“Kemana kita lagi?” tanya Abang.
“Mmm..., terserah abang lah... Kan abang tuan rumah...” Aku nyengir. Abang tertawa miring. Dia memang selalu begitu.
Kunjunganku ke kotanya kali ini sama seperti sebelum-sebelumnya, atas permintaannya. Dan kali ini dia beralasan sedang kurang enak badan, ingin merasakan pijatanku.
“Teman abang main jam 11 ini di XY Pub...” Halus sekali caranya mengajakku dugem. Aku memang belum pernah dugem dan dia sangat tahu itu. Sementara dunianya adalah malam dan lampu disko. Tapi terus terang aku penasaran juga ingin merasakan bagaimana hiruk-pikuknya diskotik.
“Sekarang masih jam 10 kurang. Masih lama,” balasku.
“Memangnya kamu mau?”
“Mmm..., yaa..., sekali-sekali nyoba...” Aku ragu, tapi mau.
“Yakin? Nggak nyesal nanti?”
“Yang nanti tu nantilah...”
Abang senyum penuh kemenangan.
“Kita muter-muter dulu lah ya,” ajaknya.
“Boleh.”
Kami meninggalkan rumah makan di tepi laut yang sangat eksotis, tempat favorit kami makan malam setiap kali aku datang mengunjungi Abang di kotanya yang terletak di pinggir laut. Abang memang pencinta pantai, laut, dan ombak. Saat melihat para remaja bersenda-gurau di pinggir pantai, atau bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar, dia selalu teringat Pantai Kuta, ketika dia mengikuti nude party bersama bule yang dipandunya. Bule wanita itu, yang ingin menikahinya ketika dia masih berusia 24 tahun. Padahal wanita itu sudah berusia 30 tahun. Wanita Skotlandia itu pun berjanji akan mengikuti keyakinan Abang jika Abang mau menikahinya. Tapi Abang menolak karena belum siap menikah. Cerita yang selalu membuat darahku menggelegak tertahan membayangkannya.
Kami berputar-putar mengelilingi kota pantai ini, walaupun tetap saja tidak jauh dari tempat semula, tidak jauh dari pantai, karena yang dia inginkan adalah mendengar suara ombak. Selama perjalanan, kami tak banyak bicara. Seperti biasa, karena Abang memang terlalu pendiam dan aku terlalu bodoh untuk memulai percakapan. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas lewat.
“Kita langsung ke XY saja?” tanya Abang.
“Boleh...”
Aku tahu, ini bukan yang pertama kalinya bagi Abang ke XY Pub. Tak mungkin dia sehafal ini dengan jalannya jika belum pernah kesana. Memasuki XY Pub, jantungku mulai berdebar. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di diskotik, pub, atau apapunlah namanya. Bedanya saja aku tidak tahu. Yang aku tahu semua tempat itu hanya menawarkan kenikmatan sesaat. Tapi toh aku penasaran juga dan pada akhirnya sampai juga di tempat itu.
Pusing. Itu hal pertama yang aku rasakan karena kelap-kelip lampu disko yang menyilaukan. Abang membimbingku mencari tempat duduk yang nyaman, agak di pojok tapi di depan, dekat dengan panggung, agar dia mudah didatangi temannya yang sedang tampil malam itu.
“Minum apa, Han?”
“Hani ikut Abang aja...”
“Long Island dua ya...” ujar Abang pada waiter yang juga temannya. Aku pernah mendengar nama minuman beralkohol yang satu ini, tapi aku tak tahu rasanya. Dan sebentar lagi aku akan merasakannya.
Abang menatapku. Mungkin dia bisa melihat kecanggunganku dengan dunia yang sama sekali baru dan sangat asing bagiku. “Santai aja ya, Sayang...” Dia menggenggam tanganku. Aku tersenyum, walau entah bagaimana bentuk senyumku itu.
Musik mulai menghentak. Band ini terdiri dari tujuh personil, tiga diantaranya wanita, yang kesemuanya vokalis, dan seksi-seksi. Mata Abang tak lepas dari vokalis utama. Bagaimana tidak, dia menari diatas meja penonton. Aku rasa dia sudah sedikit mabuk. Dia menyanyikan lagu Rihanna, Don’t Stop The Music.
Long Island pesanan kami sudah datang. Abang menyuruhku mencicipinya sedikit. Pelan-pelan aku menyeruputnya. Aku bergidik. Pahit! Abang tertawa melihat tampang kecutku. Untung saja ada kacang goreng diatas meja, yang memang sengaja disuguhkan waiter untuk menyiasati rasa pahit minuman alkohol. Sementara itu, Abang berjoget dengan si vokalis wanita yang sangat genit itu. Sesekali Abang ikut bernyanyi jika microphone disodorkan padanya. Ingin rasanya aku melempar gelas Long Island itu ke arah mereka, tapi sayang rasanya, karena aku mulai menikmati minuman setan ini. Pandanganku mulai terbelah dua, kepalaku mulai ikut bergoyang tanpa kusadari. Kurasa aku sudah mulai mabuk.
Abang mendekatiku, menarik tanganku, dan mendekatkan mulutnya ke telingaku, “Goyang sama Abang, Sayang.” Aku tersenyum, dan mulai meliuk-liukkan badan. Aku tak tahu dan tak peduli bagaimana goyanganku, yang penting aku sangat menikmatinya. Senyum Abang semakin lebar melihatku bergoyang. Rayuan setannya berhasil membuatku keluar dari dunia putih yang selama ini kujalani. Dia mulai menodainya dengan bercak hitam.
Entah berapa lama kami berada di diskotik itu. Long Island-ku yang segelas itu tak sanggup aku habiskan, hanya setengahnya saja. Pandanganku sudah sangat kabur. Bicaraku pun sudah mulai tak karuan. Saat semua pengunjung sudah mulai berkurang, Abang masih berbincang-bincang dengan teman-temannya yang kesemuanya personil band itu. Aku sudah setengah sadar, duduk di pangkuan Abang sambil merebahkan kepalaku yang sudah sangat berat di bahunya. Ruangan ini sudah berubah menjadi lima di mataku.
Tak sanggup berjalan, Abang menggendongku menuju hard-top merahnya dan segera kembali ke rumahnya. Sesampai di rumahnya pun, Abang menggendongku ke dalam, sampai diatas tempat tidur. Aku masih tahu setelah itu Abang melucutiku dan menikmatiku sepuasnya.
Setelah itu, aku sama sekali tak sadar lagi.
Aku terbangun keesokan paginya dengan kepala masih agak berat. Abang masih tidur di sampingku, dengan keadaan tubuh seperti bayi baru lahir, sama seperti keadaanku. Aku bergegas berpakaian seadanya, dan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhku mulai dari kepala agar aku benar-benar ‘sadar’. Aku habiskan pagi dengan menonton televisi sambil menunggu Abang bangun. Aku tak berani membangunkannya.
“Sudah sarapan?” tanya Abang setelah akhirnya dia rapi sepertiku.
“Belum.”
“Yuk, keluar.”
Seperti biasa kami menghabiskan perjalanan tanpa suara. Kami tidak langsung sarapan, tapi Abang mengisi bahan bakar mobilnya terlebih dulu. Sambil mengantri, Abang menatapku. “Tadi malam ‘masuk’ atau tidak..?”
Aku terperanjat. Kutatap matanya. “Nggak tahu... Hani bener-bener nggak sadar tadi malam... Memangnya Abang ‘nembak’ dimana?”
“Dalam sepertinya, abang pun lupa... Abang juga tak pakai ‘pengaman’...” Seperti ada palu godam yang menghantam kepala dan hatiku.
“Bang..., nanti kita ke apotik dulu ya...” pintaku.
“Cari apa?”
“Test pack...”
