Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Antara "Keras Kepala" dan "Egois"


Menurutku "keras kepala" dan "egois" itu berbeda. Orang yg keras kepala biasanya memang "agak susah" diberitahu. Dia berpegang teguh pada prinsipnya dan pada apa yg dia anggap benar (meski seringkali ekstrim di mata orang lain). Tapi dia tidak memaksakan orang lain utk memegang hal yg sama. Tapi orang egois cenderung memaksakan apa yg dia kehendaki, baik yg dia kehendaki ingin dilakukannya kepada orang lain maupun yg dia kehendaki orang lain lakukan padanya. Orang egois otomatis keras kepala, tapi orang keras kepala belum tentu egois.

Minggu, 08 Desember 2013

Ulasan Novel "East of Eden" Karya John Steinbeck



John Ernst Steinbeck (lahir di Salinas, California27 Februari 1902, meninggal dunia di New York City20 Desember 1968) adalah salah satu penulisAmerika Serikat terkenal di abad ke-20 yang memenangkan Penghargaan Nobel Sastra pada 1962. Karya-karyanya yang menjadikannya terkenal adalah Tortilla Flat (1935; difilmkan 1942), Of Mice And Men (1937; difilmkan 1939 dan 1999), The Red Pony (1937; difilmkan 1949). The Grapes of Wrath (1939, memenangkan Hadiah Pulitzer; difilmkan 1940), The Moon Is Down (1942; difilmkan 1943), Cannery Row (1945; difilman 1982), The Pearl (1947; difilmkan 1948), The Wayward Bus (1947, difilmkan1957), serta East of Eden (1952; difilmkan 1955). Pada tahun 1962, Steinbeck memenangkan Hadiah Nobel atas karya-karya sastranya yang “realistis dan imajinatif, menggabungkan humor simpatik dan persepsi sosial yang tajam.”
Novel ini bercerita tentang dua keluarga yang baru saja pindah ke Salinas Valley, California, AS. Kedua keluarga ini memiliki karakter yang berbeda. Keluarga Hamilton berasal dari Irlandia Utara. Keluarga Hamilton bisa dikatakan sebagai one big happy family (keluarga besar yang harmonis), nyaris tidak ada konflik berarti dalam keluarga ini. Dikepalai oleh Samuel Hamilton yang ramah, hangat, penolong, bersahaja dan relijius, keluarga ini tumbuh dalam kasih sayang yang cukup. Samuel adalah seorang pandai besi yang disukai dan disegani di lingkungannya.
Sedangkan keluarga Trask bisa dikatakan keluarga broken home (berantakan) walau hanya beranakkan dua (Adam dan Charles). Cyrus Trask adalah seorang pembual besar yang seringkali bercerita kepada semua orang seolah-olah dia kenal dekat dengan semua orang penting, termasuk Presiden AS, Abraham Lincoln. Dia meninggal dengan mewarisi uang $100.000 kepada kedua anaknya yang bingung darimana ayahnya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dan menduga ayah mereka penipu ulung.
Keadaan keluarga Trask semakin parah dengan kehadiran seorang wanita cantik berwajah innocent namun berhati iblis bernama Cathy Ames. Cathy adalah seorang pelacur kelas kakap yang nyaris mati dibunuh oleh Edwards, seorang pengusaha rumah bordil yang menjadikan Cathy simpanannya. Cathy ditemukan di belakang rumah Trask bersaudara dalam keadaan sekarat dan kemudian dirawat oleh kedua bersaudara itu. Charles dapat menangkap gelagat tidak baik dari Cathy, namun Adam terlanjur jatuh hati pada wanita itu hingga menikahinya. