Baru sekali ini aku melihatnya walaupun aku melewati persimpangan lampu
merah itu setiap hari. Di persimpangan itu, seperti biasa banyak penjaja koran
yang lalu lalang, dari pagi sampai malam menawarkan koran-koran dagangannya itu
kepada setiap pemakai jalan, entah yang naik mobil, motor, ataupun penumpang
angkot. Tapi pagi ini ada satu hal yang membuatku tercengang. Salah seorang
penjaja koran jalanan itu, seorang pemuda, paling tua mungkin seumuranku, tapi sepertinya
lebih muda lagi, berjalan agak pelan dan satu-satu ke tengah kerumunan
kendaraan yang sedang menunggu lampu merah berubah jadi hijau. Aku sempat heran
melihat jalannya yang pelan itu, setelah dekat baru aku bisa melihat dengan
jelas, ternyata kedua matanya hanya berwarna putih.., alias buta... Beberapa
penumpang lainnya juga sempat memandangi pemuda itu. Dia dengan santainya
‘menjerumuskan’ diri ke tengah jalan yang penuh kendaraan itu tanpa takut
risikonya padahal dia tidak bisa meliat lalu lalang kendaraan, mungkin saja
dari sekian banyak kendaraan itu ada yang nyaris menabrak dia. Mungkin dia
mengandalkan indra lainnya seperti telinga dan yang jelas intuisinya untuk
merasakan apa ada bahaya yang datang. Lalu gimana dia bisa memastikan orang
yang membeli korannya akan membayar dengan jumlah uang yang sebenarnya
sementara dia sendiri ga bisa meliat. Hhhh...satu hal yang aku sendiri ga habis
pikir.. Tapi orang seperti itu memang patut diacungi jempol. Dengan
keterbatasan fisik yang dimilikinya, dia ga lantas merasa dirinya useless.
Malah dia bisa membuat dirinya berguna, paling ga untuk dirinya sendiri, dengan
ga menjadi beban bagi orang lain. Malah pekerjaannya itu bisa menguntungkan orang
lain, agen koran itu misalnya, mungkin juga keluarganya, yang dengan
pekerjaannya itu bisa dihidupinya walaupun mungkin pas-pasan. Sementara kita
yang mungkin ga punya kekurangan apapun kadang seenaknya membebani orang lain,
tanpa merasa bersalah pula. Ck..ck..ck... Melihat kejadian seperti ini, aku
jadi menyadari bahwa Tuhan memang adil..
Blog ini berisi segala sesuatu yang dapat ditulis, yang dapat membantu untuk menulis, dan apa saja yang tertulis....
Kamis, 27 September 2007
Senin, 24 September 2007
Fenomena Pramuniaga Department Store
Ada satu fenomena yang sering aku perhatikan pada
saat-saat seperti ini, saat puasa dan terutama mendekati Lebaran. Tentang department store dan mal-mal yang
mendadak menyesakkan oleh orang-orang yang haus akan penampilan indah. Yang
jadi perhatianku bukan para pembelinya, tapi justru para pramuniaganya yang
jadi begitu sibuknya melayani para pembeli, yang kadang (maaf..) untuk kentut saja
tak sempat karena sibuk melayani orang. Sementara mereka yang harus kerja keras
itu mungkin hanya mendapat penghasilan yang pas-pasan untuk kehidupan
metropolitan ini. Belum lagi biaya kos, biaya makan, dan mungkin juga kiriman
ke kampung karena biasanya mereka ini adalah anak kos-kosan yang orang tua dan
keluarganya ada di kampung dan biasanya juga berasal dari keluarga pas-pasan.
Belum lagi soal pakaian seragam mereka. Aku sering memperhatikan, sebenarnya
mereka, para pramuniaga wanita itu, merasa tidak nyaman dengan seragam mereka
yang mengharuskan mereka memakai rok mini. Sementara mereka harus naik turun
angkot yang notabene penumpangnya bermacam-macam. Kadang mereka sampai harus
menutupi paha mereka yang (maaf..) tidak mulus itu dengan tas kecil yang mereka
bawa untuk melindunginya dari tatapan para penumpang pria yang suka mengambil
kesempatan dalam keminian. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang ketika
berangkat memakai baju seragamnya, tapi bawahannya celana jeans. Nanti sesampai
di mal, mereka menggantinya dengan rok mini mereka. Tapi apa mau dikata, mereka
harus begitu kalau tetap ingin mendapat penghasilan.