(13 Mei – 23 November 2010)
* * *
Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan Riau, Sumut Pos; dan puisinya termuat dalam buku “Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010” yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.
Blog ini berisi segala sesuatu yang dapat ditulis, yang dapat membantu untuk menulis, dan apa saja yang tertulis....
Minggu, 18 Maret 2012
Rabu, 14 Maret 2012
Telah terbit, KOPI HUJAN PAGI (Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf)

Telah terbit, KOPI HUJAN PAGI (Kumpulan Puisi dan Cerpen Sekolah Menulis Paragraf). Para penulisnya adalah: Afriyanti, Agus Yoni Pw, Azizah Masdar, Cahaya Buah Hati, Chamex, Cikie Wahab, Febby Fortinella Rusmoyo, Guri Ridola, Jeni Fitriasha, Nurhusni Kamil, Refila Yusra, Srikartini Widyaningsih (Puan Seruni), Wari Rahmawati, dan Zurnila Emhar Ch. Berikut komentar-komentar mengenai buku ini:
“Inilah buah dari kebun sastra Sekolah Menulis Paragraf yang khas dengan tema-tema terpilih. Catatan perih catatan bahagia dari Riau, menuju Indonesia. Puisi dan Cerpen dalam buku ini menjadi catatan penting bagi peta kesusastraan Indonesia, dan karenanyalah layak untuk diperhitungkan.” (JONI ARIADINATA, Redaktur Majalah Sastra Horison)
Sebuah komunitas kreatif—seperti Komunitas Paragraf ini—bagi saya ibarat sarang penetasan. Di situ suhu dan kelembaban dipertahankan pada tingkat ideal agar setiap telur tererami dengan baik. Harapannya adalah sebagian besar telur ‘bakat’ itu menetas, dan menjadi penulis yang mengembangkan keunggulan masing-masing. Sebuah buku karya bersama adalah tanda awal, seperti retak pada dinding cangkang masing-masing telur bakat itu. (HASAN ASPAHANI, sastrawan, Pemimpin Redaksi Batam Pos)
Suatu kali, saya pernah singgah di Sekolah Menulis Paragraf di gerai Ibrahim Sattah, berbincang-bincang tentang sastra dan dunia kepenulisan. Yang membanggakan, pesertanya dari berbagai kalangan, mulai dari perawat, dosen, pengusaha, siswa, sampai mahasiswa dan orang awam. Kehadiran Sekolah Menulis Paragraf yang diprakarsai oleh Marhalim Zaini dan kawan-kawannya ini terbukti mampu memupuk dan mengajuk resa kepenulisan di tanah Melayu. Dari sini, telah lahir beberapa penulis handal. Semangat ini seharusnya mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Semoga Sekolah Menulis Paragraf menjadi taman bagi para penulis. (MUSA ISMAIL, sastrawan, Komunitas Cahaya Pena Bengkalis)
Empat belas penulis cerpen dan puisi berusia belia dalam antologi Kopi Hujan Pagi, telah menyuguhkan secangkir kopi yang memuaskan. Para penulis yang tergabung dalam Sekolah Menulis Paragraf Riau ini, membuktikan bahwa sebuah komunitas sastra berdayaguna bagi pengenalan dan pengembangan seseorang kepada penulisan kreatif. Karya-karya yang terhimpun dalam Kopi Hujan Pagi menyuguhkan kehangatan, dan diharapkan menginspirasi remaja lain untuk bersama-sama “duduk (bersila)” menikmati secangkir puisi (bukan lagi kopi), demi mencerahkan. (ISBEDY STIAWAN ZS, sastrawan, Lampung)
Ada semangat lain ketika berada dalam sebuah komunitas. Gairah yang dengan sendirinya memicu keinginan untuk saling berpacu. Meski terkadang komunitas sering menjebak penghuninya dalam keseragaman, akan tetapi diskusi-diskusi dan keberbedaan pendapat pada akhirnya akan melepaskan seseorang untuk menuju gaya masing-masing. Dalam antologi “Kopi Hujan Pagi” para penghuni Sekolah Menulis Paragraf berhasil keluar dari jebakan keseragaman tersebut. Karya-karya mereka hadir mewakili diri sendiri. Sebagaimana baiknya, komunitas hanya menjadi payung. Tujuan paling akhir tetapn tergantung kepada masing-masing yang berada di dalamnya. Selamat! (IYUT FITRA, sastrawan, Komunitas Seni Intro Payakumbuh)
Kreativitas tak pernah mati di negeri Sahibul Kitab, Riau. Buku antologi “Kopi Hujan Pagi” yang memuat karya penulis generasi baru ini menjadi saksi dan bukti. Beragam tema dan pola dalam karya mereka, memperlihatkan upaya pencarian identitas sekaligus menggali kedalaman nilai yang mereka geluti masing-masing, terutama nilai ‘lokal’ yang dapat mengangkat kebesaran negeri ini yang telah mewariskan tradisi sastra yang kuat. (FAKHRUNNAS MA JABBAR, Sastrawan, Riau)
Rabu, 08 Februari 2012
MASUK KORAN (cerpen, dimuat di Haluan Riau)
Keramaian di alun-alun Jam
Gadang sudah mulai menyesak. Suara tiupan terompet, balon anak-anak, riuh
rendah percakapan para pengunjung, dan cekakakan remaja, terdengar
bercampur-aduk. Memekakkan telinga dan memusingkan kepalaku yang sesungguhnya
kurang suka keramaian. Tapi disinilah aku saat ini. Dengan kedua temanku,
pasangan suami istri Delfi dan Delon yang dengan nyentriknya sudah memasang bando berbentuk tanduk setan di atas
kepala mereka masing-masing.
Ponselku bernyanyi, dari Bang
Remon. “Ya, Bang?”
“Kamu dimana, Dek?”
“Di dekat Jam Gadang,
Bang. Abang sudah sampai?”
“Sudah. Kamu kesini lah.
Abang malas melewati kerumunan di tengah itu.”
“Abang dimana?”
“Di depan Rumah Makan Simpang
Raya, yang arah pasar.”
Aku kurang hafal dengan
daerah ini. Tapi Delfi yang sudah lebih sering kesini, mengetahui lokasi yang
dimaksud. Kami segera menuju kesana. Tidak terlalu susah menemukan Bang Remon
di tengah keramaian, mengingat tubuhnya yang tinggi, besar, hitam seperti Mike
Tyson. Aku segera mendekatinya.
“Abang naik apa?”
“Sepeda motor.”
“Dimana parkirnya?”
“Tuh…” Dia menunjuk tak
jauh dari tempat kami berdiri. Aku hanya mengangguk.
“Sudah ada atraksi apa
saja?” tanya Bang Remon tentang acara malam Tahun Baru yang mungkin terlewati
olehnya.
“Belum ada, jamnya masih
ditutup kain.”
“Hmm, mungkin nanti
menjelang jam 12.” Abang melihat ke arlojinya. Memang baru pukul 10 malam.
“Kita nunggu disini aja?”
tanyaku.
“Adek maunya kemana?”
“Nggak tahu juga.”
“Delfi, di dekat sini ada
kafe nggak?” tanya Bang Remon.
“Kayaknya ada, Bang. Di
sebelah sana,” tunjuk Delfi.
“Kita ke kafe ajalah ya. Abang haus.”
“Oke,” jawabku.
Kami bertiga berjalan kaki saja menuju kafe itu.
Kebetulan tidak terlalu jauh. Lagipula cukup sulit berkendara dengan kerapatan
pengunjung seperti sekarang ini.
