya yang sudah terhampar itu dan memandang ke arah pintu. Mata mereka beradu. Dan seketika Robby merasa petir menyambar tubuhnya...
“ROBBY..!! Ya Tuhan..!” Lily menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Papa Robby terlalu kaget untuk bertanya apa yang terjadi. Robby langsung melesat keluar, menaiki Ninja-nya yang setia, hanya Ninja itu satu-satunya yang setia padanya, mengendarainya nyaris tanpa kesadaran, dan akhirnya benar-benar tak sadarkan diri setelah bunyi klakson mobil dan benturan keras.

(Suatu hari antara tahun 1996 – 1998)

Kamis, 31 Mei 2012

DONGENG WILD WEST (dimuat di Majalah Sagang Edisi September 2011)


Aku berjalan menyusuri padang pasir luas tanpa batas di bawah teriknya matahari gurun. Tas yang kusandang di bahu terasa semakin memberatkan. Tempat minumku tinggal berisi setengah. Entah sampai kapan aku bisa bertahan. Padang pasir masih belum tentu ujungnya, sementara penderitaanku pun tak kunjung reda.
Beberapa langkah kemudian, tempat minumku sudah kosong. Aku sudah pasrah dengan keadaanku. Entah siapa yang akan menemukanku terbujur kaku di padang pasir yang tak bersahabat ini. Inikah Llano Estacado? Akankah aku mati sia-sia di gurun ini?
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda di kejauhan dari arah belakangku. Kuda..? Kalau ada kuda, seharusnya ada penunggangnya. Semoga saja! Tapi dari mana datangnya? Tak mungkin dia datang begitu saja tanpa asal. Tapi bagiku itu tak masalah. Yang penting ada seseorang yang bisa membantuku, paling tidak untuk menambah persediaan airku. Lagipula aku tidak berani menumpang dengan orang lain. Entah dia jahat atau baik, siapa yang tahu.
Derap kaki kuda itu semakin jelas terdengar. Debu mengepul di udara. Aku terus berjalan sambil menutup hidung dan mulut agar tidak kemasukan debu. Akhirnya kuda itu berhenti di sampingku. Masih sambil menutup hidung dan mulutku, aku memandang penunggangnya dengan mata menyipit untuk menghindari masuknya debu. Seorang koboi bertampang angkuh memandangku dari atas kudanya. Dengan kemeja polos berwarna coklat muda plus rompi kulit berwarna coklat tua, dipadu jins coklat tua dilapisi kulit pelindung kaki berwarna krem kumal, ditambah topi koboi berwana krem serta syal merah, dan tentu saja sepatu koboi lengkap dengan tajinya, koboi itu tampak begitu gagah. Selama beberapa saat kami hanya berpandangan. Matanya yang biru kelam bersinar penuh pesona. Rambutnya yang coklat muda agak kepirangan hampir tidak kelihatan di balik topi koboinya karena dipotong pendek.
Beberapa saat kemudian, “Perlu bantuan?” dia bertanya dengan aksen barat daya yang kental. ‘Wow!’ batinku. “Kalau tak keberatan,” jawabku singkat. Aku tak bisa terlalu banyak bicara, kerongkonganku sudah kering.
“Kenapa harus keberatan?” balasnya sambil membentuk senyum manis di bibir tipisnya yang justru malah menambah kesan gagah itu. Kemudian dia turun dari kudanya dan berkata, “Naiklah!”
            Dengan agak ragu, aku menatapnya. Koboi-koboi seperi ini sulit dipercaya untuk mau membantu orang lain di daerah barat liar ini. Mereka terlalu licik untuk dipercaya. Melihatku yang tampak ragu, dia tertawa, “Kenapa? Takut? Kau tidak capek? Masih sanggup melanjutkan perjalanan dengan matahari seterik ini? Aku tahu kau tidak percaya padaku. Aku tahu kau takut disakiti. Tapi percaya sajalah... Aku takkan menyakitimu. Naiklah sekarang! Kita tidak punya banyak waktu..”
