Kasih sayang Allah Ta'ala kepada hamba-Nya tidak semata-mata ditunjukkan-Nya berupa rejeki dalam bentuk materi. Terkadang Dia menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengirimkan orang-orang baik kepada kita (baca: aku). Orang yg dari segi waktu, situasi dan kondisi sebenarnya tidak perlu memiliki kepedulian lagi padaku, yang senyatanya tidak ada pengaruh dan manfaat pada dirinya untuk peduli pada kondisiku, namun karena Allah Ta'ala menanamkan rasa sayang sesama saudara pada hatinya kepadaku, dia menyempatkan diri untuk menghubungi, menanyakan kabar (yang sebenarnya sudah dia ketahui selama ini) dan memberikan nasihat, dukungan, dan solusi atas permasalahan yg selama ini mungkin mesti kutanggung sendiri walau diri ini sebenarnya tak kuat lagi. Segala puji bagi Allah Ta'ala atas segala rencana indah-Nya, terima kasih tak terhingga kepadamu teman yg sudah mau berbagi dan mendengarkan isakku, hanya Allah Ta'ala yg dapat membalas kebaikanmu.. Thanks a lot of so much my dear bro.. Semoga Allah Ta'ala selalu melindungimu dan keluargamu, dan semoga aku dapat menemukan hikmah dan menjalankan apa-apa yang telah engkau nasihatkan kepadaku..
Blog ini berisi segala sesuatu yang dapat ditulis, yang dapat membantu untuk menulis, dan apa saja yang tertulis....
Tampilkan postingan dengan label Inspiring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiring. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Maret 2014
Sabtu, 17 November 2012
Ketika Do'a Kita Belum Dikabulkan...
Bukan hanya aku, tapi nyaris
kita semua – manusia, hamba Allah Ta’ala – seringkali bertanya-tanya pada diri
sendiri, dan bahkan yang lebih parahnya lagi jengkel, karena merasa sudah “berbusa-busa”
memohon dan meminta sesuatu kepada-Nya namun belum juga terkabulkan hingga
detik terakhir kita bernafas saat ini. Untuk kita semua, ada baiknya kita baca riwayat
ini :
Suatu hari ketika Ibrahim bin Adam 'alaihissalam
berjalan melewati sebuah pasar di negeri Bashrah, seorang laki-laki dari
kaumnya bertanya,"Wahai Ibrahim, kami sudah berdo'a kepada Allah subhanahu
wa ta'ala namun kenapa sampai sekarang Dia tidak mengabulkan do'a dan
permintaan kami?"
Nabi Ibrahim menjawab,"Karena sesungguhnya hati
kalian semua telah mati!"
Setelah itu mereka bertanya lagi,"Apakah yang
membuat hati kami menjadi mati, wahai Ibrahim?"
Nabi Ibrahim menjawab,"Hati kalian menjadi mati
disebabkan oleh sepuluh perkara yaitu kalian mengetahui Allah subhanahu wa
ta'ala namun kalian tidak pernah menunaikan hak-hak-Nya; kalian senantiasa
membaca kitab suci tetapi kalian enggan untuk mengamalkannya; kalian
mengikrarkan diri bahwa kalian mencintai Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam
tetapi kalian senantiasa meninggalkan sunnah-sunnahnya; kalian berkata bahwa
keberadaan surga adalah nyata tetapi kalian tidak pernah melakukan perbuatan
yang dapat menjadikan kalian masuk ke surga; kalian berkata bahwa keberadaan
neraka adalah nyata tetapi kalian tidak lari menjauhi perbuatan yang dapat
membuat kalian masuk ke dalamnya; kalian mengetahui hal-hal yang baik tetapi
kalian sengaja meninggalkannya; kalian mengetahui hal-hal yang buruk tetapi
kalian sengaja mengikuti dan mengerjakannya; kalian mengikrarkan bahwa setan
adalah musuh kalian semua tetapi kalian tidak benar-benar menjadikannya sebagai
musuh dan lebih memilih untuk mengikutinya; kalian mengubur jenazah salah
seorang dari kalian tetapi kalian tidak mengambil pelajaran dari kematiannya;
kalian senantiasa memakan dan menikmati karunia yang diberikan Allah subhanahu
wa ta'ala tetapi kalian tidak pernah bersyukur kepada-Nya; dan kalian
senantiasa sibuk membicarakan aib orang lain dan melupakan aib yang ada dalam
diri kalian sendiri. Dengan sepuluh macam perkara yang kalian lakukan ini, maka
bagaimana mungkin Allah subhanahu wa ta'ala mengabulkan do'a kalian semua?"
(Sumber: Buku "Wujudkan Impian
Anda dengan Do'a" oleh Syaikh Majdi Muhammad Asy-Syahawi, terbitan An-Naba',
2009)
Senin, 06 Agustus 2012
Kekuatan yang Lemah dan Kelemahan yang Kuat..
Aku menjadi kuat di saat terlalu lemah, dan aku menjadi lemah di saat terlalu kuat...
Label:
Inspiring,
Only Words,
Opini,
Pribadi
Rabu, 25 Juli 2012
Apakah Kita Taqwa..?
Di bulan suci Ramadhan ini semua orang mendadak
berlomba-lomba menjadi yang paling taqwa. Namun sesungguhnya apakah taqwa itu?
Apakah cukup hanya sekedar memperbanyak sholat, berzikir dan berdo'a paling
lama, atau mengkhatamkan Qur'an selama satu bulan?
Taqwa itu tidak dapat dinilai dari seberapa sering dan
lamanya kita bersujud, seberapa banyaknya zikir yang telah dilafazkan, seberapa
banyak do’a yang telah dipanjatkan, seberapa dalam jilbab yang dikenakan,
seberapa tinggi kaki celana diatas mata kaki, seberapa panjang jenggot yang
dipelihara, dan segala atribut yang kasat mata. Taqwa itu tidak dapat dilihat,
hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui isi hati setiap hamba-Nya.
Ketaqwaan seseorang baru dapat teruji ketika dia
diberi musibah, cobaan, atau ujian berat oleh Allah Ta’ala, dan bagaimana sikap
dirinya menghadapi ujian itulah yang dapat dijadikan tolok ukur ketaqwaannya. Apakah
dia tawakkal dalam menghadapinya, dan menjadikannya orang yang memperbaiki diri
dalam menghadapinya, atau sebaliknya menganggap cobaan itu sebagai “ketidakadilan”
bagi dirinya, sehingga dia mencari-cari pembenaran atas ketidak-ikhlasannya
dengan menyalahkan orang lain, keadaan, waktu, bahkan Tuhan; atau sikap-sikap
negatif lainnya yang membuatnya justru semakin terpuruk dan bukannya bangkit
dengan jiwa positif.
Label:
Inspiring,
Only Words,
Opini,
Pribadi
Selasa, 18 Oktober 2011
The Interpreter
Ini bukan tentang film “The Interpreter” yang dibintangi Nicole Kidman dan Sean Penn. Tapi ini tentang satu pengalaman baruku menjadi interpreter dalam acara Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 dengan tema “Sastra Multikultural”. Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 13 Oktober 2011, di Galeri Ibrahim Sattah, Kompleks Bandar Serai Pekanbaru. Yang hadir sebagai pembicara adalah penyair dari Australia bernama Sean M. Whelan, ditemani oleh Budy Utamy, penyair muda Riau dari Komunitas Paragraf Pekanbaru yang kebetulan juga turut serta dalam acara Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali tanggal 5-9 Oktober 2011. Sebagai pembawa acara kali ini adalah Refila Yusra (Komunitas Paragraf Pekanbaru). Aku berperan sebagai moderator sekaligus interpreter untuk Sean M. Whelan.
Awalnya tentu saja sedikit nervous, apalagi sudah cukup lama aku tidak pernah berbincang-bincang dengan orang dari luar negeri. Apalagi jika harus menjadi perantara antara sang pembicara yang notabene orang luar dengan para peserta yang orang kita. Mungkin beberapa dari peserta cukup paham sedikit-sedikit Bahasa Inggris, tapi untuk menyampaikan apa yang ingin mereka tanyakan mungkin yang agak berat. Satu hal lagi, Sean adalah orang Australia, yang dialeknya tentu saja berbeda dengan orang Amerika Serikat atau Inggris. Dan sejujurnya aku sebenarnya lebih familiar dengan dialek Amerika karena sejak kecil memang sudah “dijejali” dengan film-film Amerika atau lagu-lagu Amerika yang sengaja dibiasakan almarhum Bapak supaya kami tidak asing dengan Bahasa Inggris. Dan karena Bapak juga bekerja di lingkungan yang lebih banyak orang Amerikanya (PT. CPI Rumbai), dan kebetulan pembimbing skripsi Bapak jaman kuliah dulu juga orang Amerika, jadinya Bapak juga membiasakan kami dengan dialek Amerika. Waktu kelas 2 SD saja lagu favoritku “It’s Now or Never”-nya Elvis Presley..