Kafe itu
terbuat dari kayu artistik, dengan penerangan remang-remang yang mendukung
suasana bagi pasangan yang ingin menghabiskan malam. Topeng Kepala Suku Indian
dengan bulu panjang di kepalanya yang digantung di pintu kafe seolah menyambut
pengunjung dengan nuansa eksotis. Kami memilih tempat duduk lesehan. Aku
berdampingan dengan Bang Remon, di depan kami Delfi dan Delon. Seorang pelayan
pria menghampiri kami sambil membawa menu dan catatan kecil untuk menulis
pesanan.
“Pesan apa, Dek?” tanya Bang Remon padaku.
“Kopi ginseng hangat, makannya Beef Burger aja.”
“Kalian?” Bang Remon beralih ke Delfi dan Delon.
“Aku Coca Cola aja,
sama Tuna Sandwich. Ayang apa?” Delfi bertanya pada Delon.
“Sama aja
deh dengan Ayang,” jawab Delon.
“Beef Burger dan Guinness, sebotol ya.” Itu
pesanan Bang Remon. Aku menggeleng-gelengkan kepala, Delon dan Delfi hanya
tersenyum. Tapi aku cukup maklum. Dengan cuaca yang dingin ini, cukup wajar
jika dia ingin sedikit menghangatkan tubuh dengan minuman ‘panas’ itu. Tapi
sebotol, agak keterlaluan menurutku.
“Nanti kan
bagi-bagi, kalian nyobain juga dong,” ujar Bang Remon seolah mengetahui
isi kepalaku.
“Pahit!” celetuk Delfi.
“Enak kok!”
balas Delon.
“Jadi Ayang mau nyoba juga nih
ceritanya?!” Delfi melotot ke suaminya.
Delon hanya terbahak. Bang Remon tersenyum lebar
sambil berkata, “Cuekin aja, Lon.
Nanti kalau sudah merasakan efeknya di ranjang, dia bakal menyuruh kamu sering-sering minum itu.”
Kedua keturunan Adam itu terbahak. Mereka tahu
bahwa Hawa-Hawa mereka takkan sanggup menolak dan melarang mereka menenggak
minuman haram itu. Toh mereka akan
menikmati ‘hasilnya’ nanti.
Tak lama pesanan datang. Satu botol Guinness itu
habis oleh mereka berdua, para Adam, walau porsi Bang Remon tetap lebih banyak.
“Acaranya belum mulai, Bang. Nanti Abang keburu teler,” ujarku mengingatkan.
“Ah, cuma segini mana bakal teler…” tangkis Bang Remon.
Aku hanya menghela nafas. Terserah dialah, asal
tidak membuat keributan atau mempermalukan aku saja nantinya.
Sekitar satu jam kami nongkrong di kafe itu,
ditemani alunan musik hip hop dari sound
system-nya. Setelah puas, kami kembali ke dekat alun-alun. Menunggu
acara-acara pergantian tahun yang tak lama lagi akan dimulai.
Mulanya kami berempat berdiri di depan Rumah Makan
Simpang Raya, tempatku menemui Bang Remon waktu baru datang. Lalu Delfi dan
Delon ingin duduk, sehingga mereka memilih di emperan toko-toko yang sudah
tutup sejak senja. Aku dan Bang Remon tetap bertahan di depan rumah makan itu,
tapi tak lama kemudian bergeser ke arah yang lebih dekat dengan alun-alun.
Acara sudah mulai berlangsung. Tapi ternyata tidak
ada pertunjukan musik. Jam besar itu pun ternyata juga tidak dibuka kain penutupnya.
Yang ada hanya letusan-letusan kembang api yang ditembakkan masing-masing
pemiliknya. Sedikit kecewa, tapi aku dan Bang Remon tetap menikmati acara itu.
Kembang apinya beraneka bentuk, sehingga cukup menyenangkan juga melihatnya.
Kami masih berdiri berdampingan, agak rapat. Bang Remon
merangkul bahuku dari belakang. Pose yang tak vulgar menurutku, dan cukup wajar
untuk kondisi malam hari dengan cuaca dingin seperti ini. Kami berdiri di dekat
sebuah mobil polisi yang berjaga. Entah karena tertutup mobil polisi itu atau
karena kami terlalu asyik memandangi kembang api yang meletus-letus di langit,
kami tidak menyadari ketika serombongan pria dengan pakaian jubah dan sorban
berjalan tergesa-gesa mendekati kami. Ada yang pakaiannya putih dengan sorban
yang juga putih, ada juga yang berwarna serba gelap. Mereka semakin mendekati
aku dan Bang Remon, dan ternyata mereka memang berniat menghampiri kami.
“Maaf, Pak, Bu. Anda suami istri?” tanya salah
seorang dari mereka – yang kemungkinan pemimpin pasukannya – pada Bang Remon.
Jantungku mulai berdebar. Ada apa ini? Aku tidak
merasa melakukan kesalahan apa-apa. Sementara itu mataku silau karena seorang
yang lainnya membidikkan kamera ke wajahku, wajah kami berdua, seolah-olah kami
pezina yang tertangkap basah. Jantungku semakin berdentum, antara jengkel dan
malu.
“Tidak,” jawab Bang Remon tenang sambil
pelan-pelan melepaskan rangkulannya di pundakku. Sepertinya dia tahu arah
pertanyaan ini.
“Muslim kan?”
tanya pria berjubah dan bersorban putih itu lagi.
“Ya.”
“Mohon maaf, Pak. Bapak tahu kan bahwa memegang yang bukan muhrim itu dosa?” Dia memberi gestur
rangkulan Bang Remon di pundakku tadi. Bang Remon mengangguk.
“Baik, Pak. Kali ini kami maafkan. Tapi
besok-besok jangan diulang lagi ya, Pak,” nasihatnya pada kami, seolah-olah
dosa kami adalah tanggung jawabnya dan dialah yang berhak menentukan hukuman.
Sekali lagi Bang Remon mengangguk. Agaknya dia
tidak ingin mencari gara-gara. Aku cukup bersyukur karena dengan kondisinya
yang sudah dipengaruhi alkohol, dia masih bisa bersikap tenang. Aku sudah
sempat khawatir, takut kalau dia kehilangan kesadaran dan menantang mereka
semua. Dan yang juga kusyukuri, sepertinya mereka tidak mencium aroma alkohol
dari mulut Bang Remon, karena mereka tidak mempertanyakan itu.
Selepas mereka pergi, aku dan Bang Remon hanya
saling menatap. Ada senyum mengejek di bibirnya. Kami masih melanjutkan
menikmati sisa malam tahun baru ini hingga semua kembang api ludes ditembakkan.
Setelah itu kami kembali ke hotel, namun tak segera tidur. Di masing-masing
ranjang, para Hawa menikmati efek dari minuman setan yang telah ditenggak para
Adam.
* * *
Kami melewati pagi hingga siang di hotel, nyaris di
kamar saja, selain keluar untuk sarapan dan makan siang. Sorenya, aku dan Bang Remon
duduk-duduk di lobi hotel, sekedar bersantai sambil memikirkan akan kemana sore
hingga malam nanti. Iseng, aku mengambil koran sore yang baru datang dan
diletakkan di rak koran. Aku membolak-balik koran itu. Nyaris semua isinya
tentang acara pergantian tahun tadi malam, di kota ini dan sekitarnya. Juga
beberapa liputan nasional.
Saat membuka lembaran berita foto, leherku serasa
dicekik. Di bawah salah satu foto tertulis, “Pasangan non-muhrim yang tertangkap
Laskar Suci ketika sedang
berpelukan”, dan foto diatasnya terpampang seorang wanita muda dengan rambut
bergelombang melewati bahu, dan di sebelahnya seorang pria berperawakan ala
Mike Tyson. “Ternyata aku cantik juga kalau difoto. Pantas saja fotografer sok
suci itu nafsu banget menjepretku!” batinku.