            Aku masih berusaha mempertahankan diri. “Sebenarnya aku hanya ingin meminta sedikit air untuk mengisi tempat minum ini,” ujarku menjelaskan.
Dia menghela nafas, “Nona, kurasa kau takkan bisa bertahan hidup hanya dengan berbekal tempat minum sekecil itu. Lagipula aku tak bisa memberimu air sekarang. Aku sendiri sudah kehabisan air. Kalau mau air, bisa kau ambil di pondokku. Dan untuk itu kau harus kuantar kesana. Sama saja kan?”
Karena merasa tak punya pilihan lain, akhirnya aku mengalah. “Baiklah, aku akan ikut denganmu.” Aku naik ke atas kuda, disusul olehnya yang duduk di belakangku. Sebelum berjalan, dia masih memandangku dari samping. Aku bisa merasakannya karena jarak wajah kami dekat sekali. Darahku serasa berhenti mengalir, atau mungkin justru mengumpul di wajah.
Kami berjalan lambat-lambat. Dengan beban dua orang seperti ini, kuda akan kelelahan jika disuruh berlari. Koboi itu berusaha membuka percakapan, “Kau dari mana?”
“Dari selatan..”
“Bagaimana kau bisa sampai kesini? Aku tak percaya gadis secantikmu berani mengembara di daerah padang pasir yang buas ini. Terus terang, sebenarnya kau sangat beruntung bertemu denganku. Kalau bertemu dengan yang lain, entahlah... Mungkin kau takkan bisa menghirup debu padang pasir ini lagi. Oya, ngomong-ngomong siapa namamu? Aku baru sadar kalau kita belum berkenalan.”
“Aku Dixie.”
“Hmm.., sesuai dengan asalmu. Aku Drake. Senang berkenalan denganmu. Semoga kau menikmati perjalanan ini.”
“Sama-sama. Kurasa aku memang beruntung bertemu denganmu. Terima kasih atas bantuanmu.”
“Hei, jangan terburu-buru, Nona! Kita belum sampai di pondokku. Kalau sudah sampai nanti, kau akan lebih senang lagi. Aku yakin kau pasti akan tertarik dengan Red Wolf. Mungkin dia agak kurang ramah, tapi sebenarnya dia baik.”
            Red Wolf? Kedengarannya seperti nama orang Indian. Benarkah? Asyik juga kalau benar orang Indian! Sudah lama aku ingin berteman dengan orang Indian. Kata orang, berteman dengan orang Indian berarti mendapat teman sejati seumur hidup, bermusuhan dengan orang Indian berarti menggali kubur sendiri. Dan betapa beruntungnya aku jika memang bisa berteman dengan orang Indian.
            “...kau juga boleh bermalam disana, kalau kau tak keberatan. Mau kan?” Aku terkejut. Tak kusangka Drake masih terus bicara sementara aku termenung tadi. Aku tak tahu apa yang dikatakannya.
“Mau kan, Dix?” ulangnya lagi.
“Eh, mmm..., maaf! Aku tak mendengarku. Kau bilang apa tadi?”
“Aku bilang, sebentar lagi kita sampai di pondokku. Kau bisa mengambil air disana, bahkan makanan juga bisa. Dan kalau kau kemalaman, kau bisa bermalam disana, walaupun tempatnya agak sedikit menyedihkan. Sudah jelas kan?”
Aku tertawa, “Ya..ya.., aku mengerti! Aku bahkan tak sabar lagi ingin cepat sampai disana.”
“Tenang, Nona manis! Hanya tinggal beberapa meter lagi,” sahutnya.
            Tak lama kemudian mulai tampak pepohonan dan rerumputan. Kami pun memasuki hutan kecil itu. Tak jauh dari hutan itu terlihat sebuah pondok dengan berukuran sedang, berdiri di tengah padang rumput yang luas. Ahh...! Aku menarik nafas lega. Akhirnya tiba juga kami di pondok surga. Bisa disebut begitu dengan keadaanku saat ini. Lapar, haus, capek, ngantuk, gerah. Apalagi yang kubutuhkan saat ini selain tempat beristirahat.