Kamis, 20 September 2007
Membunuh Rasa Cinta Terlarang
Lala sedang bingung,
dia sedang menghadapi dilema. Dia jatuh cinta pada seorang pria yang sudah
menikah. Pria itu adalah rekan sekantornya yang baru bergabung. Pria itu
bukanlah orang yang mempunyai kelebihan secara fisik, namun dia mempunyai bakat
dan karakter yang sangat mengagumkan yang pastinya dapat mempesona banyak
wanita. Awalnya dia mencoba untuk menepis rasa itu, namun semakin lama rasa itu
semakin berkembang, ditambah lagi
dengan sikap si pria yang sepertinya juga memberi angin. Akhirnya setelah
mengumpulkan segenap keberanian, Lala mengungkapkan perasaannya kepada si pria,
dengan segala konsekuensi yang mungkin harus ditanggungnya. Namun siapa sangka,
ternyata respon si pria justru malah membuatnya bertambah bingung, karena
ternyata pria itu mempunyai perasaan yang sama dengannya, walaupun dia sudah
mempunyai anak dan istri. Bahkan pria itu ingin agar hubungan mereka tetap
berjalan seperti adanya, tanpa salah satu harus menjauh. Bahkan dia sempat
sedikit menggertak, kalau Lala berubah sikap, dia akan keluar dari perusahaan
itu. Lalu apa yang harus diperbuat Lala?
Situasi diatas memang
bukan situasi yang mudah untuk dihadapi. Tapi kita mungkin bisa sedikit
merenungi hikmahnya. Jika anda salah satu wanita yang mungkin sedang menghadapi
masalah diatas, mungkin langkah-langkah berikut bisa dicoba:
- Yakinkan diri, apakah perasaan itu benar-benar cinta atau hanya kekaguman dan simpati yang amat sangat. Rasa kagum pada orang yang secara bakat dan karakter bisa dikatakan sempurna adalah hal yang sangat wajar. Simpati dan kagum pada orang seperti itu belum bisa disimpulkan sebagai cinta. Cinta adalah sebuah rasa yang tidak mempunyai alasan datangnya. Jika kita merasa nyaman dengan orang yang amat sangat ‘biasa’ dari segi karakter dan bakat, itu baru cinta. Jadi, jangan terlalu cepat menyimpulkan perasaan itu sebagai cinta.
- Jika anda orang yang sudah dalam usia dewasa dan sedang dalam pencarian jodoh, maka fokus pada pencarian jodoh itu saja. Untuk mencari jodoh, kita tidak bisa hanya melihat seseorang dari kesempurnaan bakat dan pribadi saja. Tapi kita juga harus bisa melihat apakah orang itu mempunyai potensi untuk membahagiakan kita lahir batin. Kondisi pria yang sudah mempunyai keluarga sangatlah tidak memungkinkan untuk itu. Karenanya cobalah sekuat mungkin untuk meredam rasa itu dengan cara menjarak darinya. Jangan pedulikan apapun gertakannya jika kita berubah. Kalau dia memang begitu berarti dia adalah orang yang berjiwa sangat kerdil.
- Pikirkan diri kita sendiri, perasaan kita, dan masa depan kita. Pikirkan betapa sakitnya jika kita harus mencintai seseorang yang jelas-jelas tidak bisa kita miliki. Jika dia masih tetap memberi kita harapan sementara keadaannya jelas-jelas tidak memungkinkan, berarti dia pria yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya. Tendang jauh-jauh pria seperti ini. Karena betapapun sempurnanya dirinya di mata kita tapi jika dia tidak bertanggung jawab, maka dia bukanlah orang yang baik. Saat-saat seperti inilah saat yang tepat bagi kita untuk menjadi manusia egois. Egois disini bukannya kita ingin merugikan orang lain, tapi justru untuk menjernihkan keadaan yang tidak baik. Kadang kita memang harus menjadi egois untuk menyelamatkan diri dari situasi yang tidak menguntungkan.
- Satu lagi hal penting yang harus kita ingat. Jangan merusak nama kita sendiri dengan cap sebagai pengganggu rumah tangga orang lain. Kalau kita tetap bertahan dengan kedekatan kita dengannya, cepat atau lambat pasangannya akan mengetahui dan kita akan mendapat predikat buruk itu. Tidak ingin kan...
Jumat, 28 Oktober 2005
Pasangan Ideal
Kadang-kadang aku merasa
diriku orang yang terlalu kaku. Dari dulu aku mempunyai tipe pasangan ideal
yang menurutku bisa membuatku nyaman. Namun sayangnya aku masih salah
menentukan tipe, karena yang selama ini menjadi fokusku adalah tampilan kasat
matanya. Karenanya suatu kali aku terjerumus...