Bang Remon yang sedari tadi hanya menonton
televisi, ternyata juga sedang memandang foto yang sedang kulihat itu. Kami
berdua berpandangan tanpa suara. Seketika Bang Remon berdiri dan bergegas
menuju kamar. Aku mengikutinya dari belakang. Segera kami mengemasi semua
barang.
(Ruang Semedi, 8 Desember 2010)
* * *
Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus
UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah
Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos
dan puisinya termuat dalam buku “Rahasia
Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010” yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata Provinsi Riau.
Senin, 24 Oktober 2011
Cerpen Terjemahan di Riau Pos Edisi Ahad, 23 Oktober 2011
JENDELA YANG TERBUKA
“Bibi saya akan segera turun, Tuan Nuttel,” ujar seorang remaja lima belas tahun yang sangat tenang. “Sementara menunggu, Anda akan saya temani.”
Framton Nuttel berusaha keras untuk mengungkapkan pujian kepada sang keponakan itu tanpa terlalu mengabaikan bibinya yang hampir tiba. Secara pribadi dia meragukan lebih dari apapun apakah kunjungan formal sebagai orang asing ini dapat sedikit berguna untuk membantu pengobatan syaraf yang sedang dijalaninya.
“Aku tahu apa yang akan terjadi,” kakaknya pernah mengatakan ini saat dia bersiap untuk pindah ke tempat pengasingannya di desa. “Kau akan menimbun dirimu sendiri di sana dan tidak bisa berbicara pada jiwa-jiwa yang hidup, dan syarafmu akan lebih parah dari sebelumnya karena selalu muram. Aku hanya bisa mengirimkan surat perkenalan atas dirimu kepada orang-orang yang kukenal di sana. Beberapa dari mereka, seingatku, cukup baik.”
Framton bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton, salah satu wanita yang juga dikirimi surat perkenalan atas dirinya, termasuk yang baik juga.
“Apakah anda mengenal banyak orang di sekitar sini?” tanya gadis itu lagi, setelah beberapa lama mereka berdiam diri.
“Sangat sedikit,” jawab Framton. “Kakakku pernah tinggal di sini, di rumah pendeta, kau tahu kan… sekitar empat tahun yang lalu, dan dia mengirimkan surat perkenalan atas diriku pada beberapa orang di sini.”
Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan tekanan yang agak mengandung penyesalan.
“Dan Anda tidak mengenal bibi saya dengan baik ya?” desak gadis yang tenang itu.
“Hanya nama dan alamatnya,” akunya. Dia bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton ini berstatus menikah atau janda. Ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan mengenai ruangan yang lebih memiliki sentuhan maskulin ini.
“Tragedi terbesarnya terjadi di sini tiga tahun yang lalu,” ujar gadis itu, “Waktu kakak Anda di sini.”
“Tragedinya?” tanya Framton, bagaimanapun di desa yang tenang seperti ini sebuah tragedi tampak tak mungkin terjadi.
“Anda mungkin heran mengapa kami tetap membiarkan jendela terbuka pada sore bulan Oktober,” jawab ponakan itu sambil menunjuk sebuah jendela Prancis yang terbuka lebar menghadap halaman rumput.
“Mungkin karena ini waktu yang sedikit hangat sepanjang tahun,” balas Framton. “Tapi apakah ada hubungannya dengan tragedi itu?”
“Di luar jendela itu, di suatu hari pada tiga tahun yang lalu, suami dan dua adik laki-lakinya pergi berburu. Mereka tak pernah kembali. Saat mencari-cari tempat yang tepat sebagai persembunyian dalam perburuan mereka saat itu, mereka bertiga tertelan lumpur hisap. Saat itu sudah memasuki musim panas yang mengerikan, Anda tahu, dan tempat-tempat yang biasanya aman pada waktu lain di sepanjang tahun, saat itu menjadi sangat berbahaya tanpa ada tanda-tanda. Tubuh mereka tak pernah ditemukan kembali. Itu hal yang paling mengerikan.”
Pada saat itu, suara gadis itu kehilangan ketenangannya dan menjadi tergagap-gagap. “Bibi yang malang selalu berharap mereka akan kembali suatu hari nanti. Mereka, dan seekor anjing spaniel kecil mereka yang berwarna coklat yang juga ikut hilang bersama mereka. Dan berjalan memasuki jendela itu sebagaimana biasa mereka lakukan. Itulah mengapa jendela itu tetap dibiarkan terbuka setiap hari hingga menjelang malam. Bibi sayang yang malang… Dia masih sering menceritakan padaku bagaimana mereka keluar. Suaminya mengenakan mantel hujannya yang berwarna putih, dan Ronnie, adik laki-lakinya yang paling kecil, menyanyikan ‘Bertie, why do you bound?’ seperti yang sering dilakukannya jika sedang menggoda Bibi, dan karena cerita-cerita itu Bibi mendapatkan penyakit syarafnya ini.
Tahukah Anda, kadang dalam kesunyian, malam-malam tenang seperti ini, aku mendapat perasaan aneh bahwa mereka akan berjalan memasuki jendela itu…”
Dia terdiam sambil bergidik. Framton lega saat sang bibi bergegas memasuki ruangan dengan penuh penyesalan karena terlambat tiba.
“Kuharap Vera telah menghiburmu,” ujarnya.
“Dia sangat menarik,” balas Framton.
“Kuharap Anda tidak keberatan jendelanya tetap terbuka,” ujar Nyonya Sappleton segera, “Suami dan adik-adikku akan segera pulang dari berburu, dan mereka selalu masuk dari sini. Mereka pergi berburu, jadi mereka akan membuat karpet saya sangat kotor. Namanya juga pria, ya kan?”
Dia mengoceh dengan riang tentang perburuan dan kelangkaan burung, dan prospek bagi bebek-bebek di musim dingin. Bagi Framton, ini sangat mengerikan. Dia putus asa dan hanya sedikit sekali mampu berusaha untuk memotong pembicaraan Nyonya Sappleton yang terdengar horor. Dia sadar bahwa nyonya rumah itu tidak terlalu memperhatikannya, dan matanya tak pernah lepas dari memandang jendela dan lapangan rumput yang terbuka di belakang Framton. Sungguh ketidaksengajaan yang tidak menyenangkan bahwa dia harus membayar kunjungan ini pada sebuah peringatan tragis.
“Para dokter setuju untuk memberikanku istirahat total, menjauhi rangsangan kejiwaaan, dan mencegah apapun yang bersifat kekerasan fisik,” ungkap Framton, yang bersusah-payah berbicara atas delusi panjang bahwa keterasingan total dan kesempatan berkenalan sesungguhnya membutuhkan detil yang paling minim atas penyakit dan kelemahan seseorang, baik penyebab maupun obatnya. “Tentang masalah diet, mereka tidak terlalu sepakat,” lanjutnya.
“Tidak?” tanya Nyonya Sappleton setelah menguap lebar. Lalu dia mendadak sangat perhatian, namun tidak pada apa yang Framton katakan.
“Akhirnya mereka datang!” teriaknya. “Tepat pada saat minum teh, dan mereka tidak tampak seperti sudah tenggelam dalam lumpur hingga ke mata!”
Framton sedikit gemetar dan berpaling pada gadis keponakan Nyonya Sappleton dengan pandangan yang ingin menunjukkan pemahaman simpati yang dalam. Gadis itu menatap jendela yang terbuka dengan mata terbelalak. Dengan kengerian yang tak terungkapkan, Framton membalikkan badannya dan memandang ke arah yang sama.
Dalam temaram yang pekat, tiga sosok berjalan melintasi halaman rumput memasuki jendela. Mereka masing-masing membawa senapan, dan salah satu dari mereka tenggelam dalam mantel putih panjangnya. Seekor anjing spaniel coklat yang tampak sangat lelah berjalan di dekat kakinya. Tanpa suara mereka mendekati rumah, dan suara serak seorang pemuda memecah kelam, “Aku bilang, ‘Bertie, why do you bound?’”