“Nah, itu pondokku!” ujar Drake memecah keheningan kami selama ini. “Tidak terlalu istimewa, tapi bisa memberimu cukup kepuasan.”
“Aku tak perlu yang istimewa. Yang kubutuhkan sekarang hanya air, makanan, dan tempat tidur. Kalau bisa mandi lebih bagus lagi.”
“Semuanya sudah tersedia, Tuan Putri! Kami siap melayani Anda,” jawab Drake nakal. Aku tertawa mendengar gurauannya. Jarang-jarang ada koboi bisa bercanda...
            Akhirnya kami benar-benar tiba di depan pondok itu. Di sampingnya, terpisah dari bangunan pondok, terdapat kandang kuda dan tempat pengumpulan kuda dengan pagar kayu di sekelilingnya. Lingkaran yang dibentuk dari pagar kayu itu terbilang cukup besar, menandakan cukup banyaknya kuda yang ada, mungkin bisa memuat lebih dari dua puluh ekor kuda, tergantung besarnya. Tapi walaupun tempat itu lebar, tak ada satupun kuda di dalamnya. Mungkin mereka masih merumput, pikirku. Tapi dimana? Dan siapa yang menjaga mereka?
            “Ayo, turun, Dix! Aku akan mengandangkan kuda ini dulu. Kalau kau ingin melihat-lihat juga boleh. Kuda masih merumput bersama Red Wolf.”
            Ternyata dugaanku benar, kuda-kuda masih merumput, dan dijaga oleh Red Wolf. Seorang Indian menjaga kuda..? Well.., apa salahnya? Aku melihat-lihat sekeliling. Asyik juga tempat ini, jangan-jangan aku malah betah disini!
            “Dix, kalau mau mandi ada tempat mandi di belakang. Tidak terlalu baik untukmu, tapi aku janji tidak akan mengintip,” tiba-tiba Drake sudah muncul sambil cengengesan.
Aku tertawa, “Coba saja kalau berani, kau akan merasakan tinjuku...”
“Oya? Kurasa aku malah ingin mencobanya...” balas Drake sambil tertawa juga.
            Aku masuk ke dalam pondok, disusul oleh Drake. Perabotan di dalam pondok itu tidak banyak. Hanya ada sebuah meja makan sederhana dari kayu dengan lima kursi di sekelilingnya. Juga ada sebuah dipan kecil untuk tempat istirahat. Selain ruang depan yang mungkin bisa dianggap sebagai ruang tamu itu, ada dua ruangan lagi yang kemungkinan kamar tidur.
            “Dix, kemarilah!” panggil Drake dari kamar yang terletak agak di belakang. “Kamar ini memang kami khususkan untuk orang-orang yang ingin bermalam, jadi disinilah tempatmu. Simpan perlengkapanmu disini!” Aku mengangguk. Tanpa bicara lagi, Drake segera keluar entah kemana.
Aku terpaku sejenak di dalam kamar itu. Disitu ada sebuah dipan kecil untuk tidur, sebuah lemari kecil dengan cermin di pintunya yang hanya bisa menampakkan bagian kepala dan leher saja. Lumayanlah, batinku. Kubuka pintu lemari itu. Ciiiit....! Bunyi engsel pintu lemari itu menandakan dia tidak pernah dibuka. Dan..., puah...! Debunya minta ampun. Kubatalkan niat ingin meletakkan tas di dalamnya.
Aku ke belakang, mau mandi. Sudah berapa hari aku tak mandi, ya? Menjijikkan! Kamar mandi itu pun juga darurat. Tapi lumayanlah sekedar untuk mengikis debu dan daki yang sudah lengket di badanku. Selesai mandi, aku ke kamar. Sedikit mengemasi badan dengan perlengkapan seadanya.