Adalah seorang – katakanlah – muridku. Kebetulan aku
pernah mengajar di sebuah lembaga pendidikan non formal, sesuai latar belakang
pendidikanku di bidang pengajaran. Murid itu, sebutlah namanya Bara, sepertinya
memang tipe laki-laki “keukeuh” kalau
sudah punya mau. Aku sempat sedikit terganggu dengan metode pendekatannya yang
menurutku agak membabi buta. Mengantar jemputku adalah sebuah kewajiban
baginya. Padahal mulanya aku menolak mentah-mentah. Tapi dia tidak pernah kecil
hati sampai akhirnya hatiku luluh dan menerima tawaran itu. Maksudku hanya
sekali itu, untuk membuatnya senang saja. Tapi yang sekali itu malah membuatnya
menjadi berada diatas angin untuk kemudian selalu menawari jasa ojeknya setiap
pulang, bahkan mengantarku kemanapun aku ingin pergi.
Hal lain yang membuatku sedikit jengah adalah
kebiasaannya memujiku. Pujian itu kadang-kadang berlebihan. Aku sering
menanggapinya dingin, bahkan terkadang membantahnya. Karenanya suatu kali dia
bertanya kenapa sepetinya aku tidak senang kalau dia memujiku. Aku bilang bukannya
tidak suka, tapi kalau sering-sering jadi basi. Ternyata dia menyamaratakan
semua wanita. Dianggapnya semua wanita senang dipuji, apalagi yang agak
berlebih. Hmmm..., dia belum tahu siapa aku... Tapi selain semua sikap
kekanak-kanakan yang dimilikinya, ternyata aku menemukan satu sifat ngemong pada dirinya. Mungkin karena dia
anak sulung sedangkan aku anak bungsu, jadi klop lah....
Satu
hal yang harus kuakui tentang dirinya, dia adalah cowok yang punya tipe yang
selama ini aku hindari: tinggi, kurus, putih, tampang cute, gaya funky (memakai
rantai-rantai tak jelas, gelang cowok dan sebagainya), dan – ini dia yang
paling parah – lebih muda, 4 tahun pula. Yah.., memang yang namanya perasaan tidak
bisa berpatokan pada teori. Memang sih pada akhirnya hubungan kita tidak
berlanjut karena dia yang merasa “terlalu beda dan terlalu jauh” denganku. Tapi
dalam hidup, kita bisa saja bilang suka seseorang seperti ini-itu dan sebagainya,
tapi ketika hati sudah terpaut, kita bisa saja mendapat seseorang yang bertolak
belakang dari yang kita bilang.
Aku
jadi ingat cerita salah seorang dosenku dulu. Dia cerita, dulu sebelum menikah,
dia punya daftar yang sangat panjang untuk persyaratan bagi wanita yang akan
menjadi pasangan hidupnya nanti, harus begini, harus begitu, dan sebagainya.
Tapi sekarang setelah akhirnya mendapat jodoh, dari semua daftar itu, hanya
satu yang terpenuhi, dan itu adalah….WANITA… Kontan seluruh isi kelas tertawa
terbahak-bahak... Ternyata dalam daftarnya itu tertulis wanita, putih,
langsing, hidung bangir, bibir merah delima, rambut mayang terurai, suara
lembut, kulit halus, senyum indah, berlesung pipi, patuh, malu-malu kucing, dan
sebagainya, tapi nyatanya dia mendapat istri yang tipikalnya seperti ‘kucing
hitam betina yang sedang hamil’…, hahaha….
Namun
cerita konyol tapi nyata itu sangat memberiku inspirasi untuk sadar bahwa kita
boleh saja punya segudang daftar tipe pasangan ideal, tapi yang namanya hidup,
mati, rejeki dan jodoh, sudah ditetapkan dalam “kontrak hidup” kita dengan
Tuhan sebelum kita lahir, sehingga yang seperti apapun yang kita dapatkan,
berarti itulah yang kita sepakati dalam “kontrak hidup” itu.
Sabtu, 30 Oktober 2004
Keseluruhanku (sebuah puisi)
Kau lihat semuanya
Kau lihat setiap bagian
Kau lihat seluruh hidupku
Dan kau mencintai sisi gelapku
Kau gali seluruhnya
Untuk menerangi sisi gelapku
Dan kau bawa aku
Dalam kegelapanmu
(27102004)
Jumat, 23 Juli 2004
Apakah Narcissus Pantas Dicintai?
Aku punya seorang teman yang menurutku “terlalu
melebih-lebihkan kelebihannya”. Sebutlah namaya Jessica. Memang dia punya
kelebihan, itu aku akui. Namun sepertinya dia merasa tidak mempunyai
kekurangan. Hal ini membuatnya menjadi sangat kurang peka dan terlalu fokus
pada dirinya, yang menurut istilah jaman sekarang disebut narsis.
