Kamis, 28 Juli 2011

Menyambut Bulan Ramadhan, Hati-Hati Ritual Anehnya

Tiba saatnya kaum muslimim menyambut tamu agung bulan Ramadhan, tamu yang dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya. Sebentar lagi tamu itu akan bertemu dengan kita. Tamu yang membawa berkah yang berlimpah ruah. Tamu bulan Ramadhan adalah tamu agung, yang semestinya kita bergembira dengan kedatangannya dan merpersiapkan untuk menyambutnya.

Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”

Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :

1. Padusan atau Balimau Kasai, yaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini. Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.

2. Nyekar di kuburan leluhur.
Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!

3. Minta maaf kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.
Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna. Tidak diragukan, bahwa meminta maaf kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.

Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.

Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlas kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.

Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlas, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga bisa menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.

Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ibu Majah)

Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.

Wallähu a’lam..


Disarikan dari: Redaksi Assalafy.org (http://www.assalafy.org/mahad/?p=340&print=1)

Minggu, 17 Juli 2011

DI SEBUAH KOTA ASING (Cerpen Terjemahan - dimuat di Riau Pos Ahad, 17 Juli 2011)

Oleh : Tamim Ansary
Diterjemahkan oleh : Febby Fortinella Rusmoyo

Aku tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi di penjara, hanya bentuk dan perasaanku tentang tempat itu saja yang dapat kuingat. Langit-langit yang rendah, dengan bau lembab, mata-mata sendu para penghuni penjara yang perlahan-lahan menjadi buta karena terbiasa hidup di kegelapan. Aku juga ingat keributan di lorong-lorong: lima ratus percakapan terjadi dalam sekali waktu, denting sendok-sendok logam yang berbenturan dengan piring logam, racauan dan dentingan yang menyatu namun tak pernah berujung.
Dalam bilik sel, setiap siang dan malam, kau bisa mendengar suara dinding yang dikikis dengan sendok logam. Sebenarnya tembok kokoh itu tak bisa dilubangi dengan sendok aluminium, namun kami tetap saja berusaha mengikisnya. Cara itu sudah seperti ritual keagamaan bagi kami, cara untuk meyakini ada kehidupan setelah keluar dari penjara.
Para sipir tidak pernah menyita peralatan logam kami kecuali jika dapur kekurangan peralatan. Mereka hanya mondar-mandir di sepanjang lorong, menyeret-nyeret langkah mereka seperti bayi kurus.
Aku pasti telah ratusan kali membuat rencana melarikan diri dengan lusinan teman yang berbeda, dan aku tak ingat satu pun dari mereka. Suatu malam, aku sedang bersama dua pria yang tak kukenal ketika tiba-tiba satu dari sejuta tembakan itu terdengar, dan kami bertiga terlonjak kaget. Hal selanjutnya yang kami ketahui, kami berjalan terhuyung-huyung melintasi lapangan yang beku dibawah sinar purnama, sementara anjing-anjing polisi memimpin pengejaran di bagian jalan yang lain, mengikuti aroma yang salah sampai mereka melolong nyaring di kejauhan.
Untuk beberapa saat, kami berjalan terpincang-pincang bersisian, tak mendengar apapun selain dentingan rantai di kaki kami dan derak salju beku yang terinjak kaki kami. Aku ingat kemudian berhenti di sebuah rumah kosong dan menemukan peralatan toko di lantai bawah tanahnya, dan kami menangis tersedu-sedan setelah berhasil memecahkan rantai yang selama ini membelenggu kami. Kami mencuri beberapa pakaian, mengambil uang tunai yang tersimpan, dan melanjutkan perjalanan, berjalan hingga kami tersesat dan terus berjalan. Hari berganti menjadi malam dan setiap kota tampak serupa. Dari arah hutan, aku bisa mendengar gema derap kaki tiada henti saat sedang melarikan diri, dan mendengar detak jantung sendiri. Malam ketika kami tiba di kota ini, Joe bahkan tidak ingin berhenti untuk minum bir, tapi kami semua menginginkannya, sehingga dia tidak punya pilihan lain.
Di dalam bar, musik melantun dari kotak musik besar dari perak. Sekelompok koboi duduk di sebuah meja besar, minum dan tertawa. Kami tidak memilih duduk di pojok karena akan terlihat mencurigakan. Karenanya, kami tidak membuka kancing jaket dan duduk di sebelah meja para koboi, untuk menunjukkan bahwa kami tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Ruangan itu beraroma bir yang menyengat dan pengap oleh asap rokok. Kotak musik itu mendentingkan, “Your cheating heart…”