Untungnya Sean adalah orang yang sangat kooperatif dan cukup ramah. Jadi walaupun awalnya aku agak canggung, tapi pada akhirnya semua berjalan dengan lancar. Semua pertanyaan para peserta dijawab dengan memuaskan oleh Sean dan sepertinya para peserta juga puas dengan hasil terjemahan lisanku. Sean M. Whelan adalah seorang penyair asal Melbourne, Australia, yang telah menelurkan dua buku kumpulan puisinya yaitu Love is the New Hate dan Tattooing the Surface of the Moon. Sean juga memiliki latar belakang yang cukup unik karena selain sebagai penyair, beliau juga seorang DJ (Disc Jockey), bekerja di perusahaan rekaman, menulis skenario drama, dan juga mempunyai sebuah kelompok band bernama The Interim Lovers yang telah menelurkan satu album yaitu Softly and Suddenly pada bulan Oktober 2010. Beliau juga mengajarkan sastra di sekolah-sekolah, sebagai pengabdiannya terhadap bidang yang dicintainya ini. Beliau juga mempunyai sebuah program bernama Babble dan koordinator dari Liner Notes, yang keduanya merupakan program musikalisasi puisi yang rutin diselenggarakannya di kafe-kafe di daerah asalnya.
Para peserta Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 berasal dari berbagai kalangan seperti dari Balai Bahasa Riau, mahasiswa Universitas Riau, mahasiswa UIN Suska Riau, mahasiswa Universitas Abdurrab, perwakilan Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru, dan lain-lain, serta dari individu yang tertarik dengan bidang ini. Dalam diskusi ini, para peserta kebanyakan menanyakan tentang proses kreatif, bagaimana mengatasi kebuntuan dalam menulis, apa saja jenis-jenis puisi, bagaimana kesan-kesan para penulis dalam menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Bali itu sendiri, dan khusus kepada Sean, mereka juga menanyakan bagaimana perkembangan sastra terutama puisi di negeri asalnya, Australia. Ternyata di Australia, keberadaan sastra tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, yaitu juga masih belum terlalu akrab bagi masyarakatnya, meski tidak semengenaskan sastra di Indonesia. Di sekolah-sekolah di Australia, pengajaran sastra di sekolah juga masih bersifat umum, namun murid-murid yang tertarik mendalaminya dapat mengambil pelajaran tambahan diluar jam sekolah dalam bidang ini. Selain itu, yang mungkin patut membuat kita sedikit “iri” terhadap mereka adalah adanya perhatian dari Pemerintah berupa bantuan dana bagi warganya untuk menerbitkan sebuah buku, menyelenggarakan even-even sastra, dan sebagainya. Kita tinggal mengajukan proposal permintaan dananya, dan Pemerintah akan bersedia memberikannnya, dengan catatan benar-benar dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Di negeri kita, mungkin sah-sah saja kita mengajukan permohonan bantuan dana, tapi mungkin persetujuannya ditangguhkan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Sebagai langkah untuk lebih memasyarakatkan sastra dan menyastrakan masyarakatnya, Sean dan komunitasnya disana juga intens mengadakan musikalisasi puisi di kafe-kafe, bahkan telah mengalbumkan musikalisasi puisi bersama dengan bandnya. Sebuah totalitas profesi yang pantas ditiru. Meski beliau sendiri mengaku bahwa pilihannya sebagai seorang penyair adalah karena baginya puisi merupakan bentuk tulisan yang paling murni. Kita tidak bisa kaya dengan menulis puisi. Mungkin kita bisa kaya dengan menulis novel, atau skenario, dan yang lainnya, tapi tidak jika hanya menulis buku kumpulan puisi. Butuh kolaborasi pekerjaan untuk itu dan itulah yang dijalaninya saat ini.
Di akhir acara ini tentu saja ada sesi potret-memotret dan tanda tangan oleh Sean. Selain itu, karena ada sedikit wawancara dari koran “Haluan Riau”, maka sekali lagi aku menjadi perantara bahasa antara Sean dan wartawan media tersebut. Setelah acara Diskusi Sastra, kami para anggota Komunitas Paragraf Pekanbaru sebagai pihak penyelenggara pergi makan bersama dengan Sean di Rumah Makan “Poho” di Jl. A. Yani, Pekanbaru. Sesi bebas ini dimanfaatkan oleh teman-teman untuk mempraktekkan Bahasa Inggris mereka. Dan sekali lagi kami berfoto bersama. Sungguh pengalaman luar biasa... Dan yang lebih menyenangkan lagi, di wall FB-ku, Sean mengucapkan terima kasihnya padaku dengan mengatakan: “...and thanks to Febby Fortinella Rusmoyo for her mad interpreter skill.” Wooow..., your welcome Sean.., you’re great too..
Kamis, 28 Juli 2011
Menyambut Bulan Ramadhan, Hati-Hati Ritual Anehnya
Tiba saatnya kaum muslimim menyambut tamu agung bulan Ramadhan, tamu yang dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya. Sebentar lagi tamu itu akan bertemu dengan kita. Tamu yang membawa berkah yang berlimpah ruah. Tamu bulan Ramadhan adalah tamu agung, yang semestinya kita bergembira dengan kedatangannya dan merpersiapkan untuk menyambutnya.
Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”
Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :
1. Padusan atau Balimau Kasai, yaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini. Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.
2. Nyekar di kuburan leluhur.
Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!
3. Minta maaf kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.
Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna. Tidak diragukan, bahwa meminta maaf kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.
Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.
Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlas kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.
Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlas, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga bisa menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.
Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ibu Majah)
Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.
Wallähu a’lam..
Disarikan dari: Redaksi Assalafy.org (http://www.assalafy.org/mahad/?p=340&print=1)
Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”
Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :
1. Padusan atau Balimau Kasai, yaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini. Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.
2. Nyekar di kuburan leluhur.
Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!
3. Minta maaf kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.
Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna. Tidak diragukan, bahwa meminta maaf kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.
Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.
Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlas kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.
Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlas, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga bisa menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.
Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ibu Majah)
Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.
Wallähu a’lam..
Disarikan dari: Redaksi Assalafy.org (http://www.assalafy.org/mahad/?p=340&print=1)
Minggu, 10 Juli 2011
“Stressku Hilang Kalau Ke Mal”
Itulah kalimat yang pernah terlontar dari mulut salah satu teman dekat saya saat kami jalan-jalan ke mal setelah beberapa bulan tidak melakukan aktivitas itu karena kesibukan masing-masing. Sebenarnya saya ingin tergelak mendengarnya waktu itu, namun saya tahan untuk menjaga perasaannya, karena dia mengatakannya dengan sangat serius. Kalimat inilah yang muncul kembali dalam benak saya setelah membaca tulisan Marhalim Zaini mengenai mal (Mall; Permainan Simbol Sosial, Pembentukan Identitas Kultural, Riau Pos Edisi Ahad, 26 Juni 2011). Sedikit koreksi untuk Marhalim Zaini, sejauh pengetahuan saya, ejaan kata mall dari Bahasa Inggris itu sudah diindonesiakan menjadi “mal” (dengan hanya satu huruf l). Jadi mungkin ada baiknya jika kita menggunakan istilah Bahasa Indonesianya saja.
Dalam tulisannya, Marhalim Zaini (selanjutnya disebut MZ) memaparkan keberadaan mal yang sangat menjamur saat ini dari sudut pandang budaya, sesuai bidang pengetahuan yang sedang beliau gali. Tak dapat kita pungkiri bahwa aktivitas pergi ke mal saat ini memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup kota metropolitan atau kota-kota yang sedang beranjak menuju kesana. Dari segi budaya, inilah mungkin yang disebutkan oleh MZ sebagai permainan simbol sosial dan pembentukan identitas kultural. Kasarnya, jangan mengaku orang jaman sekarang jika tidak pernah menginjakkan kaki di mal dan tidak pernah belanja di mal. Bahkan masyarakat dari luar kota besar pun sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi mal di perkotaan pada akhir pekan dengan menyewa satu atau dua bus dari daerah mereka masing-masing sekedar untuk menginjakkan kaki di mal. Ini dapat kita lihat di Pekanbaru kota tercinta kita ini.
Penyimbolan hidup konsumerisme dari kebiasaan ke mal ini tidak hanya dapat dilihat dari sudut pandang budaya. Kita juga dapat menyelaminya dari sisi psikologis seseorang. Makna dari bepergian ke mal bagi orang yang “senang” melakukannya dengan orang yang “sekedar” melakukannya tentu saja berbeda. Contoh kasus adalah antara saya dan teman dekat saya tadi. Bagi teman saya itu, pergi ke mal dapat menghilangkan stressnya, menurut pendapatnya. Namun bagi saya pribadi, pergi ke mal jika tidak ada tujuan justru malah akan menimbulkan stress. Ke mal bagi saya adalah “sekedar” mencari apa yang saya anggap dapat saya temukan dan beli disana. Ini tentu terkait dengan “pemaknaan” mal itu sendiri bagi masing-masing pihak. Bagi teman saya itu, merasa dirinya menjadi bagian dari modernisasi adalah sebuah kebanggaan. Maka ke mal, sebagai bagian dari modernisasi, adalah juga sebuah tempat yang layak dikunjungi dan layak untuk memberikan kepuasan batin pada dirinya. Sementara bagi saya, keramaian – apapun bentuknya, tradisional ataupun modern – sesungguhnya tidaklah menjadi pilihan.