Menjelang sore, aku menghabiskan waktu dengan makan dan beristirahat di kamar. Empuk juga kasurnya. Aku sempat tertidur sampai kudengar ringkikan kuda di dekat jendela kamar. Kuintip dari dalam. Kulihat sosok tegap berpakaian jumbai dari kulit, berambut lurus sebahu, memakai ikat kepala merah,  dan pada ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit bison, terselip sebuah tomahawk, kapak khas orang Indian. Red Wolf? Siapa lagi..? Seketika dia membalikkan badan. Segaris wajah asli Indian terlukis disana. Dengan hidung seperti paruh burung, mata menjorok ke dalam dan bersorot tajam, alis yang menonjol keluar, serta rahang persegi yang keras. Aku terpaku memandangnya. Benar-benar Indian sejati!
“Sedang menikmati sempurnanya sosok itu?” Aku dikejutkan oleh suara di belakangku. Drake! Aku sampai tak menyadari kedatangannya karena terpesona melihat Red Wolf. Aku berbalik dan menjawab, “Tidak juga. Hanya mencari kebaikan di wajah keras itu.”
“Kau tak perlu meragukan itu. Dia orang paling baik dan tulus yang pernah kukenal. Aku tak pernah percaya pada orang lain seperti rasa percayaku padanya. Percayalah, kalau kau bersahabat dengannya, maka dia akan menjadi pelindungmu yang paling setia.”
            Begitukah? Aku membalikkan badan lagi, kembali memandangi lelaki Indian itu. Drake keluar menemuinya. Aku memperhatikan mereka berdua. Keduanya sama-sama berkharisma, namun dengan tipe yang berbeda. Hmm.., pilihan yang sulit...
            Tak lama kemudian mereka menghilang, lalu terdengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pintu dan kedua sosok yang membuatku bingung memilih itu kini berada di hadapanku. Keduanya menatapku tajam. Aku jadi kikuk. Akhirnya, “Dix, ini Red Wolf! Red Wolf, ini Dixie dari selatan!”
“Senang berkenalan denganmu!” ujarku sambil mengulurkan tangan. Tapi Red Wolf tidak membalas uluran tanganku. Aku jadi salah tingkah. Sementara Red Wolf hanya membalasnya dengan anggukan kepala sambil masih menatap tajam. Kemudian dia meninggalkan kami. Aku menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya dan beralih kepada Drake.
“Maaf, Dix! Aku lupa mengatakan kepadamu bahwa dia tidak ramah pada orang asing.”
“Ya, aku mengerti. Memang sudah sifat Indian begitu kan..?”
Drake mengangkat bahunya. “Well.., kau mau ikut mengandangkan kuda?”
“Kalau kau dan Red Wolf tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak. Aku malah senang.”
“Dan Red Wolf?”
Drake tersenyum, “Tenang sajalah! Dia tidak akan marah. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan orang asing. Kalau kau ikut mengandangkan kuda, kurasa dia akan lebih cepat menyesuaikan diri denganmu.”
“Baiklah!”
“Kau bisa menunggang kuda kan?”
“Tentu saja!”
            Drake memberiku seekor kuda jantan berwarna coklat yang sangat gagah. Mulanya agak susah menaikinya karena kuda itu begitu tinggi. Tapi akhirnya aku bisa mengendalikannya karena kuda itu ternyata sangat jinak.
            Kami berkuda menuju padang rumput yang terletak di sebelah barat dari hutan yang kami lewati tadi. Drake terkagum-kagum menyaksikan caraku menunggang kuda.
“Tak kusangka kau sangat terampil menunggangi kuda,” teriaknya sambil terus memacu kuda.
Aku tertawa dan menjawab, “Yuk, kita pacuan!” Drake menerima tantangan itu, kami pun balapan. Tapi tentu saja Drake yang menang. Dia sudah mengenal kuda yang ditungganginya, sedangkan aku masih asing dengan si coklat bernama Rih itu. Kami tertawa-tawa sesampai di padang rumput. Seru juga balapan itu!