Seorang wanita gemuk yang mengenakan pantalon nilon berwarna kuning mendatangi kami. Sebuah lampu gantung kuning merefleksikan bayangan setiap gumpalan pada wajahnya. “Pesan apa, anak-anak?”
“Beri mereka salah satu yang ada disini, Tillie,” teriak salah seorang koboi yang sudah mabuk, dan teman-temannya menyahut, “Yah!”
Wanita itu meletakkan gelas dengan kasar di meja kami, dan salah satu koboi meletakkan tangannya di pundak Joe yang kecil. “Tak seorang pun meninggalkan tempat ini tanpa mabuk, mengerti, teman?” Dia nyengir lebar.
“Harap…” Joe baru akan berbicara tapi Harry memelototinya. Kami tidak boleh menolak persahabatan dari orang lain disini, itu akan mencurigakan. Aku menahan Joe di tempat duduknya. “Minumlah, Joe, teman kita ini yang mentraktir!”
Joe tertawa dan menuang seluruh isi gelasnya ke tenggorokannya sementara para koboi berteriak-teriak, “Hajar! Hajar!” sambil memukul-mukul meja. Saat kami akan pergi, mereka berteriak,“Hei, pelayan. Kita biarkan saja anak-anak ini pergi? Gembok kunci itu!” Mabuk membuat mereka sejinak anak anjing. Hal terakhir yang kuingat pada malam itu adalah kami berdansa diatas meja dengan gelas di tangan masing-masing sambil bernyanyi,“Sonuva gun, gonna’ have some fun, in the bayou.” Sementara di dalam kepalaku, aku bisa mendengar suara anjing polisi datang.
Keesokan paginya mereka memberi kami sarapan bubur jagung dan melimpahi kami dengan keramahtamahan. Sial, mereka benar-benar menyukai kami! Tanpa kami ketahui, ternyata kami sudah dipesankan kamar hotel. Ketika beberapa penduduk kota ingin mengundang kami makan malam, Harry ingin menolaknya tapi Joe memberinya pengertian. “Memangnya kenapa?”
“Mereka tahu siapa kita,” gerutu Harry. “Mereka sedang mempermainkan kita.”
“Penahanan ini memang sangat buruk,” sahut Joe.
“Jika mereka tahu siapa kita,” sahutku, “lebih baik kita tidak membiarkan mereka tahu bahwa kita tahu akan hal itu.”
Karenanya kini kami tak ingin ambil pusing tentang masalah ini. Kami pergi ke alun-alun tempat berdansa setiap Jumat malam. Harry bahkan kini mulai diminta berdansa di depan. Kami sendiri tak sadar bahwa kami memiliki bakat ini. Keluarga Brown mengundang Harry untuk makan malam Thanksgiving. Lalu kami semua mendapat undangan dari keluarga Smith untuk menghadiri makan malam setiap minggunya, dan apa lagi yang bisa kami katakan? Joe bahkan terpeleset satu kali ke sebuah sekolah menengah, dan tanpa sepengetahuan kami, mereka menyuruhnya mengajar di Sekolah Minggu.
“Brengsek! Ini sudah keterlaluan!” umpat Joe. “Kita harus segera pindah.”
“Tak bisa,” jawab Harry. “Akan terlihat mencurigakan.”
Dialah orang pertama diantara kami yang mempunyai rumah. Laura membantu kami pindah. Dia adalah putri Tillie, dengan rambut pirang yang dikepang, rok dari kain genggam, dan tungkai kaki yang seolah dapat menjangkau ruang bawah tanah kalau saja tidak ada lantai. Kadang-kadang dia membawakan kami kue pai jika kami sedang di halaman. Setiap panen tiba, keluarganya mengundang kami untuk makan malam Thanksgiving. Aku duduk dengan tenang menanti makanan seperti anak kecil yang menunggu diberi biskuit. Dua puluh lima percakapan terjadi bersamaan di sekitar meja makan. Mereka berbaur dalam kebisingan tak menentu yang bercampur dengan denting sendok dan piring porselin. Aku bisa mendengar dengan jelas gema keras di dadaku, suara itu masih ada. Saat kubuka mataku, aku melihat Tillie sedang memandangiku dan hatiku ingin meledak.
Dia memalingkan wajahnya.
Dan saat itulah aku sadar bahwa dia tahu.
Dia berujar, “Makan, Willie, kau belum makan sedikit pun!” dan semua tertawa, namun dia sedang berpura-pura. Dibalik tawa besar itu dia dingin dan tenang, dengan pandangan tajam.
“Permisi,” ujarku. “Kurasa aku kekenyangan.” Aku meninggalkan kursiku, meluncur pulang.
Kedua temanku yang lain menyusulku beberapa menit kemudian. “Tillie tahu,” ujarku.
Aku ingin seseorang mengatakan padaku bahwa aku hanya mengimajinasikan sesuatu, tapi Harry justru mendukungku, “Aku juga merasakannya.”
Aku merasakan sakit yang lain. “Apa yang harus kita lakukan?”
“Cabut!” jawab Harry.
“Kabur!” imbuh Joe. “Inilah saatnya, Bung.”
“Tapi kau punya rumah, Harry! Aku punya Laura. Bagaimana kita bisa pergi?”
“Jika ini antara penjara dan sesuatu yang lain,” kata Harry. “Aku memilih kejahatan yang lebih kecil.”
Sebelum aku bisa membantah, seseorang mengetuk pintu.
Wajah Tillie Brown muncul di pintu terpantul dari cahaya obor. “Nah, disini kalian rupanya,” dia terkekeh, tapi sesaat setelah tawanya itu, aku mendengar desing masam kebohongan. “Kalian tak berpikir untuk melarikan diri, bukan?”
Joe menjadi pucat.