Pemaknaan yang berlebihan terhadap mal agaknya dapat disebabkan oleh semangat pragmatisme masif yang telah menjadi modal sentral sistem nilai masyarakat modern saat ini. Segala sesuatu cenderung dinilai dengan standar gengsi populer (popular prestige) yang diyakini sebagai hal yang impresif, bonafid dan signifikan (Widiyanto, 2008). Hal ini terjadi dalam segala sisi kehidupan seperti memilih pakaian, bahan makanan, bahkan sekolahan, atau kegiatan rekreasi yang kebanyakan lebih mengacu pada pendapat khalayak. Apakah pakaian yang fashionable, makanan yang well quality, sekolah yang high rating, atau jenis kegiatan rekreasi yang ’berkelas’ seperti mal. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa sadar kita akan mulai kehilangan identitas diri. Segala sesuatu harus sesuai dengan apa yang orang lain kenakan, apa yang orang lain makan, apa yang orang lain lakukan, sehingga kita terperangkap pada hal-hal yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Inilah yang disebut sebagai alienasi oleh Eric Fromm dalam bukunya Escape From Freedom (1961, dalam Widiyanto 2008). Orang yang teralienasi ditandai hilangnya otentitas diri, dan tidak bisa membedakan keinginan diri dengan keinginan orang lain. Model hidup orang yang teralienasi tidak memiliki konsep identitas yang jelas, karena terlalu banyak menyerahkan dirinya pada sesuatu di luar dirinya (other direct focus).
Teman saya ini misalnya, dia mendaftarkan diri menjadi anggota sebuah pusat kecantikan yang ada di sebuah mal di kota Pekanbaru ini dengan membayar sekian ratus ribu dan membeli produk dengan harga sekian ratus ribu pula hanya karena mengikuti teman kantornya yang juga menjadi anggota. Padahal menurut saya, wajahnya tidak memerlukan perawatan khusus yang harus sampai ditangani oleh ahlinya yang memang disediakan di pusat kecantikan itu. Namun sekali lagi, dia sudah terjebak dalam alienasi. Apa yang orang lain lakukan, dia lakukan juga tanpa dia mempertimbangkan lebih dahulu apakah dia benar-benar perlu melakukannya atau tidak. Dia sempat mengajak saya juga untuk mendaftarkan diri tapi saya tolak mentah-mentah. Saya tidak merasa butuh melakukan perawatan itu. Wajah saya “tidak kenapa-kenapa”.
Pemaknaan yang berlebihan terhadap mal juga dapat menimbulkan efek negatif sisi psikologis yang lain. Bisa jadi hal ini menimbulkan gangguan jiwa shopaholic bagi seseorang. Shopaholic menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008; dalam Susilowati, 2008) adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja selalu sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Gejalanya bisa berawal dari bepergian ke mal dengan tujuan agar tampak modern dan “gaul”, lalu tidaklah enak jika tidak membeli, maka dibelilah barang yang sesungguhnya tidak diperlukan. Sekali, dua kali, dan akhirnya menjadi kebiasaan, dan berkembang menjadi gangguan jiwa yang tak tertahankan.
Teman saya ini mungkin belum termasuk kategori shopaholic akut seperti kasus dalam film Confession of A Shopaholic. Namun saya menangkap beberapa kebiasaannya membeli barang – terutama pakaian – yang sesungguhnya tidak dia butuhkan dan memang kenyataannya tidak pernah dipakainya setelah dibeli. Ketika pergi ke mal dengan saya waktu itu, dia sempat hampir membeli sehelai pakaian berbentuk rompi (entah apalah nama trend-nya, saya kurang paham fashion), yang menurut saya modelnya tidak karuan dan sangatlah gampang dibuat oleh ibunya yang tukang jahit bahkan mungkin hanya bermodalkan kain perca saja. Sungguh tak karuan! Tapi menurutnya itu yang sedang tren saat ini. Saya sempat menegurnya dan berkata, “Kalau cuma begitu ibumu juga bisa membuatnya.” Entah karena kata-kata saya itu atau memang tiba-tiba “il-feel” (hilang feeling, atau kehilangan “rasa” untuk melakukan sesuatu), dia tidak jadi membeli kain itu, dan saya bernafas lega.
Kembali pada keberadaan mal tadi, hal ini tentu saja tidak sepenuhnya salah. Keberadaan mal di tengah-tengah masyarakat perkotaan tentu juga memberikan efek-efek positif, terutama dari segi ketenagakerjaan yang banyak terserap karenanya. Namun adalah perlu bagi kita sebagai individu untuk mewaspadai kecenderungan abnormal kita terhadap mal yang dapat menimbulkan efek-efek negatif seperti yang telah dipaparkan diatas. Kini segalanya kembali pada diri kita masing-masing. Mencegah arus modernisasi dan globalisasi tentu saja perkara yang sangat sulit – jika tak ingin menyebutnya tak mungkin – bagi kita sebagai individu, bagian dari masyarakat. Namun membentengi diri dengan pengetahuan, kekuatan jati diri dan karakter, serta tentunya agama, dapat mencegah kita dari pemaknaan yang berlebihan atas keberadaan mal pada khususnya dan modernisasi pada umumnya, sehingga kita terhindar dari alienasi, liminalisasi, homogenisasi, atau apapunlah namanya, yang pada ujungnya menghancurkan identitas diri kita yang sesungguhnya.
Semoga dapat direnungi.
Dalam tulisannya, Marhalim Zaini (selanjutnya disebut MZ) memaparkan keberadaan mal yang sangat menjamur saat ini dari sudut pandang budaya, sesuai bidang pengetahuan yang sedang beliau gali. Tak dapat kita pungkiri bahwa aktivitas pergi ke mal saat ini memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup kota metropolitan atau kota-kota yang sedang beranjak menuju kesana. Dari segi budaya, inilah mungkin yang disebutkan oleh MZ sebagai permainan simbol sosial dan pembentukan identitas kultural. Kasarnya, jangan mengaku orang jaman sekarang jika tidak pernah menginjakkan kaki di mal dan tidak pernah belanja di mal. Bahkan masyarakat dari luar kota besar pun sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi mal di perkotaan pada akhir pekan dengan menyewa satu atau dua bus dari daerah mereka masing-masing sekedar untuk menginjakkan kaki di mal. Ini dapat kita lihat di Pekanbaru kota tercinta kita ini.
Penyimbolan hidup konsumerisme dari kebiasaan ke mal ini tidak hanya dapat dilihat dari sudut pandang budaya. Kita juga dapat menyelaminya dari sisi psikologis seseorang. Makna dari bepergian ke mal bagi orang yang “senang” melakukannya dengan orang yang “sekedar” melakukannya tentu saja berbeda. Contoh kasus adalah antara saya dan teman dekat saya tadi. Bagi teman saya itu, pergi ke mal dapat menghilangkan stressnya, menurut pendapatnya. Namun bagi saya pribadi, pergi ke mal jika tidak ada tujuan justru malah akan menimbulkan stress. Ke mal bagi saya adalah “sekedar” mencari apa yang saya anggap dapat saya temukan dan beli disana. Ini tentu terkait dengan “pemaknaan” mal itu sendiri bagi masing-masing pihak. Bagi teman saya itu, merasa dirinya menjadi bagian dari modernisasi adalah sebuah kebanggaan. Maka ke mal, sebagai bagian dari modernisasi, adalah juga sebuah tempat yang layak dikunjungi dan layak untuk memberikan kepuasan batin pada dirinya. Sementara bagi saya, keramaian – apapun bentuknya, tradisional ataupun modern – sesungguhnya tidaklah menjadi pilihan.
Pemaknaan yang berlebihan terhadap mal agaknya dapat disebabkan oleh semangat pragmatisme masif yang telah menjadi modal sentral sistem nilai masyarakat modern saat ini. Segala sesuatu cenderung dinilai dengan standar gengsi populer (popular prestige) yang diyakini sebagai hal yang impresif, bonafid dan signifikan (Widiyanto, 2008). Hal ini terjadi dalam segala sisi kehidupan seperti memilih pakaian, bahan makanan, bahkan sekolahan, atau kegiatan rekreasi yang kebanyakan lebih mengacu pada pendapat khalayak. Apakah pakaian yang fashionable, makanan yang well quality, sekolah yang high rating, atau jenis kegiatan rekreasi yang ’berkelas’ seperti mal. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa sadar kita akan mulai kehilangan identitas diri. Segala sesuatu harus sesuai dengan apa yang orang lain kenakan, apa yang orang lain makan, apa yang orang lain lakukan, sehingga kita terperangkap pada hal-hal yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Inilah yang disebut sebagai alienasi oleh Eric Fromm dalam bukunya Escape From Freedom (1961, dalam Widiyanto 2008). Orang yang teralienasi ditandai hilangnya otentitas diri, dan tidak bisa membedakan keinginan diri dengan keinginan orang lain. Model hidup orang yang teralienasi tidak memiliki konsep identitas yang jelas, karena terlalu banyak menyerahkan dirinya pada sesuatu di luar dirinya (other direct focus).