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak lelaki kembar yang diberi nama Aron dan Caleb, pelesetan dari Cain dan Abel (Kain dan Habel dalam Book of Genesis atau Kitab Kejadian, dalam Islam Qabil dan Habil), dua anak lelaki Nabi Adam dengan kisah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. Ironisnya kedua anak lelaki ini sesungguhnya anak Cathy dan Charles, bukan Cathy dan Adam. Karena merasa hidupnya terikat oleh Adam, baru dua minggu setelah melahirkan, Cathy berniat pergi namun ditahan oleh Adam. Cathy menembak Adam dan meninggalkannya dan kedua anaknya yang masih bayi. Beruntung ada Lee, pembantu keluarga Trask yang kemudian merawat kedua anak lelaki ini hingga tumbuh remaja.
Beranjak remaja, Cal tumbuh lebih liar daripada Aron. Aron yang relijius sangat disayangi ayahnya, sedangkan Cal sering disalahkan oleh ayahnya. Hal ini membuat Cal iri. Cal juga tidak percaya bahwa ibunya sudah meninggal dan mencarinya hingga akhirnya menemukannya. Adam pun akhirnya diberitahu oleh Samuel Hamilton tentang keberadaan Cathy. Dia mencarinya, menemukannya, dan mengetahui dari Cathy sendiri bahwa Aron dan Cal bukan anaknya, melainkan anak Charles. Namun hal itu justru membuat Adam merasa jauh lebih baik dan menyadari bahwa dia tidak mencintai Cathy lagi. 
Karena iri pada Aron, Cal sengaja membawa Aron ke ibunya yang menjadi seorang pengusaha rumah bordil. Hal ini membuat Aron terluka sehingga dia memutuskan untuk pergi jauh untuk melupakan semua kejadian tidak menyenangkan dalam hidupnya. Dia bergabung sebagai tentara tanpa sepengetahuan ayahnya dan tewas di medan perang. Mengetahui hal ini, Adam kembali depresi hingga wafat. Sementara itu, lelah dengan paranoidnya terhadap dunia, Cathy mengakhiri hidupnya di sebuah ruang pribadi dalam rumah bordil miliknya. 
Sebagai sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah nyata, novel ini memang agak ‘berat sebelah’ dan menampakkan sisi hitam dan putih manusia. Keluarga Hamilton – yang notabene kakek Steinbeck sendiri – digambarkan sebagai keluarga baik dan kurang tereksplorasi. Sementara itu, keluarga Trask sangat kacau balau dan cenderung tragis, yang sepertinya mewarisi keburukan turun-temurun. Penggambaran Cathy Ames juga terlalu iblis, sepertinya dia tidak mempunyai sejumput sisi baik pun pada dirinya. Kurang jelas juga mengapa dia mempunyai sifat-sifat iblis yang begitu besar sejak masih anak-anak. Sebagai seorang anak kecil, dia terlalu cerdik untuk bersandiwara di depan orang tuanya dengan berpura-pura menyesal karena telah bolos sekolah, dan terlalu sadis untuk membakar kedua orang tuanya sendiri dan menghilangkan jejaknya sehingga juga dikira ikut tewas. 
Namun secara umum, deskripsi dan narasi Steinbeck tak dapat dipungkiri sangat baik. Penceritaan dari sudut pandang narator dengan penceritaan tokoh yang berpindah-pindah tidak membuat ceritanya melompat-lompat. Kedua keluarga yang sangat berbeda karakter ini hanya dihubungkan oleh seorang Samuel Hamilton yang bijaksana, namun peran Samuel tidak bisa dibilang kecil. Namun, peran ini membuat Samuel menjadi seperti malaikat dalam cerita ini. Jika dibandingkan dengan “Of Mice and Men”, East of Eden kurang greget dan akhir cerita pun cenderung biasa saja, tidak seperti “Of Mice and Men” yang memang unpredictable dan mendebarkan. Tapi Steinbeck tetaplah Steinbeck, toh Nobel-nya tidak bisa ditarik juga...