“Aku ada satu dua hal yang ingin kukatakan pada kalian, anak-anak. Jika kalian tahu apa yang kumaksud.” Tillie mengedipkan mata. “Aku sudah lama memperhatikan kalian. Aku mengawasi kalian.” Karena kami tetap tak bersuara, dia melanjutkan. “Kau begitu manis pada putriku, benar kan, Willie? Kau pikir dia siap untuk pria sepertimu? Siapkah?”
Dia meraih telepon. Aku tak bisa berkata atas kengerian ini. Kami telah menunggu lama. Dia sedang menghubungi melalui telepon. Saat itulah Joe memukulnya dengan tongkat yang terletak di dekat perapian. Dia memukulkan kait tumpul itu tepat di tengkoraknya. Ujungnya menancap di dahinya. Aku tak pernah sekaget ini. Bukan berarti karena aku buronan maka aku sudah berubah. Jauh di dalam hatiku, bagaimanapun, bersamaan dengan rasa kagetku, kurasa aku merasa lega.
Paling tidak keraguan itu sudah berakhir. Kami tahu apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Aku bergegas ke kamar tidur dan menjejalkan pakaian secukupnya untuk kami bertiga ke dalam tas. Namun saat aku baru saja meraih gagang pintu depan, bel pintu berbunyi dan seketika aku berhadapan dengan petugas UPS.
“Paket untuk Tillie Brown,” katanya.
“Dia tidak tinggal disini.”
“Aku tahu,” jawabnya sambil tertawa, “tapi aku melihatnya masuk kesini tapi dia tidak keluar.”
“Akan kusampaikan paketnya.”
“Maaf, Nak. Pesanan khusus. Harus diserahkan langsung ke tangan yang bersangkutan.”
“Mmm.., dia sedang di kamar mandi saat ini, jadi...”
Di belakangku, entah bagaimana, pada saat yang sama, Harry nyeplos, “Dia di rumah sekarang, dia di rumah sekarang!”
“Lho, jadi mana yang benar,” tanya petugas UPS sambil menyipitkan matanya curiga. “Dia sedang di kamar mandi atau di rumah? Katakan, apa yang sebenarnya terjadi disini? Sebaiknya aku masuk dan melihat ke dalam.”
Petugas UPS itu mulai masuk ke dalam. Sumpah aku sudah melupakan senjata. Tapi entah bagaimana tiba-tiba benda itu sudah ada dalam genggamanku. Pada jarak sedekat itu, dia praktis menjadi hancur. Aku bersumpah pada Tuhan, aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku bersumpah pada Tuhan, aku merasa sakit jiwa saat darahnya terciprat ke obor.
Saat berikutnya, aku duduk disana dengan pistol panas di tanganku dan teman-temanku mencengkeram lenganku. “Sekarang kita berdua telah melakukannya dan habislah kita,” ujar Joe serak. “Klub Pembunuh.”
“Dan aku sepertinya akan bergabung,” balas Harry. Tetangga kami baru keluar dari rumahnya. Dia pasti telah melihat semuanya, karena kini dia berdiri disana mematung dengan ketakutan dan menyesal, berharap dia tidak pernah datang melihat semuanya. Dia berbalik namun sudah terlambat.
“Memang seharusnya begitu.” Harry meniup asap bekas letusan pistolnya dan berkata, “Ayo bergegas! Jika kita beruntung, tak seorang pun bisa menemukan mayat-mayat ini hingga kita sudah lima puluh mil jauhnya.”
Satu hal yang harus kujelaskan. Kami bertiga sudah berkomitmen menjadi pembunuh, namun Harry memang yang terburuk diantara kami. Aku membunuhnya karena itulah hal terbaik yang dilakukan. Tak seorangpun mengharapkan dirinya. Aku menembaknya langsung ke jantung dan dia mati tanpa mengerang sedikitpun. Itulah yang terbaik.
“Panggil polisi!” bentakku. “Nanti kita katakan Harry ngamuk dan menembak mereka semua. Untung kita bisa menghentikannya sebelum dia membunuh lebih banyak lagi. Benar kan, Joe? Benar? Kau berada di pihakku, kan? Joe?”
Joe tertawa miring. “Aku hanya ingin bertahan hidup,” jawabnya.
“Betul sekali! Ini akan membuat kita berdua bertahan hidup. Kau akan lihat nanti, oke?”
Dia tak punya pilihan lain. Kami adalah tim, dia dan aku. Itu terjadi sudah lama sekali, tentu saja. Aku akhirnya menikahi Laura pada tahun yang sama. Dia mencintaiku karena telah membalas kematian ibunya. Joe juga menikah, dan mereka tinggal di pinggir kota. Kami tidak lagi saling mengunjungi. Semuanya berjalan dengan baik, kurasa. Namun setiap malam, aku masih mendengar gonggongan anjing-anjing polisi berlari melewati rawa, tapi hanya aku yang dapat mendengarnya. Aku berdoa di gereja, dan ikut dansa Jumat malam di alun-alun. Aku harap Laura dapat memahaminya. Semua yang kulakukan adalah yang terbaik untuk kami. Aku selalu mencoba menekan kejahatanku, mengingat keadaan. Tak seorang pun dari kita bisa memilih keadaan. Asal tahu saja, dia bisa menerima cerita tentang apa yang kami katakan pada polisi, tapi itu tak cukup. Tak cukup bagiku dia mencintaiku dan tidak menyalahkanku. Aku ingin dia memaafkanku. Tapi bagaimana dia bisa memaafkanku jika aku tidak mengakui apa yang tidak aku lakukan? Setiap kali kami duduk sambil sarapan, aku nyaris tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakannya atas detak jantungku. Aku sering berpikir kami memang hidup bersama saat ini, namun jika aku memandangnya aku sadar aku salah. Kami sesungguhnya hidup sendiri-sendiri.