Teman saya ini misalnya, dia mendaftarkan diri menjadi anggota sebuah pusat kecantikan yang ada di sebuah mal di kota Pekanbaru ini dengan membayar sekian ratus ribu dan membeli produk dengan harga sekian ratus ribu pula hanya karena mengikuti teman kantornya yang juga menjadi anggota. Padahal menurut saya, wajahnya tidak memerlukan perawatan khusus yang harus sampai ditangani oleh ahlinya yang memang disediakan di pusat kecantikan itu. Namun sekali lagi, dia sudah terjebak dalam alienasi. Apa yang orang lain lakukan, dia lakukan juga tanpa dia mempertimbangkan lebih dahulu apakah dia benar-benar perlu melakukannya atau tidak. Dia sempat mengajak saya juga untuk mendaftarkan diri tapi saya tolak mentah-mentah. Saya tidak merasa butuh melakukan perawatan itu. Wajah saya “tidak kenapa-kenapa”.
Pemaknaan yang berlebihan terhadap mal juga dapat menimbulkan efek negatif sisi psikologis yang lain. Bisa jadi hal ini menimbulkan gangguan jiwa shopaholic bagi seseorang. Shopaholic menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008; dalam Susilowati, 2008) adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja selalu sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Gejalanya bisa berawal dari bepergian ke mal dengan tujuan agar tampak modern dan “gaul”, lalu tidaklah enak jika tidak membeli, maka dibelilah barang yang sesungguhnya tidak diperlukan. Sekali, dua kali, dan akhirnya menjadi kebiasaan, dan berkembang menjadi gangguan jiwa yang tak tertahankan.
Teman saya ini mungkin belum termasuk kategori shopaholic akut seperti kasus dalam film Confession of A Shopaholic. Namun saya menangkap beberapa kebiasaannya membeli barang – terutama pakaian – yang sesungguhnya tidak dia butuhkan dan memang kenyataannya tidak pernah dipakainya setelah dibeli. Ketika pergi ke mal dengan saya waktu itu, dia sempat hampir membeli sehelai pakaian berbentuk rompi (entah apalah nama trend-nya, saya kurang paham fashion), yang menurut saya modelnya tidak karuan dan sangatlah gampang dibuat oleh ibunya yang tukang jahit bahkan mungkin hanya bermodalkan kain perca saja. Sungguh tak karuan! Tapi menurutnya itu yang sedang tren saat ini. Saya sempat menegurnya dan berkata, “Kalau cuma begitu ibumu juga bisa membuatnya.” Entah karena kata-kata saya itu atau memang tiba-tiba “il-feel” (hilang feeling, atau kehilangan “rasa” untuk melakukan sesuatu), dia tidak jadi membeli kain itu, dan saya bernafas lega.
Kembali pada keberadaan mal tadi, hal ini tentu saja tidak sepenuhnya salah. Keberadaan mal di tengah-tengah masyarakat perkotaan tentu juga memberikan efek-efek positif, terutama dari segi ketenagakerjaan yang banyak terserap karenanya. Namun adalah perlu bagi kita sebagai individu untuk mewaspadai kecenderungan abnormal kita terhadap mal yang dapat menimbulkan efek-efek negatif seperti yang telah dipaparkan diatas. Kini segalanya kembali pada diri kita masing-masing. Mencegah arus modernisasi dan globalisasi tentu saja perkara yang sangat sulit – jika tak ingin menyebutnya tak mungkin – bagi kita sebagai individu, bagian dari masyarakat. Namun membentengi diri dengan pengetahuan, kekuatan jati diri dan karakter, serta tentunya agama, dapat mencegah kita dari pemaknaan yang berlebihan atas keberadaan mal pada khususnya dan modernisasi pada umumnya, sehingga kita terhindar dari alienasi, liminalisasi, homogenisasi, atau apapunlah namanya, yang pada ujungnya menghancurkan identitas diri kita yang sesungguhnya.
Semoga dapat direnungi.
Senin, 04 April 2011
"SHOCK THERAPY" AWAL TAHUN 2011...
Terlalu lama aku tak menulis. Mungkin karena itu kesehatan jiwaku agak kurang stabil, karena sesungguhnya menulis dapat membuat jiwa kita lebih stabil kan, karena ada pelampiasan positif atas tekanan yang kita rasakan. Tiga bulan pertama di tahun 2011 ini penuh “kejutan” bagiku. Nyaris seperti shock therapy, yang ujung-ujungnya adalah perenungan diri atas semua yang telah berlalu, semua dosa-dosaku dulu, dan semua yang selalu mengingatkanku agar tidak menjadi orang yang sombong. Terkadang kondisi ‘dicampakkan’ memang baik untuk menekan egoisme kita, agar kita tidak merasa bahwa kita orang yang SELALU hebat, SELALU baik, dan sempurna, karena sesungguhnya sempurna itu takkan pernah ada dalam diri manusia manapun.
Bulan pertama, Allah menegurku dengan mengambil seseorang yang telah ada dalam hidupku selama 10 tahun. Seseorang yang menjalani hubungan tak jelas denganku selama ini, namun sesungguhnya pengharapanku terlalu besar terhadapnya. Belum lagi keinginan orang tua yang berharap aku bisa bersamanya. Aku sudah berusaha mengungkapkan itu padanya, namun dia menolak mentah-mentah. Dia tidak yakin bisa menjadi pasangan yang setia pada pasangannya, karena itu dia tidak mau denganku, karena takutnya nanti mengecewakanku. Semua cerita tentangnya dan tentang harapan orang tuaku itu aku ungkapkan pada seorang teman (perempuan) yang selama ini cukup aku percayai walaupun sebenarnya aku tak terlalu dekat juga dengannya. Namun ternyata di belakangku mereka menjalin kedekatan yang saat ini sudah sampai pada tahap “serius”.. Padahal di awal si lelaki tidak mau karena si perempuan anak orang kaya dan ternama, dan sedari dulu, lelaki yang sangat kukenal luar dalam ini punya prinsip tidak ingin dengan anak orang kaya karena tak mau ada cap “cowok matre” di keningnya. Tapi kata-kata tinggal kata-kata.. Ternyata mungkin memang lebih enak naik mobil daripada panas-panasan diatas motor butut, ya tohh.... Apapun, dan bagaimanapun.., aku hanya menganggap semua ini sebagai jalan yang telah dibuat Allah untuk mengubur dalam-dalam harapan itu dan mencoba mencari yang lebih baik dan lebih baik dan jauh jauh jauh lebih baik...
Bulan kedua, aku tidak terlalu berharap. Namun ada sedikit rasa yang aku pendam padanya. Namun lelaki itu lebih memilih kedekatan dengan wanita bersuami tanpa memikirkan perkataan-perkataan miring semua orang terhadap hubungan mereka yang jelas-jelas amat sangat tidak sehat. Sudah sering aku melihat mereka, namun kali itu tak ada yang melebihi panas mendidih darahku.. Entah kenapa sekali itu amarahku yang dipicu oleh cemburu meledak tak alang-kepalang.., sehingga aku “mendepak” lelaki itu dari hidupku.. Aku tak ingin berurusan dengan orang yang terlalu “buta” yang tak pernah bisa menimbang-nimbang mana yang baik dan yang buruk. Lepas lagi satu harapanku.
Bulan ketiga, entah kenapa mendadak aku teringat dirinya. Seorang teman sekolah lama yang pernah sempat dekat beberapa tahun yang lalu setelah menginjak masa dewasa ini. Sempat berpengharapan padanya atas kedekatan itu, tapi mendadak dia “menghilang”. Mendadak juga aku terkenang dirinya saat itu, berniat untuk menanyakan keberadaannya pada teman yang lain, jikalau masih ada waktu untuk berhubungan, tapi yang aku temukan dari teman lain ternyata adalah UNDANGAN PERNIKAHAN-nya, dengan seorang wanita yang dulu juga teman sekolah, dan dulu adalah kembang sekolah, dan yang tak alang-kepalang cantiknya.... Yah..aku tahu.., aku memang “cuma begini”....
Tiga kali shock therapy, Tuhanku, dan dalam keadaan ini yang aku rasakan hanyalah bahwa sesungguhnya aku adalah makhluk kerdil hina-dina yang tak lebih dari sebutir pasir di pinggir samudra duniamu yang maha luas... Tak ada satu mili pun dari diriku yang patut aku sombongkan, karena bukanlah seseorang yang pantas sombong jika dalam hidupnya selalu dicampakkan... Terima kasih, Ya Robb, Engkau selalu mampu “mengingatkan”-ku sehingga aku benar-benar tak pernah mendapat kesempatan untuk menyombongkan diri.. Teruslah uji aku, sehingga aku menjadi hamba yang benar-benar “teruji”....