            Ternyata Red Wolf sedang memperhatikan kami dari kejauhan. Dia memang sudah lebih dulu tiba di padang rumput itu. Drake menyusul Red Wolf. Sementara itu aku mengelilingi padang rumput itu, menikmati pemandangan karpet hijau indah yang masih perawan itu.
Drake bersuit dari jauh. Aku menoleh ke arahnya. Dia memberi isyarat untuk mulai menggiring kuda. Red Wolf sudah duluan menggiring kuda-kuda yang agak jauh merumputnya, sementara Drake menyusul mengambil kuda yang lebih dekat. Aku membantu mengembalikan kuda yang tercecer dari rombongannya. Tak lama kemudian, semua kuda sudah berada dalam satu rombongan. Kami pun menggiringnya menuju pagar melingkar tempat kuda dikumpulkan. Setelah itu, kuda-kuda itu kami bawa satu per satu ke dalam kandang.
Ah.., senang sekali rasanya! Sudah lama tidak melakukan pekerjaan ini. Dan enaknya kuda-kuda itu sangat jinak, sehingga tidak terlalu repot menggiringnya. Saat matahari sudah di ujung barat, semua kuda sudah dikandangkan.
Malam tiba. Kami berkumpul di meja makan untuk menikmati kacang merah rebus dan daging bison panggang sebagai makan malam. Selesai makan, kami bertiga duduk di teras menikmati langit berbintang. “Bagaimana kesan-kesanmu setelah melewati satu hari dengan kami?” tanya Drake padaku.
“Senang sekali! Sudah lama aku tidak mengalami kejadian seperti ini,”jawabku girang.
“Dan bagaimana kesan-kesanmu terhadap Red Wolf?”
Aku kaget mendengar pertanyaan Drake. Sementara Red Wolf yang duduk di sebelah Drake hanya melirik sekilas pada Drake, kemudian padaku. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke langit berbintang.
Aku memperbaiki letak dudukku karena kikuk. Aku masih belum menemukan kembali pita suaraku. Aku tak tahu mau jawab apa. Red Wolf masih duduk bersama kami, sungguh canggung rasanya menilai seseorang di depan dirinya sendiri. Kulihat Drake masih menunggu jawabanku dengan senyum nakalnya. Kualihkan pandangan pada Red Wolf. Dia diam saja. Tapi kulihat kedua sudut bibirnya sedikit tertarik keatas. Dia tersenyum...
“Sampai kapan aku harus menunggu?” tanya Drake tak sabar.
“Baiklah!” Kuangkat wajahku dan kutarik nafas dalam-dalam. “Menurutku, seperti kebanyakan orang Indian, dia tidak ramah. Tapi aku yakin dia sebenarnya baik. Dia hanya bersikap waspada dan itu wajar. Aku maklum kok...”
“Darimana kau tahu dia baik? Karena aku bilang tadi kan..?” patah Drake.
“Tidak. Aku bisa lihat dari matanya.”
Well.., bagaimana tanggapanmu, Sobat?” tanya Drake pada Red Wolf.
Red Wolf memandangku sekilas, dan, “Terima kasih!”
“Sama-sama!”
Kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam sambil berkata tanpa memandangku dan Drake, “Aku duluan...” Sungguh angkuh! Tapi aku suka. Tipe Indian sejati.
Tinggallah aku berdua dengan Drake. Aku tahu dia sedang menatapku tajam. Badanku panas dingin, tapi kuberanikan diri memandangnya. Pandangan kami beradu.
“Kau takkan pulang besok kan?” tanya Drake, tapi terdengar seperti perintah di telingaku.
“Aku harus pulang, aku tak mungkin disini terus.”
“Kenapa? Aku tidak ingin kau pergi. Tinggallah disini selama kau suka, atau...selamanya...”