Framton merampas tongkat dan topinya serabutan, meraih gagang pintu dengan kasar, menghantam jalanan kerikil, membuka paksa gerbang depan dan kabur dengan tergesa-gesa. Dia memacu sepeda menghantam tanaman untuk menghindari tabrakan yang nyaris terjadi.
“Kami datang, Sayang,” ujar pemburu dengan mantel putih, memasuki jendela. “Agak berlumpur, tapi masih kering. Siapa yang meloncat keluar saat kami datang?”
“Pria paling aneh, Tuan Nuttel namanya,” jawab Nyonya Sappleton, “yang hanya bisa berbicara tentang penyakitnya, dan tergagap-gagap tanpa mengucapkan selamat tinggal atau minta maaf karena pergi saat kau tiba. Orang akan mengira dia telah melihat hantu.”
“Kuharap yang dimaksudnya anjing ini,” ujar gadis kecil keponakan itu dengan tenang. “Dia mengatakan dia takut pada anjing. Dia pernah dikejar segerombolan anjing liar sampai ke kuburan di suatu tempat di pinggiran Ganges, dan harus melewati malam itu di sebuah lubang kuburan yang baru digali dengan makhluk-makhluk itu menggonggong dan menyeringai dengan mulut berbusa diatasnya. Cukup untuk membuat siapa saja terganggu syarafnya.”
Nuansa romantis pun memenuhi ruangan itu.
***
Hector Hugh Munro (18 Desember 1870-13 November 1916), dikenal dengan nama pena Saki, dan juga sering disebut H H Munro, adalah seorang penulis berkebangsaan Inggris. Mengawali karir kepenulisan sebagai jurnalis di Westminster Gazette, Daily Express, Bystander, Morning Post, and Outlook. Buku pertamanya terbit di tahun 1900, The Rise of the Russian Empire, sebuah buku sejarah. Novel-novelnya antara lain The Unbearable Bassington, seri The Westminster Alice (sebuah parodi Alice in Wonderland), dan When William Came, subtitle dari A Story of London Under the Hohenzollerns, sebuah novel fantasi tentang masa depan invasi Jerman ke Inggris Raya. Cerpen ini diterjemahkan dari judul aslinya, “The Open Window”, yang termuat dalam situs www.classicshorts.com.
Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan Riau, Sumut Pos; dan puisinya termuat dalam buku Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010 yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.
“Bibi saya akan segera turun, Tuan Nuttel,” ujar seorang remaja lima belas tahun yang sangat tenang. “Sementara menunggu, Anda akan saya temani.”
Framton Nuttel berusaha keras untuk mengungkapkan pujian kepada sang keponakan itu tanpa terlalu mengabaikan bibinya yang hampir tiba. Secara pribadi dia meragukan lebih dari apapun apakah kunjungan formal sebagai orang asing ini dapat sedikit berguna untuk membantu pengobatan syaraf yang sedang dijalaninya.
“Aku tahu apa yang akan terjadi,” kakaknya pernah mengatakan ini saat dia bersiap untuk pindah ke tempat pengasingannya di desa. “Kau akan menimbun dirimu sendiri di sana dan tidak bisa berbicara pada jiwa-jiwa yang hidup, dan syarafmu akan lebih parah dari sebelumnya karena selalu muram. Aku hanya bisa mengirimkan surat perkenalan atas dirimu kepada orang-orang yang kukenal di sana. Beberapa dari mereka, seingatku, cukup baik.”
Framton bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton, salah satu wanita yang juga dikirimi surat perkenalan atas dirinya, termasuk yang baik juga.
“Apakah anda mengenal banyak orang di sekitar sini?” tanya gadis itu lagi, setelah beberapa lama mereka berdiam diri.
“Sangat sedikit,” jawab Framton. “Kakakku pernah tinggal di sini, di rumah pendeta, kau tahu kan… sekitar empat tahun yang lalu, dan dia mengirimkan surat perkenalan atas diriku pada beberapa orang di sini.”
Dia mengucapkan kalimat terakhir dengan tekanan yang agak mengandung penyesalan.
“Dan Anda tidak mengenal bibi saya dengan baik ya?” desak gadis yang tenang itu.
“Hanya nama dan alamatnya,” akunya. Dia bertanya-tanya apakah Nyonya Sappleton ini berstatus menikah atau janda. Ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan mengenai ruangan yang lebih memiliki sentuhan maskulin ini.
“Tragedi terbesarnya terjadi di sini tiga tahun yang lalu,” ujar gadis itu, “Waktu kakak Anda di sini.”
“Tragedinya?” tanya Framton, bagaimanapun di desa yang tenang seperti ini sebuah tragedi tampak tak mungkin terjadi.
“Anda mungkin heran mengapa kami tetap membiarkan jendela terbuka pada sore bulan Oktober,” jawab ponakan itu sambil menunjuk sebuah jendela Prancis yang terbuka lebar menghadap halaman rumput.
“Mungkin karena ini waktu yang sedikit hangat sepanjang tahun,” balas Framton. “Tapi apakah ada hubungannya dengan tragedi itu?”
“Di luar jendela itu, di suatu hari pada tiga tahun yang lalu, suami dan dua adik laki-lakinya pergi berburu. Mereka tak pernah kembali. Saat mencari-cari tempat yang tepat sebagai persembunyian dalam perburuan mereka saat itu, mereka bertiga tertelan lumpur hisap. Saat itu sudah memasuki musim panas yang mengerikan, Anda tahu, dan tempat-tempat yang biasanya aman pada waktu lain di sepanjang tahun, saat itu menjadi sangat berbahaya tanpa ada tanda-tanda. Tubuh mereka tak pernah ditemukan kembali. Itu hal yang paling mengerikan.”
Pada saat itu, suara gadis itu kehilangan ketenangannya dan menjadi tergagap-gagap. “Bibi yang malang selalu berharap mereka akan kembali suatu hari nanti. Mereka, dan seekor anjing spaniel kecil mereka yang berwarna coklat yang juga ikut hilang bersama mereka. Dan berjalan memasuki jendela itu sebagaimana biasa mereka lakukan. Itulah mengapa jendela itu tetap dibiarkan terbuka setiap hari hingga menjelang malam. Bibi sayang yang malang… Dia masih sering menceritakan padaku bagaimana mereka keluar. Suaminya mengenakan mantel hujannya yang berwarna putih, dan Ronnie, adik laki-lakinya yang paling kecil, menyanyikan ‘Bertie, why do you bound?’ seperti yang sering dilakukannya jika sedang menggoda Bibi, dan karena cerita-cerita itu Bibi mendapatkan penyakit syarafnya ini.
Tahukah Anda, kadang dalam kesunyian, malam-malam tenang seperti ini, aku mendapat perasaan aneh bahwa mereka akan berjalan memasuki jendela itu…”
Dia terdiam sambil bergidik. Framton lega saat sang bibi bergegas memasuki ruangan dengan penuh penyesalan karena terlambat tiba.
“Kuharap Vera telah menghiburmu,” ujarnya.
“Dia sangat menarik,” balas Framton.
“Kuharap Anda tidak keberatan jendelanya tetap terbuka,” ujar Nyonya Sappleton segera, “Suami dan adik-adikku akan segera pulang dari berburu, dan mereka selalu masuk dari sini. Mereka pergi berburu, jadi mereka akan membuat karpet saya sangat kotor. Namanya juga pria, ya kan?”