(Meja Kantor, 4 April 2011)
Bulan pertama, Allah menegurku dengan mengambil seseorang yang telah ada dalam hidupku selama 10 tahun. Seseorang yang menjalani hubungan tak jelas denganku selama ini, namun sesungguhnya pengharapanku terlalu besar terhadapnya. Belum lagi keinginan orang tua yang berharap aku bisa bersamanya. Aku sudah berusaha mengungkapkan itu padanya, namun dia menolak mentah-mentah. Dia tidak yakin bisa menjadi pasangan yang setia pada pasangannya, karena itu dia tidak mau denganku, karena takutnya nanti mengecewakanku. Semua cerita tentangnya dan tentang harapan orang tuaku itu aku ungkapkan pada seorang teman (perempuan) yang selama ini cukup aku percayai walaupun sebenarnya aku tak terlalu dekat juga dengannya. Namun ternyata di belakangku mereka menjalin kedekatan yang saat ini sudah sampai pada tahap “serius”.. Padahal di awal si lelaki tidak mau karena si perempuan anak orang kaya dan ternama, dan sedari dulu, lelaki yang sangat kukenal luar dalam ini punya prinsip tidak ingin dengan anak orang kaya karena tak mau ada cap “cowok matre” di keningnya. Tapi kata-kata tinggal kata-kata.. Ternyata mungkin memang lebih enak naik mobil daripada panas-panasan diatas motor butut, ya tohh.... Apapun, dan bagaimanapun.., aku hanya menganggap semua ini sebagai jalan yang telah dibuat Allah untuk mengubur dalam-dalam harapan itu dan mencoba mencari yang lebih baik dan lebih baik dan jauh jauh jauh lebih baik...
Bulan kedua, aku tidak terlalu berharap. Namun ada sedikit rasa yang aku pendam padanya. Namun lelaki itu lebih memilih kedekatan dengan wanita bersuami tanpa memikirkan perkataan-perkataan miring semua orang terhadap hubungan mereka yang jelas-jelas amat sangat tidak sehat. Sudah sering aku melihat mereka, namun kali itu tak ada yang melebihi panas mendidih darahku.. Entah kenapa sekali itu amarahku yang dipicu oleh cemburu meledak tak alang-kepalang.., sehingga aku “mendepak” lelaki itu dari hidupku.. Aku tak ingin berurusan dengan orang yang terlalu “buta” yang tak pernah bisa menimbang-nimbang mana yang baik dan yang buruk. Lepas lagi satu harapanku.
Bulan ketiga, entah kenapa mendadak aku teringat dirinya. Seorang teman sekolah lama yang pernah sempat dekat beberapa tahun yang lalu setelah menginjak masa dewasa ini. Sempat berpengharapan padanya atas kedekatan itu, tapi mendadak dia “menghilang”. Mendadak juga aku terkenang dirinya saat itu, berniat untuk menanyakan keberadaannya pada teman yang lain, jikalau masih ada waktu untuk berhubungan, tapi yang aku temukan dari teman lain ternyata adalah UNDANGAN PERNIKAHAN-nya, dengan seorang wanita yang dulu juga teman sekolah, dan dulu adalah kembang sekolah, dan yang tak alang-kepalang cantiknya.... Yah..aku tahu.., aku memang “cuma begini”....
Tiga kali shock therapy, Tuhanku, dan dalam keadaan ini yang aku rasakan hanyalah bahwa sesungguhnya aku adalah makhluk kerdil hina-dina yang tak lebih dari sebutir pasir di pinggir samudra duniamu yang maha luas... Tak ada satu mili pun dari diriku yang patut aku sombongkan, karena bukanlah seseorang yang pantas sombong jika dalam hidupnya selalu dicampakkan... Terima kasih, Ya Robb, Engkau selalu mampu “mengingatkan”-ku sehingga aku benar-benar tak pernah mendapat kesempatan untuk menyombongkan diri.. Teruslah uji aku, sehingga aku menjadi hamba yang benar-benar “teruji”....
(Meja Kantor, 4 April 2011)
Jumat, 31 Desember 2010
Apakah Hidup Anda Lebih Bermakna?
Dulu, waktu aku masih kuliah (bisa dibilang masih ABG), setiap tahun selalu (benar-benar selalu) merayakan pergantian tahun bersama teman-teman. Kami selalu merayakannya di rumah salah seorang teman yang memang selalu menyediakan rumahnya untuk acara itu. Acara diawali dengan memasak ayam bakar beramai-ramai. Setelah ayam masak, lalu kami memakannya bersama-sama. Setelah perut kenyang, kami menunggu jam 12 malam sambil sesekali mencuri lihat ke acara tahun baruan di TV untuk mengecek apakah sudah saatnya membunyikan terompet. Tepat jam 12 malam, seiring dengan kehebohan yang terjadi di TV dan di jalanan, kami pun meniupkan terompet tahun baru yang dibeli di pinggiran jalan, baru tadi sorenya. Sorak-sorai kami pun terdengar menyambut datangnya tahun baru, walaupun toh esoknya tidak ada yang berubah dari diri kami, tidak juga lebih baik. Kegembiraan satu malam itu hanya menyisakan rasa lelah, ngantuk, dan buntut-buntutnya masuk angin!
Malam tahun baru terakhir yang aku rayakan adalah malam tahun baru 2004, dimana keesokan harinya, hari pertama tahun 2004, 1 Januari 2004, aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai dan hormati dalam hidupku, Bapak. Sejak itu aku tidak pernah merayakan malam tahun baru lagi dalam hidupku. Karena aku menganggap, kalau aku merayakan malam tahun baru, berarti aku merayakan kepergian Bapak yang tidak pernah kembali itu. Dan aku tidak mau seperti itu. Bukan karena anggapan orang lain, tapi itu hanya persepsi pribadiku, yang kalau aku langgar aku jadi malu pada diri sendiri.
Setelah tidak pernah merayakan malam tahun baru lagi, aku justru malah lebih merasakan makna hidup. Aku jadi lebih merasa pergantian tahun itu adalah sesuatu yang seharusnya memang tidak untuk di-hip-hip-hura-kan. Terkadang sekarang aku jadi malu pernah merayakan malam tahun baru seperti dulu, walaupun kini aku punya satu pembelaan diri yang lumayan masuk akal, “namanya juga ABG”. Makanya kalau sekarang aku masih merayakan juga, aku justru akan bertanya pada diri sendiri, “Gunanya apa? Apa bisa bikin hidup lebih bermakna?” Yang lebih menggelikan lagi kalau yang ikut merayakan itu orang-orang tua yang justru dengan bangganya tersenyum melihat anaknya yang masih ABG bersorak-sorai sambil meniup terompet tahun baru pada malam pergantian tahun itu. Mereka seolah merasa sudah menjadi orang tua teladan karena membiarkan anaknya meluapkan kegembiraan “ga penting” itu justru di depan mata mereka sendiri.
Tapi aku tidak berniat menyalahkan siapapun yang merayakan malam pergantian tahun. Itu hak pribadi masing-masing, hak asasi manusia istilah kerennya di negara kita “tercinta” ini. Dan orang-orang yang ingin merayakan malam tahun baru dengan hura-hura itu lebih memiliki hak asasi manusia daripada para korban bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, yang seharusnya mendapat hak asasi manusia mereka berupa bantuan atau setidaknya empati dari rekan sebangsanya dengan tidak merayakan alam tahun baru karena mentolerir perasaan sedih yang mereka alami. Definisi hak asasi manusia di negeri ini memang terbatas hanya untuk yang “enak-enak” saja.
Jadi kesimpulannya, bagaimanapun cara kita merayakan malam tahun baru, bukanlah esensi dari datangnya tahun baru itu sendiri. Yang lebih perlu kita persiapkan seharusnya bukannya bagaimana membuat pesta tahun baru yang meriah, atau makanan apa yang akan disajikan, berapa banyak kembang api yang kita siapkan, seberapa menggelegar petasan yang kita ledakkan, melainkan bagaimana kita menyikapi tahun yang baru dengan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk mengubah hati kita menjadi lebih sensitif, lebih peduli, dengan rekan-rekan kita yang tidak seberuntung kita dalam hidupnya. Tidak harus menyalurkan bantuan jika kita tidak mampu (atau tidak memampukan diri), tapi setidaknya, tidak membuat mereka bertambah sedih dengan ketidaktoleransian yang kita lakukan.
“Yang berarti dalam hidup ini bukan berapa banyak tahun dalam hidup, tapi berapa banyak hidup dalam tahun-tahun yang kita lewati” (NN).
Malam tahun baru terakhir yang aku rayakan adalah malam tahun baru 2004, dimana keesokan harinya, hari pertama tahun 2004, 1 Januari 2004, aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai dan hormati dalam hidupku, Bapak. Sejak itu aku tidak pernah merayakan malam tahun baru lagi dalam hidupku. Karena aku menganggap, kalau aku merayakan malam tahun baru, berarti aku merayakan kepergian Bapak yang tidak pernah kembali itu. Dan aku tidak mau seperti itu. Bukan karena anggapan orang lain, tapi itu hanya persepsi pribadiku, yang kalau aku langgar aku jadi malu pada diri sendiri.