* * *
Judul Asli : “Town of Strangers”
Sumber : http://www.identitytheory.com

Tamim Ansary adalah penulis dan pembicara publik asal Amerika Serikat berdarah Afganistan. Dia menulis buku West of Kabul, East of New York, sebuah buku yang diterbitkan beberapa saat setelah peristiwa serangan teroris 11 September 2001. Dia juga seorang kolumnis untuk ensiklopedia situs Encarta, dan penulis buku Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes. Dia juga merupakan fasilitator dari San Francisco Writers Workshop, pertemuan penulis lepas tertua yang masih terus dilaksanakan sampai saat ini di Amerika Serikat. Novelnya The Widow's Husband (terbit pada musim semi 2009 oleh penerbit Public Affairs Books) memenangkan Penghargaan 2010 Northern California untuk kategori non-fiksi umum.

Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos dan puisinya termuat dalam buku “Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010” yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.

Minggu, 10 Juli 2011

“Stressku Hilang Kalau Ke Mal”

Itulah kalimat yang pernah terlontar dari mulut salah satu teman dekat saya saat kami jalan-jalan ke mal setelah beberapa bulan tidak melakukan aktivitas itu karena kesibukan masing-masing. Sebenarnya saya ingin tergelak mendengarnya waktu itu, namun saya tahan untuk menjaga perasaannya, karena dia mengatakannya dengan sangat serius. Kalimat inilah yang muncul kembali dalam benak saya setelah membaca tulisan Marhalim Zaini mengenai mal (Mall; Permainan Simbol Sosial, Pembentukan Identitas Kultural, Riau Pos Edisi Ahad, 26 Juni 2011). Sedikit koreksi untuk Marhalim Zaini, sejauh pengetahuan saya, ejaan kata mall dari Bahasa Inggris itu sudah diindonesiakan menjadi “mal” (dengan hanya satu huruf l). Jadi mungkin ada baiknya jika kita menggunakan istilah Bahasa Indonesianya saja.
Dalam tulisannya, Marhalim Zaini (selanjutnya disebut MZ) memaparkan keberadaan mal yang sangat menjamur saat ini dari sudut pandang budaya, sesuai bidang pengetahuan yang sedang beliau gali. Tak dapat kita pungkiri bahwa aktivitas pergi ke mal saat ini memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup kota metropolitan atau kota-kota yang sedang beranjak menuju kesana. Dari segi budaya, inilah mungkin yang disebutkan oleh MZ sebagai permainan simbol sosial dan pembentukan identitas kultural. Kasarnya, jangan mengaku orang jaman sekarang jika tidak pernah menginjakkan kaki di mal dan tidak pernah belanja di mal. Bahkan masyarakat dari luar kota besar pun sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi mal di perkotaan pada akhir pekan dengan menyewa satu atau dua bus dari daerah mereka masing-masing sekedar untuk menginjakkan kaki di mal. Ini dapat kita lihat di Pekanbaru kota tercinta kita ini.
Penyimbolan hidup konsumerisme dari kebiasaan ke mal ini tidak hanya dapat dilihat dari sudut pandang budaya. Kita juga dapat menyelaminya dari sisi psikologis seseorang. Makna dari bepergian ke mal bagi orang yang “senang” melakukannya dengan orang yang “sekedar” melakukannya tentu saja berbeda. Contoh kasus adalah antara saya dan teman dekat saya tadi. Bagi teman saya itu, pergi ke mal dapat menghilangkan stressnya, menurut pendapatnya. Namun bagi saya pribadi, pergi ke mal jika tidak ada tujuan justru malah akan menimbulkan stress. Ke mal bagi saya adalah “sekedar” mencari apa yang saya anggap dapat saya temukan dan beli disana. Ini tentu terkait dengan “pemaknaan” mal itu sendiri bagi masing-masing pihak. Bagi teman saya itu, merasa dirinya menjadi bagian dari modernisasi adalah sebuah kebanggaan. Maka ke mal, sebagai bagian dari modernisasi, adalah juga sebuah tempat yang layak dikunjungi dan layak untuk memberikan kepuasan batin pada dirinya. Sementara bagi saya, keramaian – apapun bentuknya, tradisional ataupun modern – sesungguhnya tidaklah menjadi pilihan.