Dia mengoceh dengan riang tentang perburuan dan kelangkaan burung, dan prospek bagi bebek-bebek di musim dingin. Bagi Framton, ini sangat mengerikan. Dia putus asa dan hanya sedikit sekali mampu berusaha untuk memotong pembicaraan Nyonya Sappleton yang terdengar horor. Dia sadar bahwa nyonya rumah itu tidak terlalu memperhatikannya, dan matanya tak pernah lepas dari memandang jendela dan lapangan rumput yang terbuka di belakang Framton. Sungguh ketidaksengajaan yang tidak menyenangkan bahwa dia harus membayar kunjungan ini pada sebuah peringatan tragis.
“Para dokter setuju untuk memberikanku istirahat total, menjauhi rangsangan kejiwaaan, dan mencegah apapun yang bersifat kekerasan fisik,” ungkap Framton, yang bersusah-payah berbicara atas delusi panjang bahwa keterasingan total dan kesempatan berkenalan sesungguhnya membutuhkan detil yang paling minim atas penyakit dan kelemahan seseorang, baik penyebab maupun obatnya. “Tentang masalah diet, mereka tidak terlalu sepakat,” lanjutnya.
“Tidak?” tanya Nyonya Sappleton setelah menguap lebar. Lalu dia mendadak sangat perhatian, namun tidak pada apa yang Framton katakan.
“Akhirnya mereka datang!” teriaknya. “Tepat pada saat minum teh, dan mereka tidak tampak seperti sudah tenggelam dalam lumpur hingga ke mata!”
Framton sedikit gemetar dan berpaling pada gadis keponakan Nyonya Sappleton dengan pandangan yang ingin menunjukkan pemahaman simpati yang dalam. Gadis itu menatap jendela yang terbuka dengan mata terbelalak. Dengan kengerian yang tak terungkapkan, Framton membalikkan badannya dan memandang ke arah yang sama.
Dalam temaram yang pekat, tiga sosok berjalan melintasi halaman rumput memasuki jendela. Mereka masing-masing membawa senapan, dan salah satu dari mereka tenggelam dalam mantel putih panjangnya. Seekor anjing spaniel coklat yang tampak sangat lelah berjalan di dekat kakinya. Tanpa suara mereka mendekati rumah, dan suara serak seorang pemuda memecah kelam, “Aku bilang, ‘Bertie, why do you bound?’”
Framton merampas tongkat dan topinya serabutan, meraih gagang pintu dengan kasar, menghantam jalanan kerikil, membuka paksa gerbang depan dan kabur dengan tergesa-gesa. Dia memacu sepeda menghantam tanaman untuk menghindari tabrakan yang nyaris terjadi.
“Kami datang, Sayang,” ujar pemburu dengan mantel putih, memasuki jendela. “Agak berlumpur, tapi masih kering. Siapa yang meloncat keluar saat kami datang?”
“Pria paling aneh, Tuan Nuttel namanya,” jawab Nyonya Sappleton, “yang hanya bisa berbicara tentang penyakitnya, dan tergagap-gagap tanpa mengucapkan selamat tinggal atau minta maaf karena pergi saat kau tiba. Orang akan mengira dia telah melihat hantu.”
“Kuharap yang dimaksudnya anjing ini,” ujar gadis kecil keponakan itu dengan tenang. “Dia mengatakan dia takut pada anjing. Dia pernah dikejar segerombolan anjing liar sampai ke kuburan di suatu tempat di pinggiran Ganges, dan harus melewati malam itu di sebuah lubang kuburan yang baru digali dengan makhluk-makhluk itu menggonggong dan menyeringai dengan mulut berbusa diatasnya. Cukup untuk membuat siapa saja terganggu syarafnya.”
Nuansa romantis pun memenuhi ruangan itu.
***
Hector Hugh Munro (18 Desember 1870-13 November 1916), dikenal dengan nama pena Saki, dan juga sering disebut H H Munro, adalah seorang penulis berkebangsaan Inggris. Mengawali karir kepenulisan sebagai jurnalis di Westminster Gazette, Daily Express, Bystander, Morning Post, and Outlook. Buku pertamanya terbit di tahun 1900, The Rise of the Russian Empire, sebuah buku sejarah. Novel-novelnya antara lain The Unbearable Bassington, seri The Westminster Alice (sebuah parodi Alice in Wonderland), dan When William Came, subtitle dari A Story of London Under the Hohenzollerns, sebuah novel fantasi tentang masa depan invasi Jerman ke Inggris Raya. Cerpen ini diterjemahkan dari judul aslinya, “The Open Window”, yang termuat dalam situs www.classicshorts.com.
Febby Fortinella Rusmoyo, lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982; alumnus UIN Suska Riau, bekerja di UIN Suska Riau, dan pernah belajar di Sekolah Menulis Paragraf, domisili Pekanbaru. Karya-karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan Riau, Sumut Pos; dan puisinya termuat dalam buku Rahasia Hati: Antologi Penyair Muda Riau 2010 yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.
Selasa, 18 Oktober 2011
The Interpreter
Ini bukan tentang film “The Interpreter” yang dibintangi Nicole Kidman dan Sean Penn. Tapi ini tentang satu pengalaman baruku menjadi interpreter dalam acara Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 dengan tema “Sastra Multikultural”. Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 13 Oktober 2011, di Galeri Ibrahim Sattah, Kompleks Bandar Serai Pekanbaru. Yang hadir sebagai pembicara adalah penyair dari Australia bernama Sean M. Whelan, ditemani oleh Budy Utamy, penyair muda Riau dari Komunitas Paragraf Pekanbaru yang kebetulan juga turut serta dalam acara Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Ubud, Bali tanggal 5-9 Oktober 2011. Sebagai pembawa acara kali ini adalah Refila Yusra (Komunitas Paragraf Pekanbaru). Aku berperan sebagai moderator sekaligus interpreter untuk Sean M. Whelan.
Awalnya tentu saja sedikit nervous, apalagi sudah cukup lama aku tidak pernah berbincang-bincang dengan orang dari luar negeri. Apalagi jika harus menjadi perantara antara sang pembicara yang notabene orang luar dengan para peserta yang orang kita. Mungkin beberapa dari peserta cukup paham sedikit-sedikit Bahasa Inggris, tapi untuk menyampaikan apa yang ingin mereka tanyakan mungkin yang agak berat. Satu hal lagi, Sean adalah orang Australia, yang dialeknya tentu saja berbeda dengan orang Amerika Serikat atau Inggris. Dan sejujurnya aku sebenarnya lebih familiar dengan dialek Amerika karena sejak kecil memang sudah “dijejali” dengan film-film Amerika atau lagu-lagu Amerika yang sengaja dibiasakan almarhum Bapak supaya kami tidak asing dengan Bahasa Inggris. Dan karena Bapak juga bekerja di lingkungan yang lebih banyak orang Amerikanya (PT. CPI Rumbai), dan kebetulan pembimbing skripsi Bapak jaman kuliah dulu juga orang Amerika, jadinya Bapak juga membiasakan kami dengan dialek Amerika. Waktu kelas 2 SD saja lagu favoritku “It’s Now or Never”-nya Elvis Presley..
Untungnya Sean adalah orang yang sangat kooperatif dan cukup ramah. Jadi walaupun awalnya aku agak canggung, tapi pada akhirnya semua berjalan dengan lancar. Semua pertanyaan para peserta dijawab dengan memuaskan oleh Sean dan sepertinya para peserta juga puas dengan hasil terjemahan lisanku. Sean M. Whelan adalah seorang penyair asal Melbourne, Australia, yang telah menelurkan dua buku kumpulan puisinya yaitu Love is the New Hate dan Tattooing the Surface of the Moon. Sean juga memiliki latar belakang yang cukup unik karena selain sebagai penyair, beliau juga seorang DJ (Disc Jockey), bekerja di perusahaan rekaman, menulis skenario drama, dan juga mempunyai sebuah kelompok band bernama The Interim Lovers yang telah menelurkan satu album yaitu Softly and Suddenly pada bulan Oktober 2010. Beliau juga mengajarkan sastra di sekolah-sekolah, sebagai pengabdiannya terhadap bidang yang dicintainya ini. Beliau juga mempunyai sebuah program bernama Babble dan koordinator dari Liner Notes, yang keduanya merupakan program musikalisasi puisi yang rutin diselenggarakannya di kafe-kafe di daerah asalnya.