            Kucoba menatap matanya, mencari kebenaran. Tapi aku tak sanggup dan tertunduk sendiri. Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba Drake sudah mengangkat wajahku dengan tangannya dan mendaratlah bibir itu di bibirku. Aku terlalu kaget untuk menghindar. Dan lebih dari itu, aku memang tidak berniat menghindar...
“Kalau begitu kau boleh pergi besok...” ujar Drake lagi, santai.
“Kalau begitu aku istirahat sekarang..” balasku sambil berjalan ke kamarku.
            Sesampai di kamar, aku langsung merebahkan diri di kasur. Yang kukhawatirkan terjadi juga. Di satu sisi aku menyukai Drake yang ceria dan penuh canda. Di sisi lain, Red Wolf yang tenang dan angkuh juga menarik perhatianku. Tapi kurasa Red Wolf tidak menyukaiku. Sikapnya terlalu dingin. Yang pasti aku benar-benar harus berangkat besok, karena kalau tidak...
“Tok, tok, tok!” Aku terkejut mendengar ketukan di pintu kamarku. Paling-paling Drake! Mau minta apa lagi dia..? Tadi cium sudah! Kubuka pintu kamar dan yang kuhadapi lebih membuatku terkejut lagi. Bukan Drake, tapi Red Wolf. Dia menatapku tajam. Aku merasa ditelanjangi. Setelah mampu mengendalikan perasaan, aku bertanya, “Ada apa, Red Wolf?”
Dia tidak menjawab, namun dikeluarkannya sebuah kalung dari balik bajunya. Kalung itu terbuat dari lima cakar serigala yang dirangkai menjadi satu. Dilepaskannya kalung itu dari lehernya dan dikalunginya ke leherku. Aku terkejut. Mungkinkah kalung itu jimatnya? Tapi tak seharusnya seorang Indian memberikan jimatnya kepada orang lain. Jika seorang Indian telah kehilangan jimatnya, sengaja atau tidak, maka berarti dia tidak punya harga diri lagi. Dan bagi mereka, dari pada hidup tanpa harga diri, lebih baik mati bunuh diri. Begitulah kepercayaan mereka.
Seolah bisa membaca pikiraanku, dia berkata, “Jangan khawatir! Itu bukan jimat. Jimatku ini...” Dia menunjukkan gelang di tangan kirinya, berupa kulit serigala yang dihiasi dengan dua taring serigala. Mungkin dia pernah berkelahi dengan serigala dan mengalahkannya, dan karena itu dia dinamakan Red Wolf, si kulit merah penakluk serigala.
“Untuk apa kau beri aku kalung ini?”
“Aku ingin ada sesuatu dari diriku yang menjadi kenangan bagimu.”
“Kenapa kau ingin menjadi bagian dari kenanganku?”
“Karena aku ingin menjadi bagian dari dirimu, tapi tak bisa.”
“Kenapa tidak?” Entah kenapa aku jadi begitu cerewet.
“Karena Drake juga menyukaimu dan aku tahu kau juga menyukainya. Aku tak mau menghancurkan itu.”
“Bagaimana mungkin kau bisa langsung tertarik pada seorang wanita yang baru kau kenal? Bukankah itu sifat yang tidak biasa dari diri seorang Indian?”
“Jadi kau keberatan? Baiklah, bawa kemari lagi kalung itu...!”
“Tentu saja tidak! Bukan itu maksudku... Aku menyukainya, terima kasih! Tapi...”
“Kalau begitu simpan dan jadikan itu jimatmu untuk melanjutkan perjalanan besok. Selamat malam!” Red Wolf berlalu.
            Kututup pintu. Sedikit menyesal telah membuatnya tersinggung tadi. Dengan gontai aku berjalan ke dipan dan kembali merebahkan diri. Tak lama kemudian aku sudah melayang ke alam mimpi.
            Saat membuka mata, di hadapanku terpampang seorang koboi sedang menunggang kuda, dengan tulisan diatasnya: COME TO WHERE THE FLAVOR IS... Di sampingnya terpampang pula sosok seorang Indian kepala suku Apache hasil rekaan seorang pengarang besar, Karl May. Indian itu bernama WINNETOU. Ah..., ini kan kamarku!