Setelah tidak pernah merayakan malam tahun baru lagi, aku justru malah lebih merasakan makna hidup. Aku jadi lebih merasa pergantian tahun itu adalah sesuatu yang seharusnya memang tidak untuk di-hip-hip-hura-kan. Terkadang sekarang aku jadi malu pernah merayakan malam tahun baru seperti dulu, walaupun kini aku punya satu pembelaan diri yang lumayan masuk akal, “namanya juga ABG”. Makanya kalau sekarang aku masih merayakan juga, aku justru akan bertanya pada diri sendiri, “Gunanya apa? Apa bisa bikin hidup lebih bermakna?” Yang lebih menggelikan lagi kalau yang ikut merayakan itu orang-orang tua yang justru dengan bangganya tersenyum melihat anaknya yang masih ABG bersorak-sorai sambil meniup terompet tahun baru pada malam pergantian tahun itu. Mereka seolah merasa sudah menjadi orang tua teladan karena membiarkan anaknya meluapkan kegembiraan “ga penting” itu justru di depan mata mereka sendiri.
Tapi aku tidak berniat menyalahkan siapapun yang merayakan malam pergantian tahun. Itu hak pribadi masing-masing, hak asasi manusia istilah kerennya di negara kita “tercinta” ini. Dan orang-orang yang ingin merayakan malam tahun baru dengan hura-hura itu lebih memiliki hak asasi manusia daripada para korban bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, yang seharusnya mendapat hak asasi manusia mereka berupa bantuan atau setidaknya empati dari rekan sebangsanya dengan tidak merayakan alam tahun baru karena mentolerir perasaan sedih yang mereka alami. Definisi hak asasi manusia di negeri ini memang terbatas hanya untuk yang “enak-enak” saja.
Jadi kesimpulannya, bagaimanapun cara kita merayakan malam tahun baru, bukanlah esensi dari datangnya tahun baru itu sendiri. Yang lebih perlu kita persiapkan seharusnya bukannya bagaimana membuat pesta tahun baru yang meriah, atau makanan apa yang akan disajikan, berapa banyak kembang api yang kita siapkan, seberapa menggelegar petasan yang kita ledakkan, melainkan bagaimana kita menyikapi tahun yang baru dengan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk mengubah hati kita menjadi lebih sensitif, lebih peduli, dengan rekan-rekan kita yang tidak seberuntung kita dalam hidupnya. Tidak harus menyalurkan bantuan jika kita tidak mampu (atau tidak memampukan diri), tapi setidaknya, tidak membuat mereka bertambah sedih dengan ketidaktoleransian yang kita lakukan.
“Yang berarti dalam hidup ini bukan berapa banyak tahun dalam hidup, tapi berapa banyak hidup dalam tahun-tahun yang kita lewati” (NN).
Minggu, 31 Oktober 2010
Sebungkus Rindu
Maukah kau kukirimi sebungkus rindu
Yang kuanyam dari daun cinta
Kupetik dari pohon hati
Walau pernah kau tebang
Namun dia tumbuh lagi
Karena kuberi pupuk ketulusan
Yang takkan mati walau tak disirami
(01062010)
Sudah lama aku mengharapkan sebuah pertemuan. Sejak lebih dari satu tahun kita bahkan tak saling melihat foto. Namun aku tak perlu tahu bagaimana rupamu saat ini karena sosokmu selalu hadir dalam hatiku. Sejauh apapun engkau telah berubah, namun artimu dalam hatiku tidak – atau setidak-tidaknya belum – berubah. Hatiku agak mendua ketika menetapkan ingin merancang pertemuan yang belum sempat terjadi itu. Aku tahu berita dan ramalan di banyak media mengatakan akan ada bencana besar di tempatmu berada. Aku ragu, antara percaya dengan tidak. Kalaupun aku tak percaya, jika aku nekad menemuimu, dan ternyata sesuatu terjadi padaku, ya sudahlah...., berarti itu takdir. Namun sesuatu yang lain menghentikan keinginan itu. Teman yang sedianya akan menjadi teman seperjalanan, ternyata membatalkan niatnya untuk menemui keluarga di kota yang sama denganmu. Aku sedikit kecewa, namun juga lega. Di satu sisi keraguanku terjawab, namun di sisi lain rasa rindu yang sudah membuncah ini tetap tak dapat kubendung.
Aku tahu – bahkan yakin seyakin-yakinnya – bahwa jauh di lubuk hatimu, engkau juga mengharapkan hal yang sama denganku. Itu tak dapat disembunyikan ketika aku sempat menanyakan tentang suatu tempat yang ada di kotamu, engkau bukannya menjawab pertanyaanku, malah bertanya apakah aku akan berkunjung kesana, yang artinya ke kotamu, dan itu juga berarti akan ada kesempatan bertemu. Aku tertawa mendengar antusiasme yang engkau tunjukkan, sesuatu yang sangat jarang kelihatan di dirimu yang begitu ‘dingin’ dan ‘datar’, yang nyaris tanpa emosi selama ini.
Tapi kemungkinan, keinginanku untuk segera bertemu denganmu akan terwujud sebentar lagi. Aku mendapat kesempatan kedua, dan itu takkan ku sia-siakan. Apapun yang terjadi, aku harus pergi... Meski disana kita hanya bisa saling bertatap muka tanpa ada satu kata pun yang terucap, yang selama ini mengganjal di hati kita, yang membuat kita berpisah walau sejujurnya bukan itu yang kita inginkan. Kuharap semua ketakutan dan beban yang selama ini mengganjal kita, akan terbang bersamaan dengan pertemuan kita. Walau mungkin itu takkan mengubah apa yang sudah terjadi diantara kita, dan aku pun tak berharap ada sesuatu yang terjadi sesudahnya. Biarlah waktu yang menjawab, seperti yang selalu engkau ucapkan padaku...
Yang kuanyam dari daun cinta
Kupetik dari pohon hati
Walau pernah kau tebang
Namun dia tumbuh lagi
Karena kuberi pupuk ketulusan
Yang takkan mati walau tak disirami
(01062010)
Sudah lama aku mengharapkan sebuah pertemuan. Sejak lebih dari satu tahun kita bahkan tak saling melihat foto. Namun aku tak perlu tahu bagaimana rupamu saat ini karena sosokmu selalu hadir dalam hatiku. Sejauh apapun engkau telah berubah, namun artimu dalam hatiku tidak – atau setidak-tidaknya belum – berubah. Hatiku agak mendua ketika menetapkan ingin merancang pertemuan yang belum sempat terjadi itu. Aku tahu berita dan ramalan di banyak media mengatakan akan ada bencana besar di tempatmu berada. Aku ragu, antara percaya dengan tidak. Kalaupun aku tak percaya, jika aku nekad menemuimu, dan ternyata sesuatu terjadi padaku, ya sudahlah...., berarti itu takdir. Namun sesuatu yang lain menghentikan keinginan itu. Teman yang sedianya akan menjadi teman seperjalanan, ternyata membatalkan niatnya untuk menemui keluarga di kota yang sama denganmu. Aku sedikit kecewa, namun juga lega. Di satu sisi keraguanku terjawab, namun di sisi lain rasa rindu yang sudah membuncah ini tetap tak dapat kubendung.
Aku tahu – bahkan yakin seyakin-yakinnya – bahwa jauh di lubuk hatimu, engkau juga mengharapkan hal yang sama denganku. Itu tak dapat disembunyikan ketika aku sempat menanyakan tentang suatu tempat yang ada di kotamu, engkau bukannya menjawab pertanyaanku, malah bertanya apakah aku akan berkunjung kesana, yang artinya ke kotamu, dan itu juga berarti akan ada kesempatan bertemu. Aku tertawa mendengar antusiasme yang engkau tunjukkan, sesuatu yang sangat jarang kelihatan di dirimu yang begitu ‘dingin’ dan ‘datar’, yang nyaris tanpa emosi selama ini.
Tapi kemungkinan, keinginanku untuk segera bertemu denganmu akan terwujud sebentar lagi. Aku mendapat kesempatan kedua, dan itu takkan ku sia-siakan. Apapun yang terjadi, aku harus pergi... Meski disana kita hanya bisa saling bertatap muka tanpa ada satu kata pun yang terucap, yang selama ini mengganjal di hati kita, yang membuat kita berpisah walau sejujurnya bukan itu yang kita inginkan. Kuharap semua ketakutan dan beban yang selama ini mengganjal kita, akan terbang bersamaan dengan pertemuan kita. Walau mungkin itu takkan mengubah apa yang sudah terjadi diantara kita, dan aku pun tak berharap ada sesuatu yang terjadi sesudahnya. Biarlah waktu yang menjawab, seperti yang selalu engkau ucapkan padaku...
Selasa, 26 Oktober 2010
Tuhan Sedang Marah..???
“Tuhan sedang marah…!” Banyak yang berkata begitu jika musibah, bencana dan kerugian-kerugian lainnya telah menimpa suatu kaum. Benarkah Tuhan “marah”…? Tuhan tidak pernah marah, Dia-lah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Lalu jika ada bencana bertubi-tubi yang datang, lalu apakah itu berarti bukan berarti Tuhan ”kehabisan kesabaran” menghadapi tingkah laku manusia yang sudah sangat jauh dari segala perintahnya...?