Para peserta Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 berasal dari berbagai kalangan seperti dari Balai Bahasa Riau, mahasiswa Universitas Riau, mahasiswa UIN Suska Riau, mahasiswa Universitas Abdurrab, perwakilan Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru, dan lain-lain, serta dari individu yang tertarik dengan bidang ini. Dalam diskusi ini, para peserta kebanyakan menanyakan tentang proses kreatif, bagaimana mengatasi kebuntuan dalam menulis, apa saja jenis-jenis puisi, bagaimana kesan-kesan para penulis dalam menghadiri acara Ubud Writers and Readers Festival 2011 di Bali itu sendiri, dan khusus kepada Sean, mereka juga menanyakan bagaimana perkembangan sastra terutama puisi di negeri asalnya, Australia. Ternyata di Australia, keberadaan sastra tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, yaitu juga masih belum terlalu akrab bagi masyarakatnya, meski tidak semengenaskan sastra di Indonesia. Di sekolah-sekolah di Australia, pengajaran sastra di sekolah juga masih bersifat umum, namun murid-murid yang tertarik mendalaminya dapat mengambil pelajaran tambahan diluar jam sekolah dalam bidang ini. Selain itu, yang mungkin patut membuat kita sedikit “iri” terhadap mereka adalah adanya perhatian dari Pemerintah berupa bantuan dana bagi warganya untuk menerbitkan sebuah buku, menyelenggarakan even-even sastra, dan sebagainya. Kita tinggal mengajukan proposal permintaan dananya, dan Pemerintah akan bersedia memberikannnya, dengan catatan benar-benar dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Di negeri kita, mungkin sah-sah saja kita mengajukan permohonan bantuan dana, tapi mungkin persetujuannya ditangguhkan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Sebagai langkah untuk lebih memasyarakatkan sastra dan menyastrakan masyarakatnya, Sean dan komunitasnya disana juga intens mengadakan musikalisasi puisi di kafe-kafe, bahkan telah mengalbumkan musikalisasi puisi bersama dengan bandnya. Sebuah totalitas profesi yang pantas ditiru. Meski beliau sendiri mengaku bahwa pilihannya sebagai seorang penyair adalah karena baginya puisi merupakan bentuk tulisan yang paling murni. Kita tidak bisa kaya dengan menulis puisi. Mungkin kita bisa kaya dengan menulis novel, atau skenario, dan yang lainnya, tapi tidak jika hanya menulis buku kumpulan puisi. Butuh kolaborasi pekerjaan untuk itu dan itulah yang dijalaninya saat ini.
Di akhir acara ini tentu saja ada sesi potret-memotret dan tanda tangan oleh Sean. Selain itu, karena ada sedikit wawancara dari koran “Haluan Riau”, maka sekali lagi aku menjadi perantara bahasa antara Sean dan wartawan media tersebut. Setelah acara Diskusi Sastra, kami para anggota Komunitas Paragraf Pekanbaru sebagai pihak penyelenggara pergi makan bersama dengan Sean di Rumah Makan “Poho” di Jl. A. Yani, Pekanbaru. Sesi bebas ini dimanfaatkan oleh teman-teman untuk mempraktekkan Bahasa Inggris mereka. Dan sekali lagi kami berfoto bersama. Sungguh pengalaman luar biasa... Dan yang lebih menyenangkan lagi, di wall FB-ku, Sean mengucapkan terima kasihnya padaku dengan mengatakan: “...and thanks to Febby Fortinella Rusmoyo for her mad interpreter skill.” Wooow..., your welcome Sean.., you’re great too..
Minggu, 25 September 2011
Resensi Novel "Sebelas Patriot" Karya Andrea Hirata oleh Febby Fortinella Rusmoyo [Riau Pos Edisi Ahad, 25 September 2011]
SEPAKBOLA : FANATISME DAN CINTA SEJATI
Judul novel : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Juni 2011
Tebal : 101 halaman
Resensi:
Kembali kita disuguhi oleh kisah seorang anak berambut ikal dengan nama Ikal juga, yang berasal dari sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Sumatera, Belitong. Pulau yang sekitar 5 tahun lalu mungkin belum pernah terdengar namanya, namun saat ini menjadi salah satu tujuan wisata “terpanas” di Republik ini berkat tetralogi “Laskar Pelangi” oleh penulis yang sama.
Kali ini Ikal mengungkap sisi lain dari kehidupannya, yakni kecintaannya terhadap sepakbola. Di tetralogi Laskar Pelangi, kecintaannya terhadap sepakbola nyaris tidak pernah disinggung. Dia – Si Ikal maksudnya – malah “mengaku” begitu mencintai bulutangkis. Namun di novel yang tergolong tipis untuk ukuran Andrea Hirata ini, diungkap tuntas kecintaan Ikal terhadap sepakbola, sebelum akhirnya rasa cinta yang berbuah keinginan besar untuk menjadi pemain PSSI itu kandas dan hal inilah yang membuatnya “ke lain hati” menjadi mencintai bulutangkis.
Ternyata kecintaannya terhadap sepakbola ini bukan tanpa sebab. Berawal dari sebuah foto yang terlarang baginya untuk dilihat, apalagi ditanya, Ikal secara tidak sengaja, atau lebih tepatnya sembunyi-sembunyi, menemukan sejarah bahwa ayahnya yang amat sangat dicintai dan dikaguminya itu pernah menjadi salah seorang pahlawan sepakbola di kampungnya ketika jaman penjajahan Belanda, yang membuat ayahnya tersebut harus mengalami kehancuran tempurung lutut kiri akibat siksaan Belanda yang tidak senang kesebelasan kumpeni dikalahkan kesebelasan jajahan dengan gol semata wayang ayahnya ini.
Mengetahui begitu besar peran ayahnya pada masa itu, Ikal bertekad untuk meneruskan jejak ayahnya sebagai pahlawan sepakbola, dan dengan semangat yang membuncah-buncah, berkali-kali mencoba menjadi pemain sepakbola junior PSSI, namun selalu gagal. Rasa sedih, kecewa, dan merasa bersalah pada ayahnya, sangat memukul jiwa Ikal. Namun kata-kata motivasi dari ayahnya membuatnya kembali bangkit, “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.” Sungguh kalimat motivasi terhebat yang pernah keluar dari seorang ayah yang sangat pendiam dan bahkan tak pandai baca tulis itu.
Menyadari ketidakmungkinannya menjadi pemain sepakbola, membuat Ikal puas sekedar menjadi pendukung sepakbola terutama PSSI dengan menyebut dirinya dan para pendukung PSSI sebagai Patriot PSSI. Atas kecintaan yang besar terhadap sepakbola pada umumnya, dan terhadap ayahnya pada khususnya itu pulalah yang membuat Ikal dengan penuh perjuangan mendapatkan baju seragam sepakbola milik Luis Figo – langsung dari markas Real Madrid di Santiago Bernabeu di Kota Madrid, Spanyol, dan lengkap dengan tanda tangan asli Figo – dengan bekerja serabutan siang malam seperti yang biasa dilakoni seorang backpacker, agar uangnya mencukupi harga kaos itu sejumlah dua ratus lima puluh euro. Dan dia berhasil mendapatkannya, tentu saja. Bahkan setelah itu dia berhasil juga menonton pertanding antara Real Madrid vs Valencia, langsung dari tribun di stadion Santiago Bernabeu.