Pemaknaan yang berlebihan terhadap mal agaknya dapat disebabkan oleh semangat pragmatisme masif yang telah menjadi modal sentral sistem nilai masyarakat modern saat ini. Segala sesuatu cenderung dinilai dengan standar gengsi populer (popular prestige) yang diyakini sebagai hal yang impresif, bonafid dan signifikan (Widiyanto, 2008). Hal ini terjadi dalam segala sisi kehidupan seperti memilih pakaian, bahan makanan, bahkan sekolahan, atau kegiatan rekreasi yang kebanyakan lebih mengacu pada pendapat khalayak. Apakah pakaian yang fashionable, makanan yang well quality, sekolah yang high rating, atau jenis kegiatan rekreasi yang ’berkelas’ seperti mal. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa sadar kita akan mulai kehilangan identitas diri. Segala sesuatu harus sesuai dengan apa yang orang lain kenakan, apa yang orang lain makan, apa yang orang lain lakukan, sehingga kita terperangkap pada hal-hal yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Inilah yang disebut sebagai alienasi oleh Eric Fromm dalam bukunya Escape From Freedom (1961, dalam Widiyanto 2008). Orang yang teralienasi ditandai hilangnya otentitas diri, dan tidak bisa membedakan keinginan diri dengan keinginan orang lain. Model hidup orang yang teralienasi tidak memiliki konsep identitas yang jelas, karena terlalu banyak menyerahkan dirinya pada sesuatu di luar dirinya (other direct focus).
Teman saya ini misalnya, dia mendaftarkan diri menjadi anggota sebuah pusat kecantikan yang ada di sebuah mal di kota Pekanbaru ini dengan membayar sekian ratus ribu dan membeli produk dengan harga sekian ratus ribu pula hanya karena mengikuti teman kantornya yang juga menjadi anggota. Padahal menurut saya, wajahnya tidak memerlukan perawatan khusus yang harus sampai ditangani oleh ahlinya yang memang disediakan di pusat kecantikan itu. Namun sekali lagi, dia sudah terjebak dalam alienasi. Apa yang orang lain lakukan, dia lakukan juga tanpa dia mempertimbangkan lebih dahulu apakah dia benar-benar perlu melakukannya atau tidak. Dia sempat mengajak saya juga untuk mendaftarkan diri tapi saya tolak mentah-mentah. Saya tidak merasa butuh melakukan perawatan itu. Wajah saya “tidak kenapa-kenapa”.
Pemaknaan yang berlebihan terhadap mal juga dapat menimbulkan efek negatif sisi psikologis yang lain. Bisa jadi hal ini menimbulkan gangguan jiwa shopaholic bagi seseorang. Shopaholic menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008; dalam Susilowati, 2008) adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja selalu sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Gejalanya bisa berawal dari bepergian ke mal dengan tujuan agar tampak modern dan “gaul”, lalu tidaklah enak jika tidak membeli, maka dibelilah barang yang sesungguhnya tidak diperlukan. Sekali, dua kali, dan akhirnya menjadi kebiasaan, dan berkembang menjadi gangguan jiwa yang tak tertahankan.
Teman saya ini mungkin belum termasuk kategori shopaholic akut seperti kasus dalam film Confession of A Shopaholic. Namun saya menangkap beberapa kebiasaannya membeli barang – terutama pakaian – yang sesungguhnya tidak dia butuhkan dan memang kenyataannya tidak pernah dipakainya setelah dibeli. Ketika pergi ke mal dengan saya waktu itu, dia sempat hampir membeli sehelai pakaian berbentuk rompi (entah apalah nama trend-nya, saya kurang paham fashion), yang menurut saya modelnya tidak karuan dan sangatlah gampang dibuat oleh ibunya yang tukang jahit bahkan mungkin hanya bermodalkan kain perca saja. Sungguh tak karuan! Tapi menurutnya itu yang sedang tren saat ini. Saya sempat menegurnya dan berkata, “Kalau cuma begitu ibumu juga bisa membuatnya.” Entah karena kata-kata saya itu atau memang tiba-tiba “il-feel” (hilang feeling, atau kehilangan “rasa” untuk melakukan sesuatu), dia tidak jadi membeli kain itu, dan saya bernafas lega.
Kembali pada keberadaan mal tadi, hal ini tentu saja tidak sepenuhnya salah. Keberadaan mal di tengah-tengah masyarakat perkotaan tentu juga memberikan efek-efek positif, terutama dari segi ketenagakerjaan yang banyak terserap karenanya. Namun adalah perlu bagi kita sebagai individu untuk mewaspadai kecenderungan abnormal kita terhadap mal yang dapat menimbulkan efek-efek negatif seperti yang telah dipaparkan diatas. Kini segalanya kembali pada diri kita masing-masing. Mencegah arus modernisasi dan globalisasi tentu saja perkara yang sangat sulit – jika tak ingin menyebutnya tak mungkin – bagi kita sebagai individu, bagian dari masyarakat. Namun membentengi diri dengan pengetahuan, kekuatan jati diri dan karakter, serta tentunya agama, dapat mencegah kita dari pemaknaan yang berlebihan atas keberadaan mal pada khususnya dan modernisasi pada umumnya, sehingga kita terhindar dari alienasi, liminalisasi, homogenisasi, atau apapunlah namanya, yang pada ujungnya menghancurkan identitas diri kita yang sesungguhnya.
Semoga dapat direnungi.

Senin, 04 April 2011

"SHOCK THERAPY" AWAL TAHUN 2011...