Menurut sebuah sumber yang pernah aku baca, istilah
narsisme berasal dari kata Narcissus, nama seorang pemuda tampan dalam mitos
Yunani kuno. Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya pada permukaan
air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri.
Selanjutnya ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya,
lalu ia bunuh diri dengan sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di
dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai sekarang dikenal dengan nama Narcissus.
Dari penjelasan di atas, tergambar adanya kesulitan besar berhubungan dengan
orang lain bila kita terlalu mengagumi diri sendiri. Kekaguman pada diri
sendiri yang berlebihan membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan
kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka
terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.
Kembali ke kasus Jessica. Dia berkali-kali – sangat
berkali-kali – gagal dalam kisah cintanya. Dan berhubung setiap kali ada
masalah dia selalu curhat padaku, aku jadi tahu masalahnya. Setiap kali dia
curhat, yang selalu kutangkap adalah dia tidak puas dengan sikap pasangannya.
Dia selalu merasa pasangannya kurang memperhatikan dirinya karena dia ingin
pasangannya setiap saat selalu ada untuknya. Kalau dia sms, pasangannya harus
segera membalas sms-nya itu. Kalau tidak dia uring-uringan. Kalau dia
menginginkan sesuatu, pasangannya harus selalu memenuhi keinginannya. Dan yang
lebih parah lagi, dia amat sangat haus pujian. Setiap orang yang memujinya
pasti dianggapnya baik, makanya mungkin aku dianggapnya kurang baik karna aku
justru malah lebih sering mengkritik. Dan jika orang itu laki-laki, berarti dia
– ampun deh.... – CINTA padanya.
Padahal apalah susahnya memuji orang lain kalau kita memang punya ‘maksud’
terhadap orang itu. Apalagi pujian yang diumbar pria pada wanita, sudah tentu
ujungnya kemana. Maka tak jarang temanku ini mengalami patah hati yang
disebabkan dia merasa dimanfaatkan oleh pria itu. Ya wajar..., pria-pria
pengumbar pujian kan pada umumnya punya prinsip “habis manis sepah dibuang”.
Lalu setiap kali curhat setelah hubungannya berakhir, dia
selalu berpendapat bahwa dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini, dia
layak mendapat yang lebih baik, dan sebagainya. Dia mempunyai tingkat kepuasan
yang sangat tergantung pada apa yang orang berikan kepadanya, bukan pada apa
yang dia berikan kepada orang.
Yang
lebih parahnya lagi, dia sepertinya tidak pernah belajar dari pengalamannya di
masa lalu. Suatu hari ketemu lagi dengan seorang pria, dengan sikap yang sama,
mengumbar pujian, mengatakan she’s the
best, she’s everything, she’s beautiful, she’s sexy, she’s smart, she’s fashionable, she’s great..., pokoknya any
kind of praise... Maka itu akan membuatnya melambung tinggi dan seperti
menambah kekuatannya dalam hidup. Kalau dalam film “Wishmaster” sang devil
mendapat kekuatan dari orang-orang yang mengucapkan keinginan padanya, lalu dia
kabulkan dengan mengorbankan jiwa si peminta keinginan, maka Jessica mendapat
kekuatan diri dari setiap kata yang mengandung pujian untuknya, dengan
mengorbankan perasaan orang yang memuji. Lalu jika semua pujian itu berbalik
menjadi kritik atau setidak-tidaknya peringatan kecil, maka dia merasa menjadi
orang paling merana sejagat raya.
Memang,
banyak artikel dan pendapat para ahli percintaan, bahwa untuk dapat dicintai
orang lain, lebih dulu kita harus mencintai diri sendiri. Tapi definisi
mencintai diri itu agaknya sedikit menyimpang, karena ditafsirkan banyak orang
dengan terlalu menyadari kelebihan tanpa menyadari kekurangan dan menginginkan
orang lain untuk memuji kelebihan kita itu tanpa mau diberitahu kekurangannya.
Lebih parah lagi, narsisme sepertinya sudah menjadi bagian dari gaya hidup masa
kini karena para ABG pun merasa mereka harus punya “foto narsis”, karena dengan
begitulah mereka menganggap dirinya “ada” di dunia ini. For God sake...
Mencintai
diri sendiri adalah awal dari dicintai oleh orang lain. Namun TERLALU mencintai
diri sendiri bisa menghambat seseorang untuk dicintai orang lain (terinspirasi pada Juli 2004).
Langganan:
Postingan (Atom)