* * *
Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos dan puisinya termuat dalam buku “Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010” yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.

Minggu, 18 Maret 2012

MABUK (Cerpen Febby Fortinella Rusmoyo, dimuat di Pekanbaru Pos Edisi Sabtu, 17 Maret 2012)

“Kemana kita lagi?” tanya Abang.

“Mmm..., terserah abang lah... Kan abang tuan rumah...” Aku nyengir. Abang tertawa miring. Dia memang selalu begitu.

Kunjunganku ke kotanya kali ini sama seperti sebelum-sebelumnya, atas permintaannya. Dan kali ini dia beralasan sedang kurang enak badan, ingin merasakan pijatanku.

“Teman abang main jam 11 ini di XY Pub...” Halus sekali caranya mengajakku dugem. Aku memang belum pernah dugem dan dia sangat tahu itu. Sementara dunianya adalah malam dan lampu disko. Tapi terus terang aku penasaran juga ingin merasakan bagaimana hiruk-pikuknya diskotik.

“Sekarang masih jam 10 kurang. Masih lama,” balasku.

“Memangnya kamu mau?”

“Mmm..., yaa..., sekali-sekali nyoba...” Aku ragu, tapi mau.

“Yakin? Nggak nyesal nanti?”

“Yang nanti tu nantilah...”

Abang senyum penuh kemenangan.

“Kita muter-muter dulu lah ya,” ajaknya.

“Boleh.”

Kami meninggalkan rumah makan di tepi laut yang sangat eksotis, tempat favorit kami makan malam setiap kali aku datang mengunjungi Abang di kotanya yang terletak di pinggir laut. Abang memang pencinta pantai, laut, dan ombak. Saat melihat para remaja bersenda-gurau di pinggir pantai, atau bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar, dia selalu teringat Pantai Kuta, ketika dia mengikuti nude party bersama bule yang dipandunya. Bule wanita itu, yang ingin menikahinya ketika dia masih berusia 24 tahun. Padahal wanita itu sudah berusia 30 tahun. Wanita Skotlandia itu pun berjanji akan mengikuti keyakinan Abang jika Abang mau menikahinya. Tapi Abang menolak karena belum siap menikah. Cerita yang selalu membuat darahku menggelegak tertahan membayangkannya.

Kami berputar-putar mengelilingi kota pantai ini, walaupun tetap saja tidak jauh dari tempat semula, tidak jauh dari pantai, karena yang dia inginkan adalah mendengar suara ombak. Selama perjalanan, kami tak banyak bicara. Seperti biasa, karena Abang memang terlalu pendiam dan aku terlalu bodoh untuk memulai percakapan. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas lewat.

“Kita langsung ke XY saja?” tanya Abang.

“Boleh...”

Aku tahu, ini bukan yang pertama kalinya bagi Abang ke XY Pub. Tak mungkin dia sehafal ini dengan jalannya jika belum pernah kesana. Memasuki XY Pub, jantungku mulai berdebar. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di diskotik, pub, atau apapunlah namanya. Bedanya saja aku tidak tahu. Yang aku tahu semua tempat itu hanya menawarkan kenikmatan sesaat. Tapi toh aku penasaran juga dan pada akhirnya sampai juga di tempat itu.

Pusing. Itu hal pertama yang aku rasakan karena kelap-kelip lampu disko yang menyilaukan. Abang membimbingku mencari tempat duduk yang nyaman, agak di pojok tapi di depan, dekat dengan panggung, agar dia mudah didatangi temannya yang sedang tampil malam itu.

“Minum apa, Han?”

“Hani ikut Abang aja...”

“Long Island dua ya...” ujar Abang pada waiter yang juga temannya. Aku pernah mendengar nama minuman beralkohol yang satu ini, tapi aku tak tahu rasanya. Dan sebentar lagi aku akan merasakannya.

Abang menatapku. Mungkin dia bisa melihat kecanggunganku dengan dunia yang sama sekali baru dan sangat asing bagiku. “Santai aja ya, Sayang...” Dia menggenggam tanganku. Aku tersenyum, walau entah bagaimana bentuk senyumku itu.