Terlalu lama aku tak menulis. Mungkin karena itu kesehatan jiwaku agak kurang stabil, karena sesungguhnya menulis dapat membuat jiwa kita lebih stabil kan, karena ada pelampiasan positif atas tekanan yang kita rasakan. Tiga bulan pertama di tahun 2011 ini penuh “kejutan” bagiku. Nyaris seperti shock therapy, yang ujung-ujungnya adalah perenungan diri atas semua yang telah berlalu, semua dosa-dosaku dulu, dan semua yang selalu mengingatkanku agar tidak menjadi orang yang sombong. Terkadang kondisi ‘dicampakkan’ memang baik untuk menekan egoisme kita, agar kita tidak merasa bahwa kita orang yang SELALU hebat, SELALU baik, dan sempurna, karena sesungguhnya sempurna itu takkan pernah ada dalam diri manusia manapun.

Bulan pertama, Allah menegurku dengan mengambil seseorang yang telah ada dalam hidupku selama 10 tahun. Seseorang yang menjalani hubungan tak jelas denganku selama ini, namun sesungguhnya pengharapanku terlalu besar terhadapnya. Belum lagi keinginan orang tua yang berharap aku bisa bersamanya. Aku sudah berusaha mengungkapkan itu padanya, namun dia menolak mentah-mentah. Dia tidak yakin bisa menjadi pasangan yang setia pada pasangannya, karena itu dia tidak mau denganku, karena takutnya nanti mengecewakanku. Semua cerita tentangnya dan tentang harapan orang tuaku itu aku ungkapkan pada seorang teman (perempuan) yang selama ini cukup aku percayai walaupun sebenarnya aku tak terlalu dekat juga dengannya. Namun ternyata di belakangku mereka menjalin kedekatan yang saat ini sudah sampai pada tahap “serius”.. Padahal di awal si lelaki tidak mau karena si perempuan anak orang kaya dan ternama, dan sedari dulu, lelaki yang sangat kukenal luar dalam ini punya prinsip tidak ingin dengan anak orang kaya karena tak mau ada cap “cowok matre” di keningnya. Tapi kata-kata tinggal kata-kata.. Ternyata mungkin memang lebih enak naik mobil daripada panas-panasan diatas motor butut, ya tohh.... Apapun, dan bagaimanapun.., aku hanya menganggap semua ini sebagai jalan yang telah dibuat Allah untuk mengubur dalam-dalam harapan itu dan mencoba mencari yang lebih baik dan lebih baik dan jauh jauh jauh lebih baik...

Bulan kedua, aku tidak terlalu berharap. Namun ada sedikit rasa yang aku pendam padanya. Namun lelaki itu lebih memilih kedekatan dengan wanita bersuami tanpa memikirkan perkataan-perkataan miring semua orang terhadap hubungan mereka yang jelas-jelas amat sangat tidak sehat. Sudah sering aku melihat mereka, namun kali itu tak ada yang melebihi panas mendidih darahku.. Entah kenapa sekali itu amarahku yang dipicu oleh cemburu meledak tak alang-kepalang.., sehingga aku “mendepak” lelaki itu dari hidupku.. Aku tak ingin berurusan dengan orang yang terlalu “buta” yang tak pernah bisa menimbang-nimbang mana yang baik dan yang buruk. Lepas lagi satu harapanku.

Bulan ketiga, entah kenapa mendadak aku teringat dirinya. Seorang teman sekolah lama yang pernah sempat dekat beberapa tahun yang lalu setelah menginjak masa dewasa ini. Sempat berpengharapan padanya atas kedekatan itu, tapi mendadak dia “menghilang”. Mendadak juga aku terkenang dirinya saat itu, berniat untuk menanyakan keberadaannya pada teman yang lain, jikalau masih ada waktu untuk berhubungan, tapi yang aku temukan dari teman lain ternyata adalah UNDANGAN PERNIKAHAN-nya, dengan seorang wanita yang dulu juga teman sekolah, dan dulu adalah kembang sekolah, dan yang tak alang-kepalang cantiknya.... Yah..aku tahu.., aku memang “cuma begini”....

Tiga kali shock therapy, Tuhanku, dan dalam keadaan ini yang aku rasakan hanyalah bahwa sesungguhnya aku adalah makhluk kerdil hina-dina yang tak lebih dari sebutir pasir di pinggir samudra duniamu yang maha luas... Tak ada satu mili pun dari diriku yang patut aku sombongkan, karena bukanlah seseorang yang pantas sombong jika dalam hidupnya selalu dicampakkan... Terima kasih, Ya Robb, Engkau selalu mampu “mengingatkan”-ku sehingga aku benar-benar tak pernah mendapat kesempatan untuk menyombongkan diri.. Teruslah uji aku, sehingga aku menjadi hamba yang benar-benar “teruji”....

(Meja Kantor, 4 April 2011)

Jumat, 31 Desember 2010

Apakah Hidup Anda Lebih Bermakna?