Tuhan tidak pernah lelah. Dia tidak memiliki batas sabar. Tak ada batas atas segala sifat yang melekat pada-Nya. Segala sesuatu di dunia ini adalah kecil di hadapannya. Jadi untuk apa Dia ”kehabisan kesabaran” menghadapi manusia yang seringkali tidak mensyukuri nikmat. Kita syukuri atau tidak pun nikmat itu, tidak akan ada bedanya bagi-Nya. Lalu apa sebenarnya maksud Tuhan memberikan semua musibah itu? Bertubi-tubi pula...
Tak ada satupun yang dilakukan Tuhan kepada hamba-Nya melainkan atas dasar kasih sayang. Sesungguhnya semua musibah itu pun adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada kita. Mengapa? Coba kalau tidak ada musibah, tidak ada bencana, akankah kita mengingat-Nya? Akankah kita saling membantu sesama? Dalam kehidupan yang serba individualistis ini, segala sesuatu dihitung dengan materi. Tidak semua memang, namun secara umum begitu. Nah, jika kehidupan kita lancar-lancar saja, lurus-lurus saja, akankah kita mengingat saudara-saudara kita yang masih sangat kekurangan..? Jarang.., jika pun ada, persentasenya hanya sebagian, separuhlah anggap saja...
Tuhan ingin “mengingatkan” kita, wahai manusia, kita hidup di dunia ini tidak untuk diri kita sendiri. Tidak untuk keluarga kita sendiri, tidak untuk kelompok kita sendiri. Kita mempunyai begitu banyak “saudara” yang harus kita bantu, tolong, paling tidak sedikit perhatian saja. Kita sudah begitu cueknya dengan keadaan di sekitar kita, dengan alam tempat kita tinggal, sehingga Tuhan merasa sudah saatnya bagi kita diberi peringatan agar perbuatan kita tidak jauh melebihi batas lagi, yang akan berakibat lebih buruk lagi. Tidakkah kita sadari juga itu...?
Sekarang, dengan adanya musibah dan bencana dimana-mana, di sekeliling kita, di negeri kita, tidakkah hati kita tergerak untuk membantu..? Pasti tergerak... Itulah hikmah dari musibah dan bencana.., untuk menyentuh hati manusia yang sesungguhnya halus namun sering bersembunyi di balik tuntutan zaman yang katanya “keras”...
Ya Allah Azza Wa Jalla, Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun dan segala Maha.., takkan kami sesali semua bencana ini, karena sesungguhnya Engkau melakukan semua ini atas dasar kasih sayang-Mu pada kami... Berilah kami kesanggupan untuk mengambil hikmah yang sengaja Engkau tunjukkan pada kami....
* * *
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32:21)
"Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, "aamannaa" (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta" (Al Ankabuut, 29 : 2-3)
"Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (Al Baqarah, 2 : 216)
Tuhan tidak pernah lelah. Dia tidak memiliki batas sabar. Tak ada batas atas segala sifat yang melekat pada-Nya. Segala sesuatu di dunia ini adalah kecil di hadapannya. Jadi untuk apa Dia ”kehabisan kesabaran” menghadapi manusia yang seringkali tidak mensyukuri nikmat. Kita syukuri atau tidak pun nikmat itu, tidak akan ada bedanya bagi-Nya. Lalu apa sebenarnya maksud Tuhan memberikan semua musibah itu? Bertubi-tubi pula...
Tak ada satupun yang dilakukan Tuhan kepada hamba-Nya melainkan atas dasar kasih sayang. Sesungguhnya semua musibah itu pun adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada kita. Mengapa? Coba kalau tidak ada musibah, tidak ada bencana, akankah kita mengingat-Nya? Akankah kita saling membantu sesama? Dalam kehidupan yang serba individualistis ini, segala sesuatu dihitung dengan materi. Tidak semua memang, namun secara umum begitu. Nah, jika kehidupan kita lancar-lancar saja, lurus-lurus saja, akankah kita mengingat saudara-saudara kita yang masih sangat kekurangan..? Jarang.., jika pun ada, persentasenya hanya sebagian, separuhlah anggap saja...
Tuhan ingin “mengingatkan” kita, wahai manusia, kita hidup di dunia ini tidak untuk diri kita sendiri. Tidak untuk keluarga kita sendiri, tidak untuk kelompok kita sendiri. Kita mempunyai begitu banyak “saudara” yang harus kita bantu, tolong, paling tidak sedikit perhatian saja. Kita sudah begitu cueknya dengan keadaan di sekitar kita, dengan alam tempat kita tinggal, sehingga Tuhan merasa sudah saatnya bagi kita diberi peringatan agar perbuatan kita tidak jauh melebihi batas lagi, yang akan berakibat lebih buruk lagi. Tidakkah kita sadari juga itu...?
Sekarang, dengan adanya musibah dan bencana dimana-mana, di sekeliling kita, di negeri kita, tidakkah hati kita tergerak untuk membantu..? Pasti tergerak... Itulah hikmah dari musibah dan bencana.., untuk menyentuh hati manusia yang sesungguhnya halus namun sering bersembunyi di balik tuntutan zaman yang katanya “keras”...
Ya Allah Azza Wa Jalla, Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun dan segala Maha.., takkan kami sesali semua bencana ini, karena sesungguhnya Engkau melakukan semua ini atas dasar kasih sayang-Mu pada kami... Berilah kami kesanggupan untuk mengambil hikmah yang sengaja Engkau tunjukkan pada kami....
* * *
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32:21)
"Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, "aamannaa" (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta" (Al Ankabuut, 29 : 2-3)
"Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (Al Baqarah, 2 : 216)
Senin, 11 Oktober 2010
Bangkit dari Rasa Kehilangan
1 Januari 2004 adalah titik tolak hidupku. Pada hari itu aku kehilangan orang yang paling kucintai dan kukagumi di dunia ini, Bapak. Bapak meninggalkan kami semua setelah berbulan-bulan mencoba melawan kanker prostat yang menggerogoti tubuh beliau.
Bagiku kematian adalah satu hal yang pasti akan datang pada kita, entah pada diri kita sendiri atau pada orang-orang terdekat kita, dan itu adalah sesuatu yang harus kita persiapkan kapan saja harus dihadapi. Tapi aku juga tidak munafik bahwa kehilangan itu sangat menampar kehidupanku.
Yang jadi masalah utama adalah waktu kehilangan itu. Aku kehilangan Bapak justru saat aku sangat membutuhkan kehadiran beliau, pada tahun terakhir kuliahku, saat aku sangat membutuhkan dukungan dan bantuan beliau untuk menyelesaikan skripsiku, karena kebetulan bidang kami sama. Aku sempat ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Aku ingin marah, kenapa Bapak tidak menungguku selesai kuliah? Kenapa Bapak tidak ingin melihatku memakai pakaian kebesaran itu, toga itu, dan menyandang gelar yang sama dengan beliau? Kenapa aku diharuskan berjuang sendiri menghadapi saat-saat paling sulit dan paling menentukan masa depanku? Terus terang aku sempat putus asa dan berpikir tidak ada gunanya menyelesaikan kuliah, toh Bapak tidak akan bisa melihat. Tapi syukur aku langsung sadar bahwa aku masih punya Ibu, yang tidak kalah berharganya dalam hidupku, bahkan sangat-sangat berharga. Aku jadi sadar, bahwa sekaranglah saatnya aku membahagiakan Ibu, membesarkan hati Ibu yang pastinya sangat ‘jatuh’ setelah kehilangan Bapak. Karenanya, dengan keringat dan air mata, aku mencoba bangkit dari rasa kehilangan itu, dan mencoba mengejar masa depanku dari puing-puing kesedihan dan khilangan itu.
Kehilangan orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat tidak kita inginkan dalam hidup ini tapi justru adalah sesuatu yang pasti kita alami. Tak pernah ada satu orang pun yang menginginkan hal ini terjadi pada dirinya. Namun juga kita tidak punya kuasa untuk mencegah hal tersebut jika terlanjur terjadi pada kita.
Ingatlah bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini sudah ada yang mengaturnya, tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang kita alami. Karena di balik keburukan pasti ada kebaikan, sebaliknya di balik kebaikan juga ada keburukan. Satu hal lagi, jangan pernah berburuk sangka pada Tuhan dengan mengatakan bahwa semua ini terjadi karena Tuhan tidak menyayangi kita. Tapi yakinlah bahwa justru Tuhan memberi ujian dan cobaan yang berat pada umat yang dicintai-Nya agar dapat mengambil hikmah dan menjadi insan yang lebih baik.
"Kita baru akan menyadari arti kehadiran seseorang jika kita telah kehilangan dirinya." For my beloved Daddy - 1 Januari 2004
Bagiku kematian adalah satu hal yang pasti akan datang pada kita, entah pada diri kita sendiri atau pada orang-orang terdekat kita, dan itu adalah sesuatu yang harus kita persiapkan kapan saja harus dihadapi. Tapi aku juga tidak munafik bahwa kehilangan itu sangat menampar kehidupanku.