Sabtu, 18 Mei 2013

Jangan Asal Menikah…


Banyak muslimin dan muslimat yang menyatakan kesiapannya menikah dengan alasan menikah itu ibadah, karenanya harus disegerakan. Pandangan itu tidaklah salah, namun agaknya mereka lupa bahwa ada banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dulu sebelum menikah. Adalah benar bahwa kesiapan materi itu perlu, namun kesiapan mental adalah hal yang jauh lebih penting untuk dipertimbangkan. Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum menikah? Apa sesungguhnya hak dan kewajiban suami dan istri? Benarkah suami mempunyai posisi ‘diatas’ istri dan istri harus tunduk patuh sepenuhnya pada suami? Apa itu sakinah, mawaddah dan rahmah? Bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga yang baik menurut Islam?
Perkawinan / keberpasangan adalah “sunatullah”, dalam arti “ketetapan Tuhan yang diberlakukan terhadap semua makhluk”. Sedangkan nikah itu sendiri secara harfiah berarti penyatuan. Namun, karena perkawinan adalah sunatullah, bukan berarti kita lantas dengan mudah dapat menjalaninya dengan sendirinya dan otomatis. Membangun rumah tangga tidak seperti membangun rumah, menyusun bata diatas bata. Hal ini dikarenakan perkawinan berhubungan dengan interaksi antar manusia. Karenanya diperlukan kecakapan berkomunikasi dan pengertian atas perbedaan yang dimiliki, dan itu memang tidak mudah apabila tidak ada niat dan usaha untuk mewujudkannya.
Pernikahan itu membutuhkan cinta. Jadi kuranglah tepat jika dikatakan bahwa cinta itu dapat tumbuh dengan sendirinya setelah menikah. Karena jika cinta yang dipaksakan tumbuh setelah pernikahan memiliki kadar ketulusan yang kurang, sehingga kehidupan rumah tangga akan terasa kurang menggairahkan. Namun, jika cinta sudah ada sejak awal, masing-masing pihak merasa tidak sampai hati menyakiti pasangannya, karena besar dan tulusnya rasa cinta yang dimiliki.
Namun, ungkapan “cinta saja tidak cukup” agaknya juga perlu direnungkan, mengingat sifat dasar manusia yang hatinya dapat berubah, begitu pula rasa cinta pun bisa sewaktu-waktu hilang. Karenya, dalam perkawinan, ada unsur-unsur lain yang perlu dipenuhi untuk mempererat perkawinan itu, yaitu mawaddah, rahmah, dan amanah. Mawaddah sesungguhnya adalah cinta kasih itu sendiri. Namun, mawaddah adalah cinta plus, karena mawaddah adalah cinta yang tampak dampaknya pada perlakuan – serupa dengan tampaknya kepatuhan akibat rasa kagum dan hormat pada seseorang. Dan untuk mencapai mawaddah, diperlukan beberapa tahap yang tidak terjadi sekaligus. Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan sehingga mendorong usaha pemberdayaan. Rahmah inilah yang membendung atau mencegah keinginan yang berpotensi menyakitkan pasangan. Seorang suami yang pastinya mendambakan keturunan, sementara istrinya mandul, mungkin ia terdorong untuk berpoligami. Namun jika ia menyadari bahwa hal tersebut akan menyakitkan istrinya, maka rahmah yang menghiasi dirinya terhadap istrinya akan membendung keinginan tersebut. Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai  dengan rasa aman dari pemberinya karena adanya kepercayaan kepada yang diberi amanah. Amanah dipelihara dengan dengan mengingat Allah, yaitu kebesaran, kekuasaan, dan kemurahan-Nya. Sebagian besar perkawinan yang gagal adalah karena hilangnya amanah, iman dan rasa aman itu.
            Dengan memahami esensi perkawinan dalam Islam, maka fenomena kaum muslimin jaman sekarang yang tampaknya bisa dengan mudah kawin cerai, dapat dikurangi. Karena sesungguhnya Islam tidaklah menggampangkan perceraian. Dan jika itu mayoritas terjadi pada kaum muslimin, maka yang harus dibenahi adalah pemahaman individu tentang perkawinan dalam Islam itu sendiri. Fenomena di sekeliling kita banyak menunjukkan bahwa kebanyakan umat muslim saat ini sudah sedikit menyimpangkan esensi perkawinan itu, dengan mengajukan syarat-syarat yang memberatkan, dan berusaha mengadakan pesta semegah-megahnya, untuk kemudian mengurus surat cerai tahun depannya. Sungguh fenomena yang sangat disayangkan. Karenanya tidaklah sesuatu yang bersifat ‘sok suci’ jika kita mencoba memahami perkawinan lebih ke tujuannya yang ditetapkan dalam ajaran Islam, dan bukan hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan, “Kapan kawin?”. Betapa sesungguhnya Allah memang Maha Pengasih atas nikmat kasih sayang yang ditanamkannya pada hati manusia.

Referensi
M. Quraish Shihab, 2007, Pengantin Al-Qur’an: Kalung Permata Buat Anak-anakku, Jakarta: Lentera Hati