Novel ini memang mengupas kisah haru biru yang menyelimuti para penggila bola di seluruh dunia. Bahwa setiap orang, penggemar fanatik sepakbola, mempunyai kisah dan alasan tersendiri tentang mengapa mereka bisa begitu menggilai sepakbola, yang bahkan di beberapa negara di Eropa dan Amerika Latin, sepakbola telah menjadi “agama” bagi mereka. Di dalam sepakbola pula, Andrea Hirata mengupas begitu banyak aspek kehidupan yang dapat dipelajari. Sepakbola sebagai life style, sepakbola sebagai seni, sepakbola sebagai psikologi, sepakbola sebagai sejarah, sepakbola sebagai bisnis, sepakbola sebagai politik, sepakbola sebagai budaya, sepakbola sebagai keikhlasan, sepakbola sebagai cinta, dan sepakbola sebagai agama.
Novel singkat yang dari segi sastra sangat sederhana, ringan, dan sangat gampang dicerna orang awam ini, sangat bisa dijadikan pemompa semangat pendukung sepakbola Indonesia ditengah carut-marut kemelut PSSI dan liga-liga di Indonesia. Semoga dapat memberikan inspirasi.
***
Febby Fortinella Rusmoyo, penikmat buku, cerpenis muda, penerjemah cerpen, tinggal di Pekanbaru.
Judul novel : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Juni 2011
Tebal : 101 halaman
Resensi:
Kembali kita disuguhi oleh kisah seorang anak berambut ikal dengan nama Ikal juga, yang berasal dari sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Sumatera, Belitong. Pulau yang sekitar 5 tahun lalu mungkin belum pernah terdengar namanya, namun saat ini menjadi salah satu tujuan wisata “terpanas” di Republik ini berkat tetralogi “Laskar Pelangi” oleh penulis yang sama.
Kali ini Ikal mengungkap sisi lain dari kehidupannya, yakni kecintaannya terhadap sepakbola. Di tetralogi Laskar Pelangi, kecintaannya terhadap sepakbola nyaris tidak pernah disinggung. Dia – Si Ikal maksudnya – malah “mengaku” begitu mencintai bulutangkis. Namun di novel yang tergolong tipis untuk ukuran Andrea Hirata ini, diungkap tuntas kecintaan Ikal terhadap sepakbola, sebelum akhirnya rasa cinta yang berbuah keinginan besar untuk menjadi pemain PSSI itu kandas dan hal inilah yang membuatnya “ke lain hati” menjadi mencintai bulutangkis.
Ternyata kecintaannya terhadap sepakbola ini bukan tanpa sebab. Berawal dari sebuah foto yang terlarang baginya untuk dilihat, apalagi ditanya, Ikal secara tidak sengaja, atau lebih tepatnya sembunyi-sembunyi, menemukan sejarah bahwa ayahnya yang amat sangat dicintai dan dikaguminya itu pernah menjadi salah seorang pahlawan sepakbola di kampungnya ketika jaman penjajahan Belanda, yang membuat ayahnya tersebut harus mengalami kehancuran tempurung lutut kiri akibat siksaan Belanda yang tidak senang kesebelasan kumpeni dikalahkan kesebelasan jajahan dengan gol semata wayang ayahnya ini.
Mengetahui begitu besar peran ayahnya pada masa itu, Ikal bertekad untuk meneruskan jejak ayahnya sebagai pahlawan sepakbola, dan dengan semangat yang membuncah-buncah, berkali-kali mencoba menjadi pemain sepakbola junior PSSI, namun selalu gagal. Rasa sedih, kecewa, dan merasa bersalah pada ayahnya, sangat memukul jiwa Ikal. Namun kata-kata motivasi dari ayahnya membuatnya kembali bangkit, “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.” Sungguh kalimat motivasi terhebat yang pernah keluar dari seorang ayah yang sangat pendiam dan bahkan tak pandai baca tulis itu.
Menyadari ketidakmungkinannya menjadi pemain sepakbola, membuat Ikal puas sekedar menjadi pendukung sepakbola terutama PSSI dengan menyebut dirinya dan para pendukung PSSI sebagai Patriot PSSI. Atas kecintaan yang besar terhadap sepakbola pada umumnya, dan terhadap ayahnya pada khususnya itu pulalah yang membuat Ikal dengan penuh perjuangan mendapatkan baju seragam sepakbola milik Luis Figo – langsung dari markas Real Madrid di Santiago Bernabeu di Kota Madrid, Spanyol, dan lengkap dengan tanda tangan asli Figo – dengan bekerja serabutan siang malam seperti yang biasa dilakoni seorang backpacker, agar uangnya mencukupi harga kaos itu sejumlah dua ratus lima puluh euro. Dan dia berhasil mendapatkannya, tentu saja. Bahkan setelah itu dia berhasil juga menonton pertanding antara Real Madrid vs Valencia, langsung dari tribun di stadion Santiago Bernabeu.
Novel ini memang mengupas kisah haru biru yang menyelimuti para penggila bola di seluruh dunia. Bahwa setiap orang, penggemar fanatik sepakbola, mempunyai kisah dan alasan tersendiri tentang mengapa mereka bisa begitu menggilai sepakbola, yang bahkan di beberapa negara di Eropa dan Amerika Latin, sepakbola telah menjadi “agama” bagi mereka. Di dalam sepakbola pula, Andrea Hirata mengupas begitu banyak aspek kehidupan yang dapat dipelajari. Sepakbola sebagai life style, sepakbola sebagai seni, sepakbola sebagai psikologi, sepakbola sebagai sejarah, sepakbola sebagai bisnis, sepakbola sebagai politik, sepakbola sebagai budaya, sepakbola sebagai keikhlasan, sepakbola sebagai cinta, dan sepakbola sebagai agama.
Novel singkat yang dari segi sastra sangat sederhana, ringan, dan sangat gampang dicerna orang awam ini, sangat bisa dijadikan pemompa semangat pendukung sepakbola Indonesia ditengah carut-marut kemelut PSSI dan liga-liga di Indonesia. Semoga dapat memberikan inspirasi.
***
Febby Fortinella Rusmoyo, penikmat buku, cerpenis muda, penerjemah cerpen, tinggal di Pekanbaru.
Kamis, 28 Juli 2011
Menyambut Bulan Ramadhan, Hati-Hati Ritual Anehnya
Tiba saatnya kaum muslimim menyambut tamu agung bulan Ramadhan, tamu yang dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya. Sebentar lagi tamu itu akan bertemu dengan kita. Tamu yang membawa berkah yang berlimpah ruah. Tamu bulan Ramadhan adalah tamu agung, yang semestinya kita bergembira dengan kedatangannya dan merpersiapkan untuk menyambutnya.
Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”
Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :
1. Padusan atau Balimau Kasai, yaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini. Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.
2. Nyekar di kuburan leluhur.
Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!
3. Minta maaf kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.
Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna. Tidak diragukan, bahwa meminta maaf kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.
Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.
Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlas kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.
Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlas, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga bisa menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.
Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ibu Majah)
Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.
Wallähu a’lam..
Disarikan dari: Redaksi Assalafy.org (http://www.assalafy.org/mahad/?p=340&print=1)
Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”
Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :
1. Padusan atau Balimau Kasai, yaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini. Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.
2. Nyekar di kuburan leluhur.
Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!
3. Minta maaf kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.
Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna. Tidak diragukan, bahwa meminta maaf kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.
Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.
Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlas kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.
Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlas, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga bisa menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.
Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ibu Majah)
Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.
Wallähu a’lam..
Disarikan dari: Redaksi Assalafy.org (http://www.assalafy.org/mahad/?p=340&print=1)
Langganan:
Postingan (Atom)