Dulu, waktu aku masih kuliah (bisa dibilang masih ABG), setiap tahun selalu (benar-benar selalu) merayakan pergantian tahun bersama teman-teman. Kami selalu merayakannya di rumah salah seorang teman yang memang selalu menyediakan rumahnya untuk acara itu. Acara diawali dengan memasak ayam bakar beramai-ramai. Setelah ayam masak, lalu kami memakannya bersama-sama. Setelah perut kenyang, kami menunggu jam 12 malam sambil sesekali mencuri lihat ke acara tahun baruan di TV untuk mengecek apakah sudah saatnya membunyikan terompet. Tepat jam 12 malam, seiring dengan kehebohan yang terjadi di TV dan di jalanan, kami pun meniupkan terompet tahun baru yang dibeli di pinggiran jalan, baru tadi sorenya. Sorak-sorai kami pun terdengar menyambut datangnya tahun baru, walaupun toh esoknya tidak ada yang berubah dari diri kami, tidak juga lebih baik. Kegembiraan satu malam itu hanya menyisakan rasa lelah, ngantuk, dan buntut-buntutnya masuk angin!
Malam tahun baru terakhir yang aku rayakan adalah malam tahun baru 2004, dimana keesokan harinya, hari pertama tahun 2004, 1 Januari 2004, aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai dan hormati dalam hidupku, Bapak. Sejak itu aku tidak pernah merayakan malam tahun baru lagi dalam hidupku. Karena aku menganggap, kalau aku merayakan malam tahun baru, berarti aku merayakan kepergian Bapak yang tidak pernah kembali itu. Dan aku tidak mau seperti itu. Bukan karena anggapan orang lain, tapi itu hanya persepsi pribadiku, yang kalau aku langgar aku jadi malu pada diri sendiri.
Setelah tidak pernah merayakan malam tahun baru lagi, aku justru malah lebih merasakan makna hidup. Aku jadi lebih merasa pergantian tahun itu adalah sesuatu yang seharusnya memang tidak untuk di-hip-hip-hura-kan. Terkadang sekarang aku jadi malu pernah merayakan malam tahun baru seperti dulu, walaupun kini aku punya satu pembelaan diri yang lumayan masuk akal, “namanya juga ABG”. Makanya kalau sekarang aku masih merayakan juga, aku justru akan bertanya pada diri sendiri, “Gunanya apa? Apa bisa bikin hidup lebih bermakna?” Yang lebih menggelikan lagi kalau yang ikut merayakan itu orang-orang tua yang justru dengan bangganya tersenyum melihat anaknya yang masih ABG bersorak-sorai sambil meniup terompet tahun baru pada malam pergantian tahun itu. Mereka seolah merasa sudah menjadi orang tua teladan karena membiarkan anaknya meluapkan kegembiraan “ga penting” itu justru di depan mata mereka sendiri.
Tapi aku tidak berniat menyalahkan siapapun yang merayakan malam pergantian tahun. Itu hak pribadi masing-masing, hak asasi manusia istilah kerennya di negara kita “tercinta” ini. Dan orang-orang yang ingin merayakan malam tahun baru dengan hura-hura itu lebih memiliki hak asasi manusia daripada para korban bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, yang seharusnya mendapat hak asasi manusia mereka berupa bantuan atau setidaknya empati dari rekan sebangsanya dengan tidak merayakan alam tahun baru karena mentolerir perasaan sedih yang mereka alami. Definisi hak asasi manusia di negeri ini memang terbatas hanya untuk yang “enak-enak” saja.
Jadi kesimpulannya, bagaimanapun cara kita merayakan malam tahun baru, bukanlah esensi dari datangnya tahun baru itu sendiri. Yang lebih perlu kita persiapkan seharusnya bukannya bagaimana membuat pesta tahun baru yang meriah, atau makanan apa yang akan disajikan, berapa banyak kembang api yang kita siapkan, seberapa menggelegar petasan yang kita ledakkan, melainkan bagaimana kita menyikapi tahun yang baru dengan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk mengubah hati kita menjadi lebih sensitif, lebih peduli, dengan rekan-rekan kita yang tidak seberuntung kita dalam hidupnya. Tidak harus menyalurkan bantuan jika kita tidak mampu (atau tidak memampukan diri), tapi setidaknya, tidak membuat mereka bertambah sedih dengan ketidaktoleransian yang kita lakukan.

“Yang berarti dalam hidup ini bukan berapa banyak tahun dalam hidup, tapi berapa banyak hidup dalam tahun-tahun yang kita lewati” (NN).

Minggu, 31 Oktober 2010

Sebungkus Rindu

Maukah kau kukirimi sebungkus rindu
Yang kuanyam dari daun cinta
Kupetik dari pohon hati
Walau pernah kau tebang
Namun dia tumbuh lagi
Karena kuberi pupuk ketulusan
Yang takkan mati walau tak disirami

(01062010)

Sudah lama aku mengharapkan sebuah pertemuan. Sejak lebih dari satu tahun kita bahkan tak saling melihat foto. Namun aku tak perlu tahu bagaimana rupamu saat ini karena sosokmu selalu hadir dalam hatiku. Sejauh apapun engkau telah berubah, namun artimu dalam hatiku tidak – atau setidak-tidaknya belum – berubah. Hatiku agak mendua ketika menetapkan ingin merancang pertemuan yang belum sempat terjadi itu. Aku tahu berita dan ramalan di banyak media mengatakan akan ada bencana besar di tempatmu berada. Aku ragu, antara percaya dengan tidak. Kalaupun aku tak percaya, jika aku nekad menemuimu, dan ternyata sesuatu terjadi padaku, ya sudahlah...., berarti itu takdir. Namun sesuatu yang lain menghentikan keinginan itu. Teman yang sedianya akan menjadi teman seperjalanan, ternyata membatalkan niatnya untuk menemui keluarga di kota yang sama denganmu. Aku sedikit kecewa, namun juga lega. Di satu sisi keraguanku terjawab, namun di sisi lain rasa rindu yang sudah membuncah ini tetap tak dapat kubendung.