Jumat, 12 April 2013

Karena Manusia Perlu Belajar


Secara harfiah, musibah berarti sesuatu yang mengenai kita atau menimpa kita. Lazimnya, musibah adalah ujian atau segala sesuatu yang tidak kita inginkan untuk terjadi. Itu berarti bahwa musibah dapat dialami semua orang, apakah itu orang baik maupun orang jahat. Ini berbeda dengan azab yang yang diberikan kepada orang-orang yang durhaka kepada Allah dan menolak untuk bersyukur (kufur). Azab tidak selalu datang saat kita berada di dunia. Ada azab yang ditangguhkan hingga datangnya hari kiamat. Sedangkan bala secara spesifik ditujukan kepada orang yang sedang memperjuangkan kebaikan, baik untuk dirinya maupun untuk orang banyak. Maka, bala sering disebut sebagai ujian yang dimaksudkan untuk membuktikan kualitas seseorang, apakah dia benar-benar beriman atau tidak. Dari pengertian diatas, mungkin dapat disimpulkan bahwa semua yang terjadi pada bangsa ini (mulai dai tsunami, gempa hebat, banjir besar, angin puting beliung, semburan lumpur panas tak berkesudahan, dan sebagainya) dapat disebut dengan musibah karena menimpa orang banyak, yang kita tidak dapat pastikan apakah dia baik atau jahat.
            Pada dasarnya tidak ada satu manusia pun yang mengharapkan datangnya musibah., tapi juga tidak ada satu manusia pun yang dapat menangkalnya. Dan meskipun semua musibah itu pahit bagi manusia, namun khasiatnya akan tergantung pada bagaimana manusia itu menghayati dan meresponnya. Hidup kita tidak ditentukan oleh musibah yang menimpa kita, melainkan dari apa yang kita lakukan terhadap musibah itu.
            Dapat dikatakan bahwa musibah merupakan pendidikan Tuhan kepada umat-Nya, meskipun bentuknya buruk menurut kita. Dengan kata lain, musibah yang menimpa kita, apapun bentuknya, seberapapun ukurannya, pada dasarnya bukan semata-mata kejadian yang seratus persen buruk untuk kita. Ada pencerahan di balik musibah itu.
Pertama, pendidikan Tuhan itu tidak harus sesuatu yang kita inginkan. Justru sebaliknya seringkali berupa sesuatu yang yang tidak kita inginkan seperti kesengsaraan, penderitaan, kegagalan, atau musibah. Kedua, ujian dalam pendidikan Tuhan tidak diberitahu waktu dan materinya. Ujian itu bisa datang kapan saja, terlepas dari apakah kita sudah siap atau belum dalam menghadapinya. Bahkan secara umum dapat dikatakan bahwa pelajaran itu justru kita dapatkan setelah ujian datang, dan pelajaran hanya bisa diambil oleh orang-orang yang dapat mengambil hikmah.
Karenanya, kalau saja kita dapat mengambil hikmah dibalik semua peristiwa yang terjadi pada kita, percayalah bahwa kita dapat merasakan indahnya hidup. Buku ini mengajarkan kepada kita bagaimana cara memaknai musibah, sehingga kita tidak menjadi orang yang kufur dan berprasangka buruk kepada Tuhan. Dibandingkan buku bertema serupa, buku ini penulis anggap lebih bagus karena lebih jelas mendefinisikan musibah dan sejenisnya, penyebab datangnya musibah, dan bagaimana memaknainya. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bersyukur.
           
Referensi
AN. Ubaedy, 2008, Tiada Musibah Tanpa HikmahGrafindo Khazanah Ilmu

Kamis, 21 Maret 2013

Ikhlas Sebagai Kunci Keberhasilan


Seringkali kita dengan mudahnya mengatakan, “Aku ikhlas dengan semua yang terjadi.” Tapi benarkah yang kita ucapkan ini sesuai dengan apa yang kita rasakan? Sesungguhnya ikhlas itu tidak dapat diucapkan, dia hanya mampu dirasakan, dan itu menjadi rahasia kita dengan Allah SWT.
            Sebelum kita dengan mudah mengklaim bahwa diri kita ikhlas, ada baiknya kita mengetahui terlebih dulu pengertian ikhlas tersebut, agar apa yang kita ucapkan itu benar-benar sesuai dengan apa yang kita rasakan.
            Ikhlas berasal dari kata kholuso yang artinya bersih, jernih, murni, suci atau tidak ternoda. Dalam pengertiannya ikhlas berarti sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Hasan al-Banna berkata tentang makna ikhlas, “Ikhlas adalah seorang saudara muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya, dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Allah, untuk mencari ridho Allah dan balasan yang baik dari Allah dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian dia menjadi tentara aqidah dan fikrah, dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”
            Ada beberapa keuntungan yang akan kita peroleh apabila kita selalu ikhlas, yaitu kebahagiaan dan kepuasan yang tak terputus karena tidak mengharapkan imbalan apapun dari manusia; tidak diliputi oleh ketakutan dan kekhawatiran, malaikat akan menjadi penolong dan menggembirakannya dengan janji-janji surga; semua makhluk akan mencintai dan menyayanginya; mampu menjalani hidup dengan penuh semangat, gairah, dan prestasi; tegar, kuat dan tidak putus asa dalam menghadapi berbagai persoalan hidup; mampu mempertahankan, memelihara dan memperkuat Ukhuwah Islamiyyah; serta mendapat surga terindah.
            Karena itu pulalah tidak heran jika Hasan al-Banna juga pernah berkata, “Ikhlas itu kunci keberhasilan. Para salafushalih yang mulia, tidak menang kecuali karena kekuatan iman, kebersihan hati, dan keikhlasan mereka…” Maka jika kita ingin menjadi seorang muslim yang menang, jadikanlah ikhlas sebagai senjata kita dalam menghadapi hidup yang serba keras ini.
           
Referensi

Mahmud Ahmad Mustafa, 2009, Dahsyatnya Ikhlas, Mutiara Media