Yang jadi masalah utama adalah waktu kehilangan itu. Aku kehilangan Bapak justru saat aku sangat membutuhkan kehadiran beliau, pada tahun terakhir kuliahku, saat aku sangat membutuhkan dukungan dan bantuan beliau untuk menyelesaikan skripsiku, karena kebetulan bidang kami sama. Aku sempat ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Aku ingin marah, kenapa Bapak tidak menungguku selesai kuliah? Kenapa Bapak tidak ingin melihatku memakai pakaian kebesaran itu, toga itu, dan menyandang gelar yang sama dengan beliau? Kenapa aku diharuskan berjuang sendiri menghadapi saat-saat paling sulit dan paling menentukan masa depanku? Terus terang aku sempat putus asa dan berpikir tidak ada gunanya menyelesaikan kuliah, toh Bapak tidak akan bisa melihat. Tapi syukur aku langsung sadar bahwa aku masih punya Ibu, yang tidak kalah berharganya dalam hidupku, bahkan sangat-sangat berharga. Aku jadi sadar, bahwa sekaranglah saatnya aku membahagiakan Ibu, membesarkan hati Ibu yang pastinya sangat ‘jatuh’ setelah kehilangan Bapak. Karenanya, dengan keringat dan air mata, aku mencoba bangkit dari rasa kehilangan itu, dan mencoba mengejar masa depanku dari puing-puing kesedihan dan khilangan itu.
Kehilangan orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat tidak kita inginkan dalam hidup ini tapi justru adalah sesuatu yang pasti kita alami. Tak pernah ada satu orang pun yang menginginkan hal ini terjadi pada dirinya. Namun juga kita tidak punya kuasa untuk mencegah hal tersebut jika terlanjur terjadi pada kita.
Ingatlah bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini sudah ada yang mengaturnya, tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang kita alami. Karena di balik keburukan pasti ada kebaikan, sebaliknya di balik kebaikan juga ada keburukan. Satu hal lagi, jangan pernah berburuk sangka pada Tuhan dengan mengatakan bahwa semua ini terjadi karena Tuhan tidak menyayangi kita. Tapi yakinlah bahwa justru Tuhan memberi ujian dan cobaan yang berat pada umat yang dicintai-Nya agar dapat mengambil hikmah dan menjadi insan yang lebih baik.
"Kita baru akan menyadari arti kehadiran seseorang jika kita telah kehilangan dirinya." For my beloved Daddy - 1 Januari 2004
Kamis, 27 September 2007
The Blind Newspaper Boy
Baru sekali ini aku melihatnya walaupun aku melewati persimpangan lampu
merah itu setiap hari. Di persimpangan itu, seperti biasa banyak penjaja koran
yang lalu lalang, dari pagi sampai malam menawarkan koran-koran dagangannya itu
kepada setiap pemakai jalan, entah yang naik mobil, motor, ataupun penumpang
angkot. Tapi pagi ini ada satu hal yang membuatku tercengang. Salah seorang
penjaja koran jalanan itu, seorang pemuda, paling tua mungkin seumuranku, tapi sepertinya
lebih muda lagi, berjalan agak pelan dan satu-satu ke tengah kerumunan
kendaraan yang sedang menunggu lampu merah berubah jadi hijau. Aku sempat heran
melihat jalannya yang pelan itu, setelah dekat baru aku bisa melihat dengan
jelas, ternyata kedua matanya hanya berwarna putih.., alias buta... Beberapa
penumpang lainnya juga sempat memandangi pemuda itu. Dia dengan santainya
‘menjerumuskan’ diri ke tengah jalan yang penuh kendaraan itu tanpa takut
risikonya padahal dia tidak bisa meliat lalu lalang kendaraan, mungkin saja
dari sekian banyak kendaraan itu ada yang nyaris menabrak dia. Mungkin dia
mengandalkan indra lainnya seperti telinga dan yang jelas intuisinya untuk
merasakan apa ada bahaya yang datang. Lalu gimana dia bisa memastikan orang
yang membeli korannya akan membayar dengan jumlah uang yang sebenarnya
sementara dia sendiri ga bisa meliat. Hhhh...satu hal yang aku sendiri ga habis
pikir.. Tapi orang seperti itu memang patut diacungi jempol. Dengan
keterbatasan fisik yang dimilikinya, dia ga lantas merasa dirinya useless.
Malah dia bisa membuat dirinya berguna, paling ga untuk dirinya sendiri, dengan
ga menjadi beban bagi orang lain. Malah pekerjaannya itu bisa menguntungkan orang
lain, agen koran itu misalnya, mungkin juga keluarganya, yang dengan
pekerjaannya itu bisa dihidupinya walaupun mungkin pas-pasan. Sementara kita
yang mungkin ga punya kekurangan apapun kadang seenaknya membebani orang lain,
tanpa merasa bersalah pula. Ck..ck..ck... Melihat kejadian seperti ini, aku
jadi menyadari bahwa Tuhan memang adil..
Kamis, 20 September 2007
Membunuh Rasa Cinta Terlarang
Lala sedang bingung,
dia sedang menghadapi dilema. Dia jatuh cinta pada seorang pria yang sudah
menikah. Pria itu adalah rekan sekantornya yang baru bergabung. Pria itu
bukanlah orang yang mempunyai kelebihan secara fisik, namun dia mempunyai bakat
dan karakter yang sangat mengagumkan yang pastinya dapat mempesona banyak
wanita. Awalnya dia mencoba untuk menepis rasa itu, namun semakin lama rasa itu
semakin berkembang, ditambah lagi
dengan sikap si pria yang sepertinya juga memberi angin. Akhirnya setelah
mengumpulkan segenap keberanian, Lala mengungkapkan perasaannya kepada si pria,
dengan segala konsekuensi yang mungkin harus ditanggungnya. Namun siapa sangka,
ternyata respon si pria justru malah membuatnya bertambah bingung, karena
ternyata pria itu mempunyai perasaan yang sama dengannya, walaupun dia sudah
mempunyai anak dan istri. Bahkan pria itu ingin agar hubungan mereka tetap
berjalan seperti adanya, tanpa salah satu harus menjauh. Bahkan dia sempat
sedikit menggertak, kalau Lala berubah sikap, dia akan keluar dari perusahaan
itu. Lalu apa yang harus diperbuat Lala?
Situasi diatas memang
bukan situasi yang mudah untuk dihadapi. Tapi kita mungkin bisa sedikit
merenungi hikmahnya. Jika anda salah satu wanita yang mungkin sedang menghadapi
masalah diatas, mungkin langkah-langkah berikut bisa dicoba:
- Yakinkan diri, apakah perasaan itu benar-benar cinta atau hanya kekaguman dan simpati yang amat sangat. Rasa kagum pada orang yang secara bakat dan karakter bisa dikatakan sempurna adalah hal yang sangat wajar. Simpati dan kagum pada orang seperti itu belum bisa disimpulkan sebagai cinta. Cinta adalah sebuah rasa yang tidak mempunyai alasan datangnya. Jika kita merasa nyaman dengan orang yang amat sangat ‘biasa’ dari segi karakter dan bakat, itu baru cinta. Jadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan perasaan itu sebagai cinta.
- Jika anda orang yang sudah dalam usia dewasa dan sedang dalam pencarian jodoh, maka fokus pada pencarian jodoh itu saja. Untuk mencari jodoh, kita tidak bisa hanya melihat seseorang dari kesempurnaan bakat dan pribadi saja. Tapi kita juga harus bisa melihat apakah orang itu mempunyai potensi untuk membahagiakan kita lahir batin. Kondisi pria yang sudah mempunyai keluarga sangatlah tidak memungkinkan untuk itu. Karenanya cobalah sekuat mungkin untuk meredam rasa itu dengan cara menjarak darinya. Jangan pedulikan apapun gertakannya jika kita berubah. Kalau dia memang begitu berarti dia adalah orang yang berjiwa sangat kerdil.
- Pikirkan diri kita sendiri, perasaan kita, dan masa depan kita. Pikirkan betapa sakitnya jika kita harus mencintai seseorang yang jelas-jelas tidak bisa kita miliki. Jika dia masih tetap memberi kita harapan sementara keadaannya jelas-jelas tidak memungkinkan, berarti dia pria yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya. Tendang jauh-jauh pria seperti ini. Karena betapapun sempurnanya dirinya di mata kita tapi jika dia tidak bertanggung jawab, maka dia bukanlah orang yang baik. Saat-saat seperti inilah saat yang tepat bagi kita untuk menjadi manusia egois. Egois disini bukannya kita ingin merugikan orang lain, tapi justru untuk menjernihkan keadaan yang tidak baik. Kadang kita memang harus menjadi egois untuk menyelamatkan diri dari situasi yang tidak menguntungkan.
- Satu lagi hal penting yang harus kita ingat. Jangan merusak nama kita sendiri dengan cap sebagai pengganggu rumah tangga orang lain. Kalau kita tetap bertahan dengan kedekatan kita dengannya, cepat atau lambat pasangannya akan mengetahui dan kita akan mendapat predikat buruk itu. Tidak ingin kan...
Langganan:
Postingan (Atom)