Aku tahu – bahkan yakin seyakin-yakinnya – bahwa jauh di lubuk hatimu, engkau juga mengharapkan hal yang sama denganku. Itu tak dapat disembunyikan ketika aku sempat menanyakan tentang suatu tempat yang ada di kotamu, engkau bukannya menjawab pertanyaanku, malah bertanya apakah aku akan berkunjung kesana, yang artinya ke kotamu, dan itu juga berarti akan ada kesempatan bertemu. Aku tertawa mendengar antusiasme yang engkau tunjukkan, sesuatu yang sangat jarang kelihatan di dirimu yang begitu ‘dingin’ dan ‘datar’, yang nyaris tanpa emosi selama ini.

Tapi kemungkinan, keinginanku untuk segera bertemu denganmu akan terwujud sebentar lagi. Aku mendapat kesempatan kedua, dan itu takkan ku sia-siakan. Apapun yang terjadi, aku harus pergi... Meski disana kita hanya bisa saling bertatap muka tanpa ada satu kata pun yang terucap, yang selama ini mengganjal di hati kita, yang membuat kita berpisah walau sejujurnya bukan itu yang kita inginkan. Kuharap semua ketakutan dan beban yang selama ini mengganjal kita, akan terbang bersamaan dengan pertemuan kita. Walau mungkin itu takkan mengubah apa yang sudah terjadi diantara kita, dan aku pun tak berharap ada sesuatu yang terjadi sesudahnya. Biarlah waktu yang menjawab, seperti yang selalu engkau ucapkan padaku...

Selasa, 26 Oktober 2010

Tuhan Sedang Marah..???

“Tuhan sedang marah…!” Banyak yang berkata begitu jika musibah, bencana dan kerugian-kerugian lainnya telah menimpa suatu kaum. Benarkah Tuhan “marah”…? Tuhan tidak pernah marah, Dia-lah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Lalu jika ada bencana bertubi-tubi yang datang, lalu apakah itu berarti bukan berarti Tuhan ”kehabisan kesabaran” menghadapi tingkah laku manusia yang sudah sangat jauh dari segala perintahnya...?

Tuhan tidak pernah lelah. Dia tidak memiliki batas sabar. Tak ada batas atas segala sifat yang melekat pada-Nya. Segala sesuatu di dunia ini adalah kecil di hadapannya. Jadi untuk apa Dia ”kehabisan kesabaran” menghadapi manusia yang seringkali tidak mensyukuri nikmat. Kita syukuri atau tidak pun nikmat itu, tidak akan ada bedanya bagi-Nya. Lalu apa sebenarnya maksud Tuhan memberikan semua musibah itu? Bertubi-tubi pula...

Tak ada satupun yang dilakukan Tuhan kepada hamba-Nya melainkan atas dasar kasih sayang. Sesungguhnya semua musibah itu pun adalah bukti kasih sayang Tuhan kepada kita. Mengapa? Coba kalau tidak ada musibah, tidak ada bencana, akankah kita mengingat-Nya? Akankah kita saling membantu sesama? Dalam kehidupan yang serba individualistis ini, segala sesuatu dihitung dengan materi. Tidak semua memang, namun secara umum begitu. Nah, jika kehidupan kita lancar-lancar saja, lurus-lurus saja, akankah kita mengingat saudara-saudara kita yang masih sangat kekurangan..? Jarang.., jika pun ada, persentasenya hanya sebagian, separuhlah anggap saja...

Tuhan ingin “mengingatkan” kita, wahai manusia, kita hidup di dunia ini tidak untuk diri kita sendiri. Tidak untuk keluarga kita sendiri, tidak untuk kelompok kita sendiri. Kita mempunyai begitu banyak “saudara” yang harus kita bantu, tolong, paling tidak sedikit perhatian saja. Kita sudah begitu cueknya dengan keadaan di sekitar kita, dengan alam tempat kita tinggal, sehingga Tuhan merasa sudah saatnya bagi kita diberi peringatan agar perbuatan kita tidak jauh melebihi batas lagi, yang akan berakibat lebih buruk lagi. Tidakkah kita sadari juga itu...?

Sekarang, dengan adanya musibah dan bencana dimana-mana, di sekeliling kita, di negeri kita, tidakkah hati kita tergerak untuk membantu..? Pasti tergerak... Itulah hikmah dari musibah dan bencana.., untuk menyentuh hati manusia yang sesungguhnya halus namun sering bersembunyi di balik tuntutan zaman yang katanya “keras”...

Ya Allah Azza Wa Jalla, Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun dan segala Maha.., takkan kami sesali semua bencana ini, karena sesungguhnya Engkau melakukan semua ini atas dasar kasih sayang-Mu pada kami... Berilah kami kesanggupan untuk mengambil hikmah yang sengaja Engkau tunjukkan pada kami....

* * *

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32:21)

"Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, "aamannaa" (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta" (Al Ankabuut, 29 : 2-3)

"Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (Al Baqarah, 2 : 216)