Musik mulai menghentak. Band ini terdiri dari tujuh personil, tiga diantaranya wanita, yang kesemuanya vokalis, dan seksi-seksi. Mata Abang tak lepas dari vokalis utama. Bagaimana tidak, dia menari diatas meja penonton. Aku rasa dia sudah sedikit mabuk. Dia menyanyikan lagu Rihanna, Don’t Stop The Music.

Long Island pesanan kami sudah datang. Abang menyuruhku mencicipinya sedikit. Pelan-pelan aku menyeruputnya. Aku bergidik. Pahit! Abang tertawa melihat tampang kecutku. Untung saja ada kacang goreng diatas meja, yang memang sengaja disuguhkan waiter untuk menyiasati rasa pahit minuman alkohol. Sementara itu, Abang berjoget dengan si vokalis wanita yang sangat genit itu. Sesekali Abang ikut bernyanyi jika microphone disodorkan padanya. Ingin rasanya aku melempar gelas Long Island itu ke arah mereka, tapi sayang rasanya, karena aku mulai menikmati minuman setan ini. Pandanganku mulai terbelah dua, kepalaku mulai ikut bergoyang tanpa kusadari. Kurasa aku sudah mulai mabuk.

Abang mendekatiku, menarik tanganku, dan mendekatkan mulutnya ke telingaku, “Goyang sama Abang, Sayang.” Aku tersenyum, dan mulai meliuk-liukkan badan. Aku tak tahu dan tak peduli bagaimana goyanganku, yang penting aku sangat menikmatinya. Senyum Abang semakin lebar melihatku bergoyang. Rayuan setannya berhasil membuatku keluar dari dunia putih yang selama ini kujalani. Dia mulai menodainya dengan bercak hitam.
Entah berapa lama kami berada di diskotik itu. Long Island-ku yang segelas itu tak sanggup aku habiskan, hanya setengahnya saja. Pandanganku sudah sangat kabur. Bicaraku pun sudah mulai tak karuan. Saat semua pengunjung sudah mulai berkurang, Abang masih berbincang-bincang dengan teman-temannya yang kesemuanya personil band itu. Aku sudah setengah sadar, duduk di pangkuan Abang sambil merebahkan kepalaku yang sudah sangat berat di bahunya. Ruangan ini sudah berubah menjadi lima di mataku.

Tak sanggup berjalan, Abang menggendongku menuju hard-top merahnya dan segera kembali ke rumahnya. Sesampai di rumahnya pun, Abang menggendongku ke dalam, sampai diatas tempat tidur. Aku masih tahu setelah itu Abang melucutiku dan menikmatiku sepuasnya.
Setelah itu, aku sama sekali tak sadar lagi.

Aku terbangun keesokan paginya dengan kepala masih agak berat. Abang masih tidur di sampingku, dengan keadaan tubuh seperti bayi baru lahir, sama seperti keadaanku. Aku bergegas berpakaian seadanya, dan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhku mulai dari kepala agar aku benar-benar ‘sadar’. Aku habiskan pagi dengan menonton televisi sambil menunggu Abang bangun. Aku tak berani membangunkannya.

“Sudah sarapan?” tanya Abang setelah akhirnya dia rapi sepertiku.

“Belum.”

“Yuk, keluar.”

Seperti biasa kami menghabiskan perjalanan tanpa suara. Kami tidak langsung sarapan, tapi Abang mengisi bahan bakar mobilnya terlebih dulu. Sambil mengantri, Abang menatapku. “Tadi malam ‘masuk’ atau tidak..?”

Aku terperanjat. Kutatap matanya. “Nggak tahu... Hani bener-bener nggak sadar tadi malam... Memangnya Abang ‘nembak’ dimana?”

“Dalam sepertinya, abang pun lupa... Abang juga tak pakai ‘pengaman’...” Seperti ada palu godam yang menghantam kepala dan hatiku.

“Bang..., nanti kita ke apotik dulu ya...” pintaku.

“Cari apa?”

“Test pack...”

(13 Mei – 23 November 2010)

* * *

Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan Riau, Sumut Pos; dan puisinya termuat dalam buku “Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010